Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin

Kendalikan Dirimu dari Pengaturan: Analisis Konsep Tadbir dan Tafwidh

Agama | 2026-08-04 05:05:49
Koderi, Guru Besar UIN Raden Intan Lampung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Salah satu kecenderungan manusia adalah keinginan untuk mengendalikan seluruh aspek kehidupannya. Manusia ingin memastikan masa depan, menentukan hasil usaha, mengatur rezeki, mengendalikan perjalanan hidup, bahkan memastikan keberhasilan berbagai rencana yang telah disusunnya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, manusia sering mengalami kecemasan, kegelisahan, dan kekecewaan.

Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari menjelaskan persoalan tersebut dalam salah satu hikmah terkenal dalam Al-Hikam:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

"Istirahatkan dirimu dari mengatur (segala sesuatu). Apa yang telah diurus oleh selainmu (Allah) untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusinya untuk dirimu sendiri." (Ibn 'Aṭā'illāh, 2007, hlm. 15)

Hikmah ini tidak mengajarkan kemalasan atau meninggalkan usaha. Hikmah ini mengajarkan tauhid yang mendalam, yaitu membedakan antara kewajiban manusia untuk berikhtiar dan hak Allah untuk menentukan hasil.

Memahami Makna Tadbir dan Tafwidh

Pengertian Tadbir

Secara bahasa, tadbir berarti mengatur, merencanakan, dan mempertimbangkan akibat suatu perkara.

Manusia dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan tadbir. Seorang petani merencanakan musim tanam. Seorang pedagang menyusun strategi usaha. Seorang guru menyiapkan pembelajaran. Seorang kepala keluarga mengatur kebutuhan rumah tangga.

Islam tidak melarang bentuk tadbir seperti ini.

Namun, yang dilarang adalah tadbir yang melampaui batas, yaitu ketika manusia merasa mampu memastikan hasil dan melupakan kehendak Allah.

Pengertian Tafwidh

Tafwidh berarti menyerahkan urusan kepada Allah setelah melaksanakan ikhtiar yang diperintahkan.

Allah mengabadikan ucapan seorang mukmin dalam kisah keluarga Fir'aun:

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللّٰهِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

"Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (QS. Ghafir [40]: 44)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin wajib berusaha, tetapi ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Allah Adalah Pengatur Utama Kehidupan

Hikmah Ibnu Athaillah mengingatkan manusia bahwa sebagian besar urusan hidupnya telah diatur Allah tanpa campur tangan manusia.

Manusia tidak mengatur detak jantungnya.

Manusia tidak mengatur peredaran darahnya.

Manusia tidak mengatur pertumbuhan sel tubuhnya.

Manusia tidak mengatur pergantian siang dan malam.

Manusia tidak mengatur turunnya hujan.

Allah berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

"Ingatlah, menciptakan dan mengatur urusan hanyalah hak Allah." (QS. Al-A'raf [7]: 54)

Ayat ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh hidup dalam kecemasan seolah-olah seluruh kehidupannya bergantung kepada kemampuannya sendiri.

Larangan Menentukan Hasil

Islam memerintahkan manusia untuk berusaha, tetapi Islam melarang manusia memastikan hasil.

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللّٰهُ

"Kamu tidak mampu menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya. (QS. Al-Insan [76]: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah.

Oleh sebab itu, seorang mukmin boleh merencanakan, tetapi tidak boleh meyakini bahwa rencananya pasti terwujud.

Allah juga berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللّٰهُ

"Jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu: Aku pasti melakukannya besok pagi, kecuali dengan mengatakan: Insya Allah." (QS. Al-Kahfi [18]: 23–24)

Ayat ini mendidik manusia agar tidak terjebak dalam keyakinan bahwa dirinya mampu mengendalikan masa depan.

Hubungan Tadbir dan Tawakal

Sebagian orang memahami hikmah ini sebagai ajakan meninggalkan perencanaan. Pemahaman tersebut tidak tepat.

Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya usaha dan perencanaan.

Ketika seorang Arab Badui bertanya:

أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَمْ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟

"Apakah aku melepaskan untaku lalu bertawakal, atau aku mengikatnya terlebih dahulu lalu bertawakal?"

Rasulullah ﷺ menjawab:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah." (HR. At-Tirmidzi No. 2517)

Hadis ini menunjukkan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan sebab-sebab. Tawakal berarti menggunakan sebab sambil menyadari bahwa hasilnya tetap berada di tangan Allah.

Pandangan Ulama Akhlak tentang Pengaturan dan Ketergantungan kepada Allah

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketenangan hati lahir ketika manusia tidak menggantungkan dirinya kepada sebab-sebab dunia.

Beliau berkata:

التَّوَكُّلُ عِبَارَةٌ عَنْ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung." (Al-Ghazali, 2005, Juz IV, hlm. 259)

Menurut Al-Ghazali, seseorang boleh menggunakan sebab-sebab dunia, tetapi hatinya tidak boleh bergantung kepada sebab tersebut.

Pandangan Ulama Tasawuf tentang Tafwidh

Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi menjelaskan:

التَّفْوِيضُ رَدُّ الْأُمُورِ كُلِّهَا إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى

"Tafwidh adalah mengembalikan seluruh urusan kepada Allah Ta'ala." (Al-Qusyairi, 2007, hlm. 328)

Menurut perspektif tasawuf, tafwidh merupakan maqam setelah seseorang memahami keterbatasan dirinya dan kesempurnaan pengaturan Allah.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

لَا تَخْتَرْ مَعَ اللّٰهِ شَيْئًا، فَإِنَّ اخْتِيَارَهُ لَكَ خَيْرٌ مِنِ اخْتِيَارِكَ لِنَفْسِكَ

"Jangan memilih sesuatu bersama Allah, karena pilihan Allah untukmu lebih baik daripada pilihanmu untuk dirimu sendiri." (Al-Jailani, 1994, hlm. 117)

Pernyataan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan spiritual muncul ketika seorang hamba ridha terhadap pengaturan Allah.

Rezeki dan Jaminan Allah

Banyak kecemasan manusia berasal dari persoalan rezeki.

Padahal Allah telah memberikan jaminan kepada seluruh makhluk-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا

"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya."* (QS. Hud [11]: 6)

Demikian pula Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi."*(QS. Al-A'raf [7]: 96)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa rezeki berada dalam pengaturan Allah, bukan semata-mata hasil kecerdasan manusia.

Relevansi dalam Kehidupan Modern

Masyarakat modern menghadapi tingkat kecemasan yang tinggi akibat tekanan ekonomi, persaingan karier, dan ketidakpastian masa depan.

Banyak orang menyusun berbagai rencana, tetapi kehilangan ketenangan ketika rencananya tidak berjalan sesuai harapan.

Hikmah Ibnu Athaillah menawarkan solusi spiritual yang sangat relevan. Seorang mukmin harus merencanakan dengan baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Namun, ia tidak boleh membebani dirinya dengan urusan yang telah menjadi wilayah kekuasaan Allah.

Ketika manusia memahami batas antara ikhtiar dan takdir, ia akan memperoleh ketenangan, optimisme, dan kestabilan psikologis.

Kesimpulan

Hikmah أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ mengajarkan bahwa manusia tidak boleh hidup dalam ilusi bahwa dirinya mampu mengendalikan seluruh aspek kehidupannya. Islam membolehkan bahkan menganjurkan perencanaan dan usaha. Akan tetapi, Islam melarang manusia memastikan hasil dan menggantungkan hatinya kepada perencanaan tersebut.

Al-Qur'an, hadis, dan para ulama akhlak serta tasawuf mengajarkan keseimbangan antara tadbir dan tafwidh. Seorang mukmin harus berikhtiar secara maksimal, tetapi ia wajib menyerahkan hasil kepada Allah. Ketika seseorang mampu menjalani prinsip tersebut, ia akan memperoleh ketenangan hati, kekuatan iman, dan kebahagiaan spiritual yang sejati.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image