Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image prayudisti s pandanwangi

Ketika Anak-Anak Gaza Membisu: Luka Genosida yang Mengoyak Generasi Palestina

Info Terkini | 2026-06-04 13:39:02

Tangisan biasanya menjadi bahasa pertama seorang anak ketika menghadapi rasa sakit. Namun, di Gaza hari ini, bahkan tangisan itu mulai hilang. Sebagian anak-anak Palestina tidak lagi mampu menangis, berteriak, atau mengungkapkan penderitaan yang mereka rasakan. Mereka memilih diam, bukan karena tidak ingin berbicara, melainkan karena trauma yang begitu dahsyat telah merampas kemampuan mereka untuk bersuara.

Inilah salah satu tragedi kemanusiaan paling memilukan yang sedang terjadi di Gaza. Bukan hanya rumah-rumah yang hancur, bukan hanya tubuh-tubuh yang terkoyak oleh bom, tetapi juga jiwa anak-anak yang perlahan dihancurkan. Mereka menjadi korban dari kekejaman yang berlangsung terus-menerus tanpa henti di hadapan dunia.

BBC Indonesia dalam laporannya yang terbit pada 31 Mei 2026 mengungkapkan bahwa psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyatakan setiap anak di Gaza mengalami trauma. Menurutnya, lebih dari satu juta anak telah menderita trauma berat akibat perang yang berlangsung berkepanjangan. Pada saat yang sama, sejumlah anak mengalami kondisi yang sangat mengkhawatirkan, yaitu kehilangan kemampuan berbicara setelah menyaksikan berbagai peristiwa mengerikan yang menimpa diri dan keluarga mereka.

Fakta tersebut juga diberitakan oleh Detikcom melalui BBC World pada 31 Mei 2026 dalam artikel berjudul "Pilu Anak-anak Gaza Mendadak Kehilangan Kemampuan Bicara". Kompas.com pada 30 Mei 2026 turut melaporkan bahwa trauma ekstrem membuat sebagian anak Gaza tidak lagi mampu mengeluarkan kata-kata. Mereka mengalami gangguan psikologis yang sangat berat setelah berulang kali menyaksikan ledakan, kematian anggota keluarga, kelaparan, pengungsian, dan ancaman kematian setiap saat.

Fenomena hilangnya kemampuan berbicara pada anak-anak Gaza bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ini merupakan dampak langsung dari kejahatan sistematis yang dilakukan entitas Zionis terhadap rakyat Palestina. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, Gaza terus dibombardir, diblokade, dihancurkan fasilitas publiknya, serta dijadikan tempat yang nyaris tidak layak dihuni manusia.

Ketika seorang anak menyaksikan ayahnya terbunuh, ibunya terkubur reruntuhan, rumahnya dihancurkan, sekolahnya dibom, dan kehidupannya dipenuhi ketakutan tanpa jeda, maka trauma yang muncul bukan lagi trauma biasa. Trauma itu menjadi luka mendalam yang menggerogoti mental dan kepribadian mereka. Diamnya anak-anak Gaza sesungguhnya adalah jeritan yang tidak mampu lagi keluar dari mulut mereka.

Karena itu, tragedi yang menimpa anak-anak Gaza tidak bisa dipandang semata sebagai krisis kesehatan mental. Ini adalah bagian dari skenario genosida yang lebih luas. Tujuannya bukan hanya menghancurkan fisik rakyat Palestina, tetapi juga menghancurkan masa depan mereka. Anak-anak adalah generasi penerus sebuah bangsa. Ketika anak-anak dihancurkan secara fisik dan mental, maka eksistensi bangsa tersebut juga sedang diupayakan untuk dimusnahkan.

Ironisnya, kejahatan yang berlangsung terang-terangan ini belum mampu dihentikan oleh masyarakat internasional. Berbagai lembaga dunia mengeluarkan kecaman, sidang demi sidang digelar, resolusi demi resolusi diterbitkan, tetapi pembantaian tetap berlangsung. Bantuan kemanusiaan yang sesekali masuk ke Gaza tidak mampu menghentikan hujan bom dan penderitaan yang setiap hari dirasakan rakyat Palestina.

Lebih menyakitkan lagi, sebagian penguasa negeri-negeri Muslim justru menunjukkan sikap yang jauh dari harapan umat. Alih-alih mengerahkan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk menghentikan penjajahan, mereka hanya mengeluarkan pernyataan-pernyataan diplomatis yang tidak memiliki daya tekan nyata terhadap entitas Zionis. Sebagian bahkan tetap menjalin hubungan ekonomi dan politik dengan pihak yang selama ini melakukan agresi terhadap Palestina.

Kondisi ini menunjukkan betapa umat Islam saat ini kehilangan perisai pelindung yang dahulu menjaga kehormatan dan keamanan kaum Muslimin. Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menggambarkan fungsi kepemimpinan Islam sebagai pelindung umat. Ketika institusi tersebut tidak ada, kaum Muslimin menjadi tercerai-berai dalam puluhan negara yang bergerak berdasarkan kepentingan masing-masing. Akibatnya, penderitaan Palestina berlangsung tanpa adanya kekuatan politik dan militer yang benar-benar mampu menghentikan agresi penjajah.

Padahal Islam tidak pernah membiarkan penjajahan berlangsung atas negeri kaum Muslimin. Allah Swt. berfirman:

"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?" (QS an-Nisa [4]: 75).

Ayat ini menunjukkan kewajiban kaum Muslimin untuk membela mereka yang tertindas. Anak-anak Gaza yang kehilangan keluarga, kehilangan rumah, bahkan kehilangan kemampuan berbicara adalah bagian dari kaum lemah yang harus dibela dan diselamatkan.

Karena itu, solusi bagi penderitaan anak-anak Palestina tidak cukup hanya dengan terapi psikologis atau bantuan kemanusiaan. Semua itu memang penting, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Selama penjajahan masih berlangsung, selama bom masih dijatuhkan, dan selama rakyat Palestina masih hidup dalam ancaman genosida, maka trauma-trauma baru akan terus tercipta.

Yang dibutuhkan adalah pembebasan Palestina dari penjajahan. Kejahatan entitas Zionis harus dihentikan secara nyata. Dalam pandangan Islam, penjajahan tidak dapat diakhiri hanya dengan kecaman moral, tetapi harus dilawan dengan kekuatan yang mampu mematahkan agresi tersebut. Karena itulah jihad fi sabilillah menjadi mekanisme syar'i untuk membebaskan negeri-negeri kaum Muslimin yang dijajah.

Pelaksanaan jihad tersebut memerlukan institusi negara yang memiliki kekuatan politik dan militer untuk melindungi umat. Dalam sejarah Islam, institusi itu adalah Khilafah yang mempersatukan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan. Dengan kekuatan umat yang bersatu, pembelaan terhadap Palestina tidak akan berhenti pada pengiriman bantuan atau kutukan diplomatik semata, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata untuk mengakhiri penjajahan.

Derita sunyi anak-anak Gaza seharusnya mengguncang hati setiap Muslim. Diam mereka bukan tanda bahwa penderitaan telah berakhir, melainkan bukti bahwa luka yang mereka rasakan telah melampaui batas kemampuan manusia untuk mengungkapkannya. Karena itu, kesadaran untuk memperjuangkan persatuan umat dan tegaknya institusi yang mampu melindungi kaum Muslimin menjadi perkara yang sangat penting.

Anak-anak Gaza tidak membutuhkan belas kasihan dunia semata. Mereka membutuhkan kebebasan. Mereka membutuhkan keamanan. Mereka membutuhkan masa depan. Dan semua itu hanya dapat terwujud apabila penjajahan berakhir serta Palestina benar-benar terbebaskan dari cengkeraman kekuatan yang selama ini menghancurkan tanah, kehidupan, dan generasi mereka.

Seorang anak perempuan di antara reruntuhan bangunan di Gaza.

 

  • BBC News Mundo
  • Telah diterbitkan 29 Mei 2026

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image