Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yanuar Risky Pratama

Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Budaya Batik sebagai Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Era Globalisasi

Humaniora | 2026-06-04 13:24:34

Ada semacam ironi yang jarang dibicarakan: Indonesia memiliki salah satu warisan tekstil paling kaya di dunia, namun generasi yang lahir di era paling terhubung sepanjang sejarah justru makin asing dengan warisan itu. Batik yang motifnya menyimpan filsafat tentang kehidupan, alam, dan hubungan antarmanusia kini lebih sering diasosiasikan dengan seragam sekolah atau baju kondangan ketimbang ekspresi identitas yang hidup. Ini bukan semata soal tren atau selera, melainkan soal bagaimana sebuah bangsa memperlakukan sesuatu yang pernah dianggap berharga.

Batik bukan barang biasa. Sejak 2009, UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia bukan penghargaan seremonial, melainkan pengakuan atas kedalaman nilai yang terkandung di dalamnya. Setiap motif adalah narasi: Parang melambangkan keteguhan, Kawung menggambarkan keseimbangan, sementara Mega Mendung memperlihatkan bagaimana akulturasi budaya bisa menghasilkan keindahan baru. Sayangnya, narasi-narasi ini nyaris tidak pernah sampai ke generasi muda bukan karena mereka tidak mau tahu, tetapi karena hampir tidak ada yang menyampaikannya dengan cara yang relevan.

Untuk memahami mengapa minat generasi muda terhadap batik memudar, perlu dilihat lebih dalam dari sekadar pengaruh budaya asing. Platform seperti TikTok dan Instagram bekerja dengan sistem rekomendasi yang secara aktif membentuk selera penggunanya. Ketika seseorang mulai mengonsumsi konten fashion luar negeri, algoritma akan terus menyuguhi konten serupa. Dalam ekosistem seperti ini, batik tidak kalah nilai, tetapi kalah distribusi. Sementara konten K-Pop diproduksi dan disebarkan secara masif, konten tentang batik masih sering tampil dalam format yang kering lebih mirip materi pelajaran daripada sesuatu yang membuat orang berhenti menggulir layar.

Di tengah situasi itu, ada tanda-tanda yang cukup menggembirakan. Mulai banyak anak muda yang menemukan cara baru untuk membuat batik relevan bukan dengan memaksanya masuk ke konteks yang tidak cocok, tetapi dengan benar-benar memahami nilainya lalu menerjemahkannya ke bahasa yang bisa diterima generasi sekarang. Ada yang membuat konten tentang cara mix and match batik dengan pakaian kasual, ada yang menceritakan kisah di balik motif-motif batik dengan cara yang ringan, ada pula yang membantu pengrajin lokal membuka toko online. Yang mereka lakukan bukan sekadar promosi mereka membangun jembatan antara tradisi yang dianggap tua dengan selera yang dianggap muda. Hasilnya menepis anggapan bahwa tradisi dan modernitas selalu bertentangan batik tidak harus memilih antara tetap tradisional atau menjadi modern ia bisa menjadi keduanya sekaligus.

Membicarakan pelestarian batik tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan yang lebih besar: identitas macam apa yang ingin kita bangun sebagai bangsa Dalam kerangka Pancasila, jawabannya sudah cukup jelas. Sila Ketiga menemukan ekspresinya yang paling konkret dalam batik. Berbeda dari banyak produk budaya yang sangat terikat pada satu suku atau daerah, batik telah menjadi milik bersama seluruh masyarakat Indonesia. Di negara dengan lebih dari tiga ratus kelompok etnis, keberadaan simbol bersama seperti batik bukan hal kecil ia adalah salah satu titik temu yang langka dalam keberagaman yang luar biasa. Lebih dari itu, ketika seseorang memilih membeli batik dari pengrajin lokal, ia sedang berpihak pada keadilan ekonomi sebuah resonansi nyata dengan Sila Kelima.

Satu hal yang perlu diluruskan: beban pelestarian tidak seharusnya hanya ditanggung generasi muda. Sekolah perlu mengajarkan batik secara lebih mendalam bukan hanya motifnya, tetapi filosofi dan sejarah di baliknya. Ketika siswa memahami bahwa sehelai batik tulis bisa membutuhkan berbulan-bulan untuk diselesaikan, cara pandang mereka pun akan berubah. Pemerintah perlu mendukung pengrajin dan UMKM batik agar bisa bertahan secara ekonomi, karena ketika pengrajin tidak bisa hidup layak dari pekerjaannya, tidak ada kekuatan budaya apapun yang akan cukup. Masyarakat umum pun bisa berkontribusi cukup dengan membiasakan memakai batik dalam keseharian bukan hanya di acara formal.

Globalisasi tidak perlu dihentikan. Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk tetap tahu siapa kita di tengah semua itu. Generasi muda yang menggunakan batik dengan bangga, yang membuat konten tentang batik dengan kreativitas, yang membeli batik dari pengrajin lokal dengan penuh kesadaran mereka tidak sedang nostalgia. Mereka sedang membuat pilihan tentang identitas dan masa depan. Itulah makna sesungguhnya dari nilai-nilai Pancasila: bukan sesuatu yang dihafalkan dalam ujian, melainkan sesuatu yang diwujudkan dalam tindakan sekecil memilih kain yang dikenakan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image