Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kamila saida

Ghosting: Sekadar Menghilang atau Bentuk Perlindungan Diri?

Edukasi | 2026-06-02 21:57:35

“Ghosting: Sekadar Menghilang atau Bentuk Perlindungan Diri?”

Oleh: Kamila Saida Fadli, Dr. Rachmat Mulyono M.Si.,Psikolog.

Sumber foto: Pexels.com

Di era digital seperti sekarang, komunikasi terasa semakin mudah dilakukan. Seseorang bisa mengenal orang baru hanya melalui media sosial, aplikasi percakapan, atau permainan daring. Hubungan juga dapat terjalin dengan cepat karena manusia semakin mudah bertukar cerita dan berinteraksi tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering terjadi dalam hubungan sosial, yaitu ghosting.

Ghosting adalah kondisi ketika seseorang tiba-tiba menghilang dan memutus komunikasi tanpa penjelasan yang jelas. Pesan tidak lagi dibalas, telepon diabaikan, bahkan akun media sosial dapat diblokir begitu saja. Fenomena ini paling sering ditemukan dalam hubungan percintaan, tetapi sebenarnya ghosting juga bisa terjadi dalam pertemanan, hubungan kerja, bahkan hubungan sosial sehari-hari.

Awalnya semuanya terasa biasa saja. Obrolan berjalan lancar, komunikasi terasa dekat, bahkan seseorang mulai terbiasa menjadikan orang itu bagian dari kesehariannya. Namun tiba-tiba semuanya berubah. Balasan pesan menjadi singkat, respons semakin jarang, lalu perlahan hilang sepenuhnya tanpa penjelasan. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada alasan yang jelas. Hanya diam dan menghilang.

Bagi banyak orang, ghosting terasa lebih menyakitkan dibanding pertengkaran atau putus hubungan biasa. Sebab ketika seseorang pergi tanpa penjelasan, yang tertinggal bukan hanya rasa kehilangan, tetapi juga banyak pertanyaan yang terus berputar di kepala.

“Aku Salah Apa?”

Situasi seperti ini sering membuat seseorang bingung dan mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

“Aku salah ngomong ya?” “Apa dia marah?” “Apa aku terlalu berlebihan?” “Atau sebenarnya dia memang sudah tidak peduli lagi?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul berulang kali karena tidak adanya penjelasan yang jelas dari orang yang menghilang. Banyak orang akhirnya mencoba mengingat kembali percakapan terakhir, mencari kesalahan kecil yang mungkin sebenarnya tidak pernah ada.

Tidak sedikit pula yang akhirnya menyalahkan dirinya sendiri. Mereka mulai merasa kurang menarik, kurang baik, atau merasa dirinya tidak cukup berharga untuk dipertahankan. Padahal, belum tentu semua hubungan yang berakhir secara tiba-tiba terjadi karena salah satu pihak melakukan kesalahan.

Inilah yang membuat ghosting sering meninggalkan luka emosional yang cukup besar. Seseorang bukan hanya kehilangan hubungan, tetapi juga kehilangan kejelasan. Tidak adanya penjelasan membuat pikiran terus dipenuhi asumsi dan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu benar.

Berbeda dengan perpisahan yang disampaikan secara langsung, ghosting meninggalkan ruang kosong yang sering kali dipenuhi overthinking.

Kenapa Orang Memilih Menghilang?

Sekilas, ghosting memang terlihat seperti tindakan yang egois dan tidak dewasa. Banyak orang menganggap pelaku ghosting hanya ingin lari dari tanggung jawab atau tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Namun, jika dilihat lebih dalam, alasan seseorang melakukan ghosting ternyata bisa jauh lebih kompleks.

Ada orang yang sebenarnya ingin menjelaskan semuanya, tetapi tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan tersebut. Ada yang merasa takut menghadapi konflik secara langsung karena tidak nyaman dengan situasi emosional. Ada pula yang khawatir akan menyakiti perasaan orang lain jika berkata jujur. Akhirnya, menghilang dianggap sebagai jalan tercepat untuk keluar dari situasi yang terasa menekan.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat dikaitkan dengan defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Mekanisme pertahanan diri merupakan cara seseorang melindungi dirinya dari rasa cemas, takut, atau tekanan emosional tertentu.

Ibarat seseorang yang memilih menutup pintu kamar ketika sedang merasa kewalahan menghadapi masalah, beberapa orang juga memilih “menghilang” ketika merasa tidak mampu menghadapi konflik secara emosional.

Bagi sebagian individu, menghindar terasa lebih aman dibanding harus menghadapi percakapan yang mungkin memicu rasa bersalah, sedih, atau tidak nyaman. Meskipun begitu, perlindungan diri yang dilakukan dengan cara ghosting tetap dapat meninggalkan dampak emosional bagi orang lain.

Tidak Semua Orang Nyaman dengan Kedekatan Emosional

Menariknya, tidak semua orang memandang hubungan dengan cara yang sama. Ada individu yang mudah merasa nyaman ketika dekat dengan orang lain, tetapi ada juga yang justru merasa takut ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat secara emosional.

Hal ini dijelaskan dalam Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby. Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman hubungan emosional seseorang sejak kecil dapat memengaruhi cara dirinya membangun hubungan ketika dewasa.

Individu dengan avoidant attachment style biasanya cenderung menjaga jarak secara emosional. Ketika hubungan mulai terasa serius atau terlalu dekat, mereka bisa merasa tidak nyaman, tertekan, atau takut kehilangan kebebasan. Akibatnya, mereka lebih mudah menarik diri dibanding harus menghadapi percakapan emosional secara langsung.

Tidak semua pelaku ghosting benar-benar berniat menyakiti orang lain. Ada juga yang sebenarnya merasa bingung menghadapi emosinya sendiri. Mereka tidak tahu bagaimana cara menyampaikan perasaan secara sehat sehingga memilih diam dan menghilang begitu saja.

Namun sayangnya, keputusan untuk menghindar sering kali justru membuat orang lain terluka lebih dalam.

Ghosting dan Psikodiagnostik: Melihat yang Tidak Terlihat

Fenomena ghosting juga dapat dipahami melalui kajian psikodiagnostik. Dalam psikologi, psikodiagnostik merupakan proses pemeriksaan untuk memahami kondisi mental, emosi, kepribadian, dan perilaku individu melalui metode ilmiah seperti wawancara, observasi, serta tes psikologi.

Melalui proses psikodiagnostik, perilaku seseorang tidak dinilai hanya dari satu tindakan saja. Psikolog biasanya akan melihat pola perilaku individu secara keseluruhan, termasuk bagaimana seseorang menghadapi konflik, membangun hubungan sosial, mengelola emosi, dan merespons tekanan dalam kehidupannya.

Dari sudut pandang psikodiagnostik, ghosting dapat menjadi petunjuk adanya kesulitan emosional tertentu. Misalnya, seseorang mungkin memiliki kecemasan sosial, kesulitan mengungkapkan emosi, kemampuan komunikasi interpersonal yang rendah, atau kecenderungan menghindari konflik.

Ada juga individu yang sejak lama terbiasa memendam perasaannya sendiri. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka sulit mengekspresikan emosi secara terbuka. Lama-kelamaan, diam menjadi cara paling nyaman untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.

Hal inilah yang membuat psikologi tidak bisa langsung memberi label seseorang hanya berdasarkan perilaku ghosting saja. Perilaku manusia sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor psikologis yang lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan.

Psikodiagnostik membantu memahami bahwa di balik perilaku seseorang, sering kali terdapat kondisi emosional, pengalaman hidup, dan pola hubungan yang membentuk cara individu menghadapi dunia sosialnya.

Saat yang Ditunggu Hanya Sebuah Penjelasan

Bagi korban ghosting, hal yang paling menyakitkan sering kali bukan sekadar kehilangan seseorang, melainkan kehilangan penjelasan.

Kadang seseorang sebenarnya tidak meminta hubungan kembali seperti semula. Mereka hanya ingin tahu alasan kenapa semuanya berubah begitu tiba-tiba. Satu kalimat sederhana seperti “aku sudah tidak nyaman,” “aku ingin sendiri dulu,” atau “aku rasa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan” mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi sebagian orang, penjelasan kecil seperti itu bisa jauh lebih menenangkan dibanding menghilang tanpa kabar sama sekali.

Sayangnya, budaya komunikasi digital sekarang membuat banyak orang semakin terbiasa menghindari percakapan yang tidak nyaman. Ketika hubungan mulai terasa rumit atau melelahkan, menghilang dianggap sebagai pilihan tercepat dan paling praktis.

Padahal, bagi orang yang ditinggalkan, ghosting dapat meninggalkan dampak emosional yang cukup besar. Tidak sedikit orang yang menjadi lebih sulit percaya kepada orang lain karena takut mengalami hal serupa lagi. Ada yang menjadi lebih cemas ketika komunikasi mulai berubah, ada pula yang terus merasa takut ditinggalkan.

Menurut beberapa kajian psikologi, ghosting dapat memunculkan rasa penolakan sosial yang cukup kuat karena manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai dalam hubungan sosial.

Menghindar Memang Mudah, Tapi Tidak Selalu Menyelesaikan

Menghilang memang terasa lebih mudah dibanding harus menghadapi percakapan yang rumit dan emosional. Namun, tidak semua hal bisa selesai hanya dengan diam dan pergi begitu saja.

Pada akhirnya, memahami ghosting bukan berarti membenarkan perilakunya. Namun, psikologi membantu kita melihat bahwa setiap perilaku manusia sering kali dipengaruhi oleh pengalaman emosional, pola hubungan, dan cara individu menghadapi tekanan psikologis.

Belajar menyampaikan perasaan dengan jujur memang tidak mudah. Akan tetapi, komunikasi yang sehat tetap menjadi bagian penting dalam hubungan interpersonal. Mengungkapkan apa yang dirasakan, memberikan penjelasan, dan menghadapi konflik secara dewasa mungkin terasa tidak nyaman, tetapi sering kali jauh lebih baik dibanding meninggalkan seseorang dalam kebingungan.

Sebab terkadang, satu penjelasan sederhana bisa jauh lebih menenangkan daripada sekadar menghilang tanpa kabar.

DAFTAR PUSTAKA

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image