Kita Semua Sedang Menulis Iklan tentang Diri Sendiri
Gaya Hidup | 2026-06-03 07:48:56Oleh Wuri Syaputri
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Ada satu istilah yang semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir, terutama di media sosial dan dunia kerja, yaitu personal branding. Istilah ini muncul dalam seminar, pelatihan karier, konten media sosial, hingga percakapan sehari-hari. Menariknya, semakin banyak orang membicarakan personal branding, semakin banyak pula yang tanpa sadar sedang melakukannya melalui bahasa.
Ketika seseorang menulis "pembelajar seumur hidup", "pekerja kreatif", "penikmat kopi", atau "sedang bertumbuh" pada profil media sosialnya, ia sebenarnya sedang memilih kata-kata yang ingin mewakili dirinya. Bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia menjadi alat presentasi diri.
Fenomena ini menarik jika dilihat dari sudut pandang linguistik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan informasi. Namun, dalam ruang digital, bahasa juga berfungsi sebagai penanda identitas. Kata-kata yang dipilih seseorang sering kali lebih banyak berbicara tentang dirinya daripada informasi yang disampaikan.
Sosiolog Erving Goffman (1959) dalam The Presentation of Self in Everyday Life menjelaskan bahwa kehidupan sosial dapat dipahami sebagai sebuah pertunjukan. Setiap individu berusaha mengelola kesan yang muncul di hadapan orang lain. Meskipun karya Goffman lahir jauh sebelum media sosial, gagasannya terasa semakin relevan hari ini. Media sosial memperluas panggung itu hingga ke layar telepon genggam.
Bahasa menjadi kostum yang dikenakan dalam pertunjukan tersebut.
Lihat saja bagaimana banyak orang kini memilih kata-kata tertentu untuk mendeskripsikan dirinya. Kata produktif, konsisten, kreatif, bertumbuh, atau berdaya muncul berulang kali dalam berbagai unggahan. Kata-kata tersebut tidak dipilih secara acak. Mereka membawa citra tertentu yang ingin ditampilkan kepada audiens.
Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa selalu berkaitan dengan identitas sosial. Bucholtz dan Hall (2005) menjelaskan bahwa identitas tidak dimiliki begitu saja, melainkan dibangun melalui praktik komunikasi sehari-hari. Dengan kata lain, identitas tidak hanya dimiliki seseorang, tetapi juga terus diproduksi melalui bahasa yang digunakan.
Media sosial mempercepat proses itu.
Jika dahulu identitas seseorang dikenal melalui interaksi langsung yang berlangsung lama, kini kesan pertama sering dibentuk hanya dalam beberapa detik. Profil singkat, unggahan terbaru, atau satu kalimat pada bio dapat membentuk persepsi yang cukup kuat.
Karena itu, pilihan kata menjadi semakin penting.
Menariknya, bahasa personal branding cenderung menggunakan kata-kata yang positif tetapi cukup umum. Banyak orang memilih istilah yang fleksibel dan sulit diperdebatkan. Misalnya, siapa yang akan menolak disebut sebagai pribadi yang terus belajar atau sedang berkembang?
Bahasa semacam ini menciptakan ruang aman. Ia terdengar optimistis, modern, dan mudah diterima berbagai kalangan. Namun, justru karena terlalu sering digunakan, maknanya kadang menjadi kabur.
Kata bertumbuh, misalnya, sangat populer dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, bertumbuh dalam hal apa? Keterampilan? Karier? Relasi? Pertanyaan itu sering kali tidak dijawab. Kata tersebut bekerja lebih sebagai simbol daripada penjelasan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa di media sosial tidak selalu bertujuan memberikan informasi yang rinci. Sering kali, bahasa digunakan untuk menciptakan kesan.
Dalam linguistik, hal ini berkaitan dengan fungsi interpersonal bahasa yang dijelaskan oleh Halliday (1978). Bahasa tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun hubungan sosial dan menampilkan posisi penutur di hadapan orang lain. Saat seseorang memilih kata tertentu untuk menggambarkan dirinya, ia sedang bernegosiasi dengan cara pandang audiens.
Namun, menariknya, praktik ini tidak hanya terjadi pada individu. Banyak organisasi, komunitas, bahkan institusi pendidikan juga melakukan hal yang sama. Mereka memilih kata-kata seperti inovatif, adaptif, kolaboratif, atau berkelanjutan untuk membangun citra tertentu.
Bahasa menjadi alat branding yang sangat efektif karena murah, mudah disebarkan, dan dapat menjangkau banyak orang sekaligus.
Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat digital semakin sadar akan kekuatan kata. Satu istilah yang tepat dapat membentuk kesan yang bertahan lama. Sebaliknya, pilihan kata yang kurang sesuai dapat mengubah cara orang memandang seseorang.
Hal ini tidak berarti bahwa personal branding adalah sesuatu yang dibuat-buat. Dalam banyak kasus, ia merupakan bagian alami dari kehidupan sosial. Setiap orang selalu berusaha menunjukkan sisi terbaik dirinya. Yang berubah hanyalah medianya.
Jika dahulu kesan dibangun melalui percakapan langsung, kini ia dibangun melalui unggahan, caption, bio, dan komentar.
Pada akhirnya, maraknya istilah personal branding menunjukkan bahwa bahasa memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi. Bahasa membantu kita menjelaskan siapa diri kita, bagaimana kita ingin dilihat, dan posisi apa yang ingin kita tempati di tengah masyarakat.
Di era media sosial, setiap kata adalah pilihan identitas.
Dan mungkin, sebelum bertanya bagaimana orang lain melihat kita, ada baiknya kita bertanya lebih dulu: kata-kata apa yang selama ini kita pilih untuk menggambarkan diri sendiri?
Daftar Pustaka (APA)
Bucholtz, M., & Hall, K. (2005). Identity and interaction: A sociocultural linguistic approach. Discourse Studies, 7(4-5), 585-614.
Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. New York: Doubleday.
Halliday, M. A. K. (1978). Language as social semiotic: The social interpretation of language and meaning. London: Edward Arnold.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
