Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rosyda Arahman

Terjebak Ruang Pamer Medsos: Saat validasi Digital Menguras Mental Mahasiswa

Lifestyle | 2026-06-02 20:11:41

Oleh: Rosyda Arahman

(Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Coba sesekali perhatikan meja-meja dikantin kampus atau warkop akhir-akhir ini. Pemandangannya hampir selalu sama dengan agak ironis. Ada sekelompok mahasiswa duduk melingkar di satu meja, tapi suasana sunyi senyap. Bukannya sibuk mengobrol seru atau mendiskusikan tugasnya tapi justru mata semua orang malah kompak tertuju ke layar handphone masing-masing. Jari-jari mereka sibuk scrolling tanpa henti di Instagram, tiktok, dan memang secara fisik kita sedang nongkrong bareng, tapi pikiran kita sebenarnya lagi kelayapan di dunia maya, sibuk mengintip “kehidupan sempurna” yang dipamerkan orang lain.

Kebiasaan yang awalnya cuma buat membunuh waktu luang di sela- sela jam kuliah ini, lama -lama jadi boomerang yang menyerang mental kita sendiri. Masalahnya mulai muncul waktu apa yang kita lihat ditimeline bikin hati rasanya gundah dan cemas. Jujur saja, pasti ada perasaaan mengganjal atau sedikit minder waktu melihat teman seangkatan mengunggah foto almamater kampus top lah, pamer piala perlombaan atau sekedar nongkrong dikafe yang aestetik. Nah disinilah sindrom FOMO (Fear of Missing Out) mulai bekerja. Muncul ketakutan aneh kalau hidup kita cuma akan jalan ditempat, sementara orang lain sudah lari jauh didepan meninggalkan kita.

Sadar atau tidak,kita itu seperti terseret ke dalam kompetisi gaib untuk berburu validasi digital. Standar kebahagian atau kesuksesan seurang mahasiswa zaman sekarang sering kali di persempit Cuma sebatas angka medsos. Mulai dari berapa jumlah likes yang didapat berapa, seberapa orang banyak yang melihat stories, atau juga seberapa ramai kolom komentar diisi pujian. Dan parahnya, kalau unggahan kita lagi sepi respons, tidak sedikit dari kita yang langsung merasa insecure, mendadak mempertanyakan kualitas dirinya, bahkan sampai buru-buru menghapus postingan tersebut karna dianggap “gagal” menarik perhatian publik.

Padahal kalau mau dipikir-pikir lagi pakai logika, media social itu tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara yang sudah disaring ketat, Jadi apa yang lewat di timeline kita itu Cuma satu persen bagian terbaik dari hidup seseorang atau kilasan pencapaian dan senyum manisnya saja. Kita sering lupa kalau di balik satu foto aestetik atau pengumuman keluluasan yang keren itu, ada Sembilan puluh Sembilan persen yang berdarah-darah, tumpukan kegagalan, dan rasa Lelah luar biasa yang sengaja di sembunyikan dari kamera, jadi, membandingkan proses hidup kita yang masih berantakan dengan hasil akhir orang lain yang sudah di kasih filter jelas sangat tidak adil.

Dampak dari kebiasaan haus validasi ini nyata sekali dan dampaknya sangat melelahkan secara psikologis. Energi kita habis terkuras Cuma untuk memikirkan penilaian orang lain di dunia maya, sampai-sampai focus utama kita di dunia nyata berantakan. Tugas kuliah sering kali terbengkalai karena kensentrasi gampang terpecah, produktivitas menurun karna waktu habis dipakai untuk membanding- bandingkan diri dan puncaknya kita jadi lupa caranya bersyukur atas pencapaian- pencapaian kecil yang sebenarnya sudah susah payah kita raih dengan keringat sendiri.

Jadi sebagai mahasiswa, kita harus mulai berani mengambil jarak dan membatasi diri dari toxicnya dunia digital. Sudah waktunya sadar kalau nilai diri kita ini sama sekali tidak di tentukan oleh algoritma medsos atau jempol para followers, hidup ini bukan hanya perlombaan lari yang rutenya diatur oleh postingan orang lain. Sesekali, matikan layar handphonemu, tata Kembali fokusmu didunia nyata, dan mulailah merayakan setiap proses belajarmu sendiri tanpa perlu sibuk mencari validasi dari siapapun.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image