Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Amanda Septi Mardatilla

Membongkar Ketimpangan Pendidikan dalam Student Hidjo

Sastra | 2026-05-31 17:39:47

Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo merupakan kritik tajam terhadap sistem pendidikan pada masa kolonial yang penuh ketimpangan dan tidak berpihak pada kaum pribumi. Melalui tokoh Hidjo, pembaca diajak melihat bagaimana pendidikan Barat yang seharusnya menjadi sarana kemajuan justru berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang mempertahankan dominasi kolonial. Hidjo sebagai pelajar pribumi mengalami perubahan cara pandang, tetapi perubahan itu tidak sepenuhnya membebaskannya dari struktur ketidakadilan yang membatasi ruang geraknya. Ia menjadi simbol kaum terpelajar yang berada di antara harapan kemajuan dan realitas ketidaksetaraan yang terus mengikat.

www.instagram.com/arumdump

Dalam perjalanan pendidikannya, Hidjo diperlihatkan sebagai sosok yang mulai mengenal nilai-nilai modernitas Barat seperti rasionalitas, disiplin, dan gaya hidup Eropa yang dianggap lebih maju oleh sistem kolonial. Namun, pengenalan terhadap nilai-nilai tersebut tidak serta-merta mengangkat derajatnya sebagai pribumi, karena struktur sosial kolonial tetap menempatkan orang Eropa di posisi paling tinggi. Hal ini menciptakan kesenjangan yang jelas antara pribumi terpelajar dan penjajah, di mana pendidikan tidak menghapus batas, tetapi justru mempertegasnya. Hidjo pun mulai menyadari bahwa ilmu yang ia peroleh tidak otomatis mengubah status sosialnya dalam masyarakat kolonial.

Ketimpangan pendidikan dalam novel ini juga terlihat dari cara sistem kolonial membentuk pola pikir para pelajar pribumi agar tetap berada dalam kendali kekuasaan. Kurikulum, bahasa pengantar, dan budaya sekolah semuanya diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai Barat sebagai standar utama, sementara identitas lokal perlahan dipinggirkan. Akibatnya, para pelajar seperti Hidjo mengalami keterpecahan identitas karena mereka tidak sepenuhnya diterima dalam dunia Eropa, tetapi juga mulai terasing dari lingkungan asalnya sendiri. Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan kolonial bukanlah ruang netral, melainkan sarana reproduksi kekuasaan yang halus namun efektif.

Lebih jauh lagi, Mas Marco Kartodikromo menampilkan bagaimana pendidikan menciptakan ilusi mobilitas sosial bagi kaum pribumi. Banyak tokoh dalam cerita yang percaya bahwa dengan bersekolah di lembaga pendidikan Barat, mereka akan memperoleh kehidupan yang lebih baik dan status sosial yang lebih tinggi. Namun kenyataannya, sistem kolonial tetap menjaga batas yang tegas antara penjajah dan yang dijajah, sehingga pendidikan tidak benar-benar menghapus diskriminasi. Hidjo menjadi contoh nyata bagaimana harapan tersebut sering kali berakhir pada kesadaran pahit bahwa pendidikan tidak selalu sejalan dengan keadilan.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Student Hidjo memperlihatkan bahwa ketimpangan pendidikan tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga ideologis. Pendidikan digunakan untuk membentuk cara berpikir tertentu yang sesuai dengan kepentingan kolonial, sehingga kaum pribumi tanpa sadar menerima posisi inferior mereka. Proses ini berlangsung secara halus melalui institusi sekolah yang tampak modern dan teratur, tetapi sebenarnya menyimpan ketidakadilan yang mendalam. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran yang dikendalikan oleh kekuasaan.

Tokoh Hidjo sendiri mengalami konflik batin yang cukup kompleks akibat situasi tersebut. Di satu sisi, ia mengagumi kemajuan dan keteraturan yang ditawarkan pendidikan Barat, tetapi di sisi lain ia mulai merasakan ketidakadilan yang melekat dalam sistem tersebut. Ia berada dalam posisi yang serba sulit karena tidak sepenuhnya bisa kembali ke identitas lama, namun juga tidak sepenuhnya diterima dalam dunia baru yang ia masuki. Konflik ini mencerminkan dampak psikologis dari ketimpangan pendidikan yang tidak hanya memengaruhi status sosial, tetapi juga jati diri individu.

Ketika Hidjo semakin terlibat dalam lingkungan terpelajar, ia mulai melihat bahwa banyak teman sekelasnya juga mengalami kebingungan identitas yang serupa. Mereka semua terjebak dalam sistem yang mengajarkan standar kehidupan Barat sebagai ukuran kemajuan, tetapi tidak memberikan ruang bagi pengakuan terhadap identitas lokal. Hal ini menciptakan generasi terpelajar yang tercerabut dari akar budaya sendiri namun tetap tidak mendapatkan tempat yang setara dalam struktur kolonial. Kondisi ini memperkuat kritik bahwa pendidikan pada masa itu lebih bersifat selektif dan eksklusif daripada inklusif.

Mas Marco Kartodikromo melalui novel ini juga secara halus menunjukkan bahwa ketimpangan pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam relasi sosial sehari-hari. Para pribumi terpelajar sering dipandang berbeda oleh masyarakatnya sendiri, seolah-olah mereka telah menjadi bagian dari dunia yang asing. Sementara itu, di mata orang Eropa, mereka tetap tidak pernah dianggap setara meskipun telah menguasai ilmu yang sama. Posisi serba tanggung ini menjadikan pendidikan sebagai sumber alienasi sosial yang mendalam.

Dalam perkembangan cerita, semakin jelas bahwa pendidikan dalam Student Hidjo tidak mampu menjadi jembatan kesetaraan antara penjajah dan yang dijajah. Sebaliknya, ia justru memperkuat struktur hierarki yang sudah ada dengan cara yang lebih halus dan terdidik. Hidjo mulai menyadari bahwa sistem yang ia jalani bukanlah sistem yang netral, melainkan sistem yang dirancang untuk mempertahankan kekuasaan tertentu. Kesadaran ini menjadi titik penting dalam perjalanan intelektualnya sebagai seorang pelajar pribumi.

Novel ini juga menyinggung bagaimana bahasa menjadi salah satu alat ketimpangan pendidikan yang sangat kuat. Penggunaan bahasa Belanda sebagai bahasa utama dalam pendidikan membuat banyak pribumi mengalami kesulitan akses dan sekaligus memperkuat dominasi budaya kolonial. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol kekuasaan yang menentukan siapa yang dianggap “terdidik” dan siapa yang tidak. Dalam hal ini, pendidikan menjadi ruang eksklusif yang hanya dapat diakses oleh segelintir orang.

Selain itu, struktur sosial kolonial yang melingkupi pendidikan juga memperlihatkan bahwa akses terhadap pendidikan tidak merata. Hanya kelompok tertentu dari pribumi yang dapat menikmati pendidikan Barat, sementara mayoritas lainnya tetap berada dalam keterbelakangan. Ketidakmerataan ini memperkuat jurang sosial yang sudah ada dan menciptakan stratifikasi baru di dalam masyarakat pribumi sendiri. Dengan demikian, pendidikan justru memperluas ketimpangan alih-alih menguranginya.

Pada akhirnya, Student Hidjo menunjukkan bahwa pendidikan dalam konteks kolonial bukanlah alat pembebasan, melainkan bagian dari sistem kekuasaan yang kompleks. Hidjo sebagai tokoh utama menjadi representasi dari generasi yang terjebak dalam janji kemajuan yang tidak sepenuhnya nyata. Ia mengalami bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjadi pedang bermata dua yang di satu sisi membuka wawasan, tetapi di sisi lain membatasi kebebasan. Novel ini menegaskan bahwa tanpa keadilan struktural, pendidikan hanya akan menjadi sarana reproduksi ketimpangan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image