Psikologi Komunikasi Dakwah: Ketika Keramahan Menjadi Jalan Hidayah
Agama | 2026-05-28 00:10:37
Psikologi Komunikasi Dakwah: Ketika Keramahan Menjadi Jalan Hidayah
Oleh: Umrotul Fadilah Arofah & M. Nur Fajri
Di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat, cara masyarakat menerima dakwah juga ikut berubah. Dahulu dakwah identik dengan mimbar masjid, pengajian kampung, atau ceramah formal yang penuh jarak antara penceramah dan jamaah. Namun sekarang, dakwah hadir di layar ponsel, masuk ke beranda TikTok, Instagram, YouTube, bahkan muncul di tengah obrolan santai di warung kopi. Perubahan ini membuat para da’i harus memahami satu hal penting: masyarakat modern bukan hanya membutuhkan isi dakwah yang benar, tetapi juga cara penyampaian yang menyentuh hati.
Tidak sedikit orang yang sebenarnya ingin belajar agama, tetapi merasa takut terlebih dahulu karena dakwah sering disampaikan dengan nada keras, penuh kemarahan, bahkan terkadang membuat pendengarnya merasa dihakimi. Akibatnya, pesan agama yang seharusnya menjadi penenang justru terasa seperti ancaman. Di sinilah psikologi komunikasi dakwah memiliki peran yang sangat penting.
Psikologi komunikasi dakwah merupakan cara memahami kondisi kejiwaan manusia dalam proses penyampaian pesan agama. Dalam dakwah, bukan hanya materi yang penting, tetapi juga bagaimana pesan itu diterima oleh mad’u atau audiens. Seorang da’i harus memahami kondisi psikologis orang yang mendengarkan ceramahnya. Ada orang yang sedang rapuh, kecewa, jauh dari agama, bahkan ada yang merasa dirinya terlalu banyak dosa untuk mendekat kepada Tuhan. Jika kepada orang seperti ini dakwah disampaikan dengan bentakan dan caci maki, maka yang muncul bukan kesadaran, melainkan penolakan.
Islam sendiri sebenarnya telah memberikan contoh dakwah yang penuh kelembutan. Rasulullah SAW tidak pernah berdakwah dengan cara mempermalukan orang lain. Bahkan kepada orang yang membencinya sekalipun, beliau tetap menunjukkan sikap santun dan kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 159 bahwa karena rahmat Allah Nabi Muhammad SAW bersikap lemah lembut kepada umatnya. Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan dalam menyentuh hati manusia.
Sayangnya, di era sekarang masih ada sebagian pendakwah yang menggunakan pendekatan keras dalam berdakwah. Ceramah yang bernada ancaman, hujatan, atau ajakan menghukum pelaku maksiat sering kali viral di media sosial. Memang, gaya seperti ini mudah menarik perhatian karena memancing emosi publik. Namun belum tentu efektif dalam mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik.
Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah fenomena seorang ustadz muda yang sedang viral di media sosial. Dalam salah satu ceramahnya, ia mengajak masyarakat untuk menghukum pelaku kemaksiatan dengan cara dipermalukan di depan umum. Ceramah seperti ini memang terdengar tegas, tetapi jika dilihat dari sudut pandang psikologi komunikasi dakwah, pendekatan tersebut justru dapat menimbulkan rasa takut, malu, bahkan kebencian dari masyarakat. Orang yang merasa dihakimi biasanya akan memilih menjauh, bukan berubah menjadi lebih baik.
Berbeda dengan pendekatan keras tersebut, masyarakat Indonesia juga mengenal sosok Gus Miftah yang memiliki gaya dakwah unik dan dekat dengan kehidupan anak muda. Kehadiran Gus Miftah menjadi contoh nyata bagaimana psikologi komunikasi dakwah diterapkan dengan baik di tengah masyarakat modern.
Gus Miftah dikenal bukan hanya karena isi ceramahnya, tetapi juga karena keberaniannya masuk ke lingkungan yang sering dijauhi oleh sebagian pendakwah. Ia berdakwah di kafe, warung kopi, tempat hiburan malam, bahkan di tengah komunitas yang sering dianggap “jauh dari agama”. Banyak orang awalnya mengkritik pendekatan tersebut karena dianggap terlalu santai dan tidak formal. Namun justru di situlah letak kekuatan dakwahnya.
Beliau memahami bahwa tidak semua orang siap datang ke masjid atau duduk rapi mengikuti kajian panjang. Ada sebagian orang yang merasa minder ketika ingin belajar agama. Mereka takut dicap pendosa, takut dihakimi, atau takut dianggap tidak pantas berada di lingkungan religius. Maka, Gus Miftah memilih mendatangi mereka terlebih dahulu.
Dalam banyak video yang beredar di media sosial, dakwah Gus Miftah terlihat seperti obrolan biasa. Ia berbicara dengan bahasa sehari-hari, diselingi humor, candaan ringan, dan ekspresi yang akrab. Terkadang sambil minum kopi atau makan bersama jamaahnya. Namun di balik kesederhanaan itu, terdapat pesan agama yang sangat kuat.
Salah satu hal yang membuat dakwah Gus Miftah mudah diterima adalah karena ia tidak memosisikan diri lebih suci daripada audiensnya. Ia tidak datang untuk menghakimi, melainkan untuk merangkul. Ketika berbicara dengan anak muda, ia menggunakan bahasa anak muda. Ketika berbicara dengan masyarakat kecil, ia tidak menggunakan istilah agama yang rumit. Pendekatan seperti ini membuat orang merasa nyaman dan tidak memiliki jarak dengan pendakwah.
Secara psikologis, rasa nyaman sangat memengaruhi penerimaan pesan. Ketika seseorang merasa aman secara emosional, maka pikirannya akan lebih terbuka untuk menerima nasihat. Sebaliknya, jika seseorang merasa diserang atau dipermalukan, maka secara otomatis ia akan membangun pertahanan diri dan menolak pesan yang disampaikan.
Hal inilah yang membuat dakwah Gus Miftah sering viral dan disukai banyak kalangan. Bukan karena sensasi semata, tetapi karena masyarakat merasa mendapatkan agama dalam bentuk yang lebih hangat dan manusiawi. Banyak anak muda yang sebelumnya cuek terhadap agama mulai tertarik mendengarkan kajian karena merasa dakwah tersebut dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Fenomena ini sebenarnya sesuai dengan teori persuasi dari Carl Hovland yang menjelaskan bahwa komunikasi yang disampaikan dengan empati dan pendekatan emosional akan lebih mudah memengaruhi sikap seseorang. Selain itu, dalam teori psikologi komunikasi juga dijelaskan bahwa manusia lebih mudah menerima pesan dari komunikator yang dianggap akrab, hangat, dan tidak mengancam.
Dakwah yang ramah bukan berarti menghilangkan ketegasan ajaran Islam. Namun ketegasan itu disampaikan dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Sebab tujuan utama dakwah bukan sekadar membuat orang takut, tetapi mengajak mereka kembali mendekat kepada Allah SWT.
Realitas kehidupan masyarakat saat ini menunjukkan bahwa banyak orang sedang mengalami tekanan mental, masalah ekonomi, konflik keluarga, dan kegelisahan hidup. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat membutuhkan dakwah yang menenangkan hati, bukan yang menambah luka batin. Mereka membutuhkan pendakwah yang mampu menjadi sahabat, bukan hakim.
Jalaluddin Rakhmat pernah mengatakan, “Luruskan cara komunikasimu, maka luruslah jiwamu.” Kalimat ini sangat relevan dalam dunia dakwah modern. Cara berbicara seorang da’i dapat menentukan apakah dakwah menjadi cahaya atau justru menjadi tembok penghalang bagi orang lain untuk mendekat kepada agama.
Pada akhirnya, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari seberapa keras suara seorang pendakwah, tetapi dari seberapa dalam pesan itu mampu menyentuh hati manusia. Pendekatan ramah, santun, dan penuh empati terbukti lebih efektif diterima oleh masyarakat luas, terutama generasi muda yang saat ini lebih menyukai komunikasi yang hangat dan setara.
Karena sejatinya, hati manusia tidak bisa dipaksa dengan kemarahan. Hati hanya bisa disentuh dengan ketulusan, kelembutan, dan kasih sayang. Sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkan dakwah dengan akhlak mulia, maka dakwah yang ramah bukan hanya lebih efektif, tetapi juga lebih mencerminkan wajah Islam yang sesungguhnya: damai, menenangkan, dan merangkul semua golongan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
