Tuhfatul Athfal dan Seni Menjaga Al-Quran
Agama | 2026-05-26 11:27:16
Mempelajari tahfidz dan tahsin, membuat penulis teringat semasa di pondok pesantren dulu. Tentunya selain menghafal Al-Qur’an dan menyetorkannya secara rutin setiap harinya, ada hafalan-hafalan lain yang juga menjadi penunjang keilmuan. Salah satu yang menjadi ciri khas di pondok pesantren adalah menghafal nadham matan. Nadham adalah syair ilmiah yang bait-baitnya bukan hanya sekadar berisi baris-baris berisi kata-kata indah semata akan tetapi dibalik kata-kata tersebut tersimpan ilmu-ilmu yang dihafalkan oleh santri setiap harinya.
Salah satu nadham yang dihafal di pesantren adalah matan Tuhfathul Athfal, kitab kecil dan ringkas ini berisi syair-syair ilmiah yang membahas tajwid untuk pemula. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya sekadar tradisi menghafal yang biasa ada di pesantren, tetapi lebih dari itu, kitab ini menyimpan jejak panjang kekhasan intelektual Islam. Menghafal ilmu demi menjaga bacaan Al-Qur’an yang baik dan pewarisan akan ilmu dari seorang guru kepada muridnya yang terus berlanjut selama berabad-abad.
Sejarah Matan Tuhfathul Athfal
Matan Tuhfathul Athfal adalah kitab tua yang telah lama dihafal dan dipakai dalam kelas-kelas tahsin terutamanya untuk pemula. Kitab ini pertama ditulis oleh Syaikh Sulaiman bin Hasan bin Muhammad Al-Jamzuri, seorang ulama yang lahir di daerah Jamzur sebuah kampung dekat Thantha, Mesir. Nama belakang Jamzuri dinisbahkan kepada tempat lahirnya ini. Beliau diperkirakan lahir pada sekitar Rabiul Awal tahun 1160-an Hijriyyah dan hidup sekitar abad 12-an Hijriyyah.
Syaikh Sulaiman sendiri merupakan seorang murid daripada guru ahli tajwid dan qiraat yang bernama Syaikh Nuruddin Al-Mihi, yang mana namanya langsung disebut dalam bait kitab ini.
Dalam konteks tajwid inilah, Syaikh Sulaiman menulis Tuhfathul Athfal agar bisa memudahkan para muridnya dalam mempelajari ilmu tajwid. Sebelumnya sebenarnya sudah ada Imam Jazari dengan kitabnya Al-Muqaddimah al-Jazariyyah, yang merupakan matan yang berpengaruh di dunia Islam. Syaikh Sulaiman pun mengambil inspirasi dari kitab ini serta menyederhanakannya agar lebih cocok untuk pemula karena kitab Imam Jazari sendiri masih luas dan teoritis yang mana lebih cocok untuk pelajar tingkat lanjutan.
Nama “Tuhfatul Athfal” sendiri berarti “Hadiah untuk Anak-Anak” atau “Persembahan bagi Para Pemula”. Judul ini mencerminkan tujuan kitab tersebut: menjadi pengantar awal bagi pelajar Al-Qur’an untuk mengenal hukum bacaan secara sistematis namun ringan dihafal. Dalam perkembangan pendidikan Islam, Tuhfatul Athfal kemudian menjadi salah satu matan tajwid paling populer di dunia Islam, terutama di pesantren, rumah tahfidz, dan halaqah Al-Qur’an. Karena itu, Tuhfatul Athfal sering dianggap sebagai gerbang awal memasuki disiplin ilmu tajwid.
Tradisi Menulis Ilmu yang Terus Bertahan
Adanya nadham matan ini adalah bentuk budaya daripada peradaban Islam klasik yang biasa menuliskannya kemudian dihafalkan. Ilmu-ilmu yang panjang dan rumit diringkas dalam bentuk nadham atau syair ilmiah yang mudah untuk diingat. Tujuannya agar bisa memudahkan hafalan para pelajar, menjaga ketetapan ilmu dan membantu penyampaian ilmu dari lisan ke lisan. Dan bukan hanya ilmu tajwid saja, banyak ilmu-ilmu lain yang juga ditulis dalam bentuk nadham.
Tradisi ini pun tidak lekang ditelan zaman dan justru malah lebih mudah bertahan dan terus dipraktekkan hingga hari ini. Di lingkungan pesantren, rumah qur’an sampai ke kelas tahsin daring yang makin marak dewasa ini. Ilmu ini terus disampaikan dengan metode yang mungkin berbeda sesuai zaman. Ada yang mulai menggunakan audio dan video pembelajaran dan kemudian nantinya dijelaskan oleh sang guru.
Bentuk hafalan ini sejatinya merupakan gerbang pembuka sebelum nantinya para pelajar bisa mempelajari lebih dalam ilmu yang dimaksud. Maka dari itu sebaik-baiknya hafalan dan secanggih-canggihnya teknologi yang ada maka tetap diperlukannya sosok guru dengan tradisi lain yaitu talaqqi, yaitu belajar secara langsung kepada guru dengan guru membacakan lalu murid mengulang. Adanya guru juga menjadi sosok yang menjelaskan secara detail dan mendalam terkait ilmu dan menghindari pemahaman pribadi yang mana bisa melenceng apalagi terkait ilmu agama dan al-qur’an.
Isi Matan Tuhfathul Athfal
Tajwid bukan hanya sekadar teori praktis yang dihafal dan dipelajari semata, sejatinya ia adalah ilmu praktek dari metode menjaga bacaan qur’an agar terus terwarisi dengan baik dan tersambung langsung kepada Rasulullah. Menghafal matan ini bukan hanya sekadar memperkaya pengetahuan tajwid akan tetapi juga menjadi penggerak kita untuk memperbaiki bacaan kita agar tartil dan sesuai yang Allah firmankan pada surat Al Muzammil ayat 4.
Adanya matan ini berisi penjelasan tajwid ringkas yang merupakan dasar-dasar bagi para pemula dalam membaca Al-Qur’an. Inti pembahasan pada matan ini adalah hukum nun mati, mim mati, alif lam dan juga mad. Hukum-hukum bacaan ini merupakan tahapan paling awal dalam mempelajari ilmu tajwid yang harus diketahui bagi setiap pembaca apalagi penghafal Al-Qur’an. Keseluruhan isi matan memiliki 61 bait syair yang dirangkai dengan kata-kata indah.
Kitab ini dapat dicari baik secara daring di internet maupun dari kitabnya yang secara fisik masih banyak diedarkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
