Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sebi Daily

Ekonomi Syariah: Bukan Sekadar Label Keagamaan

Ekonomi Syariah | 2026-05-25 12:48:21
Ilustrasi menarik suasana ibadah dalam masjid. Foto: Bilal Furqan/Pexels.

Oleh: Fathina Adya Hanapi_Mahasiswa Institut SEBI.

Di Indonesia, istilah “syariah” masih sering dikaitkan secara langsung dengan agama dan kelompok tertentu. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang menganggap ekonomi syariah hanya diperuntukkan bagi umat Islam dan tidak relevan bagi kalangan lain. Cara pandang seperti ini menjadikan ekonomi syariah kerap dipahami sebatas label keagamaan, bukan sebagai pendekatan dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

Padahal, jika dipahami lebih mendalam, ekonomi syariah tidak hanya berbicara tentang aturan agama, tetapi juga mengenai nilai-nilai yang mendasari kegiatan ekonomi itu sendiri. Prinsip seperti keadilan, transparansi, tanggung jawab, dan keseimbangan menjadi fondasi utama dalam sistem ekonomi syariah. Nilai-nilai tersebut sejatinya bersifat universal dan dibutuhkan oleh siapa pun, tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok tertentu.

Di tengah berbagai persoalan ekonomi saat ini, seperti ketimpangan sosial, praktik bisnis yang kurang transparan, hingga berorientasi pada keuntungan semata, ekonomi syariah menawarkan pendekatan yang lebih berorientasi pada kebermanfaatan bersama. Sistem ini tidak hanya menilai hasil akhir berupa keuntungan, tetapi juga memperhatikan proses, etika, serta dampaknya terhadap masyarakat.

Sayangnya, anggapan bahwa ekonomi syariah bersifat eksklusif masih cukup kuat di tengah masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari rendahnya literasi mengenai konsep ekonomi syariah itu sendiri. Istilah “syariah” sering dipahami secara sempit sehingga menutupi nilai universal yang sebenarnya terkandung di dalamnya. Padahal, dalam ajaran Islam dikenal konsep syumuliyah, yaitu bahwa Islam mencakup seluruh aspek kehidupan dan membawa nilai-nilai yang dapat diterapkan secara luas dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Oleh karena itu, sudah saatnya ekonomi syariah dipahami dari sudut pandang yang lebih terbuka. Fokus utama seharusnya tidak hanya pada asal konsep tersebut, tetapi juga pada nilai dan tujuan yang ditawarkan. Pada akhirnya, ekonomi syariah bukan sekedar identitas atau label, melainkan salah satu pendekatan untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih adil, transparan, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas.

Di era modern yang penuh tantangan ekonomi seperti sekarang, nilai-nilai yang digunakan ekonomi syariah justru menjadi semakin relevan. Bukan hanya untuk kelompok tertentu, namun sebagai alternatif dalam membangun sistem ekonomi yang lebih manusiawi dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image