Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Fazli Afdhal R

Generasi Gagap Gagasan (3G)

Edukasi | 2026-05-24 20:02:09
Sumber: https://www.perkins.org/resource/students-how-present-presentation/

PRESENTASI. Satu kata yang kini seringkali ada di sekitar kita, entah dalam bentuk tugas sekolah atau kuliah, maupun salah satu rangkaian dalam pekerjaan, sehingga seperti apapun jenjang pendidikan atau profesi kita, presentasi akan tetap relevan.

Sebagai seorang mahasiswa, salah satu aspek yang saya perhatikan adalah betapa kacaunya kita dalam menyampaikan presentasi.

Seringkali ketika saya memerhatikan presentasi di kelas, terutama presentasi tugas kelompok dalam bentuk PowerPoint (PPT) atau slide Canva, mahasiswa yang maju masih menyampaikan presentasi mereka dengan cara membaca slide.

Slide yang ditampilkan bukanlah poin-poin penting gagasan atau materi, melainkan sepenuhnya teks dengan font kecil yang hanya bisa dibaca oleh kelompok tersebut.

Bagaimana dengan audiens? Jangankan mendengar, melihat slide mereka saja sudah malas untuk memerhatikan, apalagi mendengarkan. Akhirnya jadilah presentasi itu suatu pepesan kosong semata.

Bagaimana dengan dosennya? Bukankah dosen berperan dalam hal membimbing dan mengarahkan, termasuk mengajarkan bagaimana teknik presentasi yang baik kepada mahasiswa?

Sepatutnya memang demikian, namun seringkali saya dapati dosen-dosen tersebut hanya mengatakan, "Terimakasih kelompok sekian, presentasinya sudah bagus dan menjelaskan dengan detail ya."

Detail itu muncul karena mereka membaca dengan khusyuk, sementara audiens mendapatkan sedikit perhatian, bahkan baik presenter maupun audiens seringkali tidak terhubung.

Membaca presentasi dengan tidak menggandeng audiens saja sudah kacau, terlebih jika presenter mengatakan, "Apakah dari teman-teman ada pertanyaan?"

Lalu ketika ada yang bertanya, mereka mengatakan, "Sebentar ya, kami diskusi terlebih dahulu." Kemudian mengalihkan layar ponsel ke aplikasi kecerdasan buatan (AI) untuk mencari jawaban. Bukan AI-nya yang salah, namun menggunakan AI saat presentasi rawan menunjukkan pemahaman yang belum matang terhadap materi.

Saya rasa tidak seharusnya generasi penerus bangsa seperti ini. Banyak mahasiswa yang saya yakin jauh lebih jago dan lihai dalam presentasi secara totalitas.

Jika sebagian mahasiswa yang dikatakan sebagai agen perubahan ternyata kesulitan mengubah pemahaman orang didepan mereka saat sedang presentasi, lantas bagaimana nasib bangsa akan diubah?

Saya sebut fenomena ini sebagai 3G, atau Generasi Gagap Gagasan. Memiliki gagasan, pendirian, pendapat, pemahaman, atau ide, namun kesulitan untuk menyampaikannya dengan baik, dan cerita saya tadi hanyalah sebagian kecil dari fenomena ini.

Kejadian yang saya sampaikan di tingkat mahasiswa kemungkinan adalah hasil dari apa yang terjadi sebelumnya. Bisa jadi mereka belum pernah diajarkan bagaimana presentasi yang baik ketika masih di bangku sekolah, ataupun tidak percaya diri dengan apa yang sudah dipelajari, sehingga menggantungkan diri pada teks panjang.

Padahal mahasiswa ini bisa saja yakin dengan kemampuan mereka sendiri, tak peduli apakah ada materi yang lupa disampaikan saat maju kedepan, selama mampu tampil dengan tegas dan menggunakan improvisasi yang meningkatkan minat audiens, semua kekurangan kecil dalam presentasi seringkali dapat tertutupi.

Ketika presentasi berhasil disampaikan dengan penuh keyakinan, semua keraguan dapat dihilangkan secara perlahan.

Apabila sebelumnya gagap ketika harus menjelaskan tanpa teks, perlahan dapat berkembang menjadi lebih daripada sekadar teks.

Perkembangan inilah yang seharusnya menjadi pegangan generasi penerus bangsa.

Kemampuan menyampaikan gagasan bukan hanya tentang mendapatkan nilai bagus saat presentasi atau yang penting selesai, melainkan sebagai bekal penting ke depannya, baik ketika presentasi lagi di kelas, atau ketika harus berbicara pada forum yang lebih meriah.

Maka mari mulai belajar untuk lebih percaya diri, berlatih lebih banyak, kikis rasa malu, dan menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Mohonlah ampun dan perbanyak doa kepada Allah, sebab hanya dengan Pertolongan-Nya, semua usaha kita akan membuahkan hasil maksimal.

Presentasi dengan penuh semangat. Hilangkan keraguan dan ketergantungan pada teks teks panjang dan mulailah ciptakan teks sendiri. Kalau memang ada yang salah, tetaplah semangat dan terus perbaiki apa yang mampu diperbaiki.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image