Pemikiran Politik Ikhwanul Muslimin
Politik | 2026-05-24 14:44:43
Salah satu pergerakan Islam kontemporer memiliki pengaruh sangat besar ialah Ikhwanul Muslimin, pengaruhnya tidak hanya di kawasan Timur Tengah dan di dunia Islam saja, tetapi menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke dunia barat. Artinya Ikhwan menjadi salah satu gerakan Islam berkarakter trans nasional, melintasi batas-batas teritorial suatu negara.
Gerakan trans nasional merupakan gerakan tidak hanya bergerak disatu negara, tetapi memiliki dimensi internasional baik cabang organisasi, solidaritas lintas negara, atau cita-cita global (Sekamdo, 2004). Adapun karakteristik gerakan trans nasional biasanya selain memiliki jaringan organisasi lintas negara, juga menyebarkan ideologi bersifat universal, isu perjuangannya tidak terbatas pada kepentingan nasional atau regional semata.
Semenjak berdirinya perkembangan gerakan Ikhwanul Muslimin semakin pesat, bahkan di akhir abad ke-20 Ikhwanul Muslimin telah menyebar ke lintas batas negara, lebih dari 70-an negara baik di dunia Islam atau bukan, telah tersentuh oleh pemikiran Ikhwanul Muslimin (Al Qaradhawi, 2001). Kesuksesan Ikhwanul Muslimin dapat diterima oleh berbagai bangsa, disebabkan gerakan ini lebih lentur dibandingkan pergerakan Islam trans nasional lain, sehingga memudahkan proses beradaptasi dengan beragam tradisi dan budaya setempat, faktor lainnya prinsip dimiliki Ikhwan yang menghargai dan menghormati perbedaan cabang (furu’) di dalam umat Islam (Njong, 2021).
Artikel ini ingin membahas tentang pergerakan Ikhwanul Muslimin, dilihat dari dimensi pemikiran politik yang mereka miliki, telah banyak menginspirasi berbagai gerakan Islam politik di dunia Islam.
Ikhwanul Muslimin
Pergerakan Ikhwanul Muslimin sendiri didirikan pada 22 Maret 1928 oleh Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Hushary, Fuad Ibrahim, Ismael Izz, Zaki al-Maghriby, dan Abdurrahman Hasbullah, masing-masing dari mereka itu berprofesi sebagai guru, tukang kayu, tukang potong rambut, tukang setrika, tukang kebun, montir, dan sopir (As-Sisiy, 2001)
Keberhasilan Ikhwanul Muslimin dalam membangun gerakan pertama mereka di Mesir, sampai kemudian menjadi gerakan trans nasional, tidak bisa lepas dari sosok Hasan al-Banna, ketua pertama (mursyid am) dari Ikhwanul Muslimin. Ketika al-Banna merintis, mendirikan, dan mengembangkan gerakan Ikhwan, dia menempuh pendekatan yang berkarakter moderat dan santun, sehingga mendapat sambutan hangat dari masyarakat Mesir ketika itu.
Di dalam karya Mahmud (1997), al-Banna menempuh pendekatan berbeda-beda, ketika membina hubungan dengan berbagai kelompok atau komunitas, tujuannya agar gerakan Ikhwan dapat diterima dengan mudah, serta tidak memunculkan resistensi dikemudian hari.
Pertama, ketika menjalin relasi sosial dengan para pemeluk agama termasuk para ulama, al-Banna bersikap ramah di dalam menarik simpati, caranya memberikan hadiah berupa buku, yang membuat hati mereka senang. Hal ini membuat tokoh agama tidak merintangi kegiatan Ikhwanul Muslimin, bahkan mereka menaruh hormat atas kegiatan organisasinya itu.
Kedua, ketika al-Banna membina hubungan dengan para tokoh tarekat atau sufi, dia bisa menjalin hubungan yang harmoni, tidak menghakimi para anggota tarekat dengan label seperti bid’ah, sehingga kelompok tarekat tidak merasa terancam atas kegiatan Ikhwanul Muslimin. Ketiga, di dalam menjalin komunikasi dengan seseorang atau kelompok lain, yang memiliki pengaruh politik sangat besar di Mesir, al-Banna bersikap hormat, menghargai, dan santun, pada akhirnya para tokoh itu hormat kepadanya, terlepas memiliki pandangan politik atau keagamaan berbeda (Mahmud, 1997).
Dari ketiga pendekatan itu, gerakan Ikhwanul Muslimin tampil menjadi salah satu gerakan menyatukan berbagai aliran (furu’) yang berbeda-beda di dalam Islam, orientasi gerakannya menjauhi perpecahan. Menghindari konflik menjadi identitas melekat dari gerakan Ikhwan (Machmudi, 2021). Bahkan salah satu keunikan dari gerakan Islam ini, mengawali gerakan dakwahnya di kedai kopi (qahwa), tempat ramai banyak dikunjungi oleh masyarakat Mesir, ketika sedang rehat dari rutinitas pekerjaan sehari-hari, kedai kopi telah jadi tempat berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pekerja, pedagang, hingga intelektual (Mahmud, 1997).
Lembaga Sosial Ikhwanul Muslimin
Pendekatan moderat dan santun Ikhwanul Muslimin di dalam mengembangkan gerakannya, disambut positif oleh masyarakat Mesir, terbukti dari awal pendirian pergerakan Islam ini, selain memiliki banyak anggota, bahkan menjelang tahun 1948, diperkirakan dukungan massanya mencapai setengah juta orang di Mesir.
Ikhwanul Muslimin juga memiliki banyak aset, misalnya kantor cabang di seluruh wilayah Mesir, membangun lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai menengah, mendirikan berbagai lembaga sosial seperti klinik, rumah sakit, lembaga zakat, dan koperasi, serta memiliki jaringan media dari majalah, buku, surat kabar, dan percetakan internal, serta banyak lagi lembaga lain yang didirikan Ikhwanul Muslimin.
Tujuan Ikhwanul Muslimin banyak mendirikan lembaga-lembaga sosial, untuk meningkatkan standar hidup masyarakat desa dan kota di Mesir. Ikhwan juga menyelenggarakan berbagai program sosial dari pelatihan pertanian, santunan, dan subsidi pangan, serta menyediakan lapangan pekerjaan, pembangunan masjid hingga penyediaan pemukiman serta lahan pemakaman bagi masyarakat miskin (Dzakirin, 2016).
Pemikiran Politik
Pemikiran politik yang dikembangkan Ikhwanul Muslimin adalah pandangan Islam yang integral antara agama dan negara (Machmudi, 2021). Artinya Islam tidak bisa lepas dari urusan sosial politik (kemasyarakatan), bahkan al-Banna pernah menulis di dalam karyanya, bahwa gerakan Islam itu jangan menjauhi politik, seorang muslim selain harus mengerti dan memahami politik dengan baik, juga harus terlibat di dalam kegiatan politik (Al Qaradhawi, 2018).
Hasan al-Banna menghendaki umat Islam tidak buta politik, tetapi harus melibatkan diri dalam kegiatan dan aktifitas politik, tentunya berpolitik yang diajurkan al-Banna, yang memiliki karakter moderat atau Islam Wasahtiyyah. Karena Ikhwanul Muslimin tidak berpikir tentang revolusi sosial, tidak melakukan cara-cara kekerasan. Perubahan diinginkan al-Banna bersifat gradual, perlahan, serta bertahap sesuai dengan manhaj Ikhwanul Muslimin, yaitu melakukan kaderisasi secara berjenjang, bertingkat, dan bertahap (Al Qaradhawi, 2018). Pemikiran politik Ikhwanul Muslimin dalam politik global, memperkuat hubungan antar negara-negara Islam, berkeinginan mempersatukan semua negara Islam yang terpecah belah akibat penjajahan dunia barat, terutama menjalin aliansi yang kuat sesama bangsa arab (Ishaq, 2012).
Terkait isu kemerdekaan Palestina, Ikhwanul Muslimin memiliki komitmen politik sangat kuat membantu perjuangan bangsa Palestina untuk meraih kemerdekaan, al-Banna memandang proyek zionisme itu, sebagai bentuk kolonialisme modern, bahwa pembelaan terhadap Palestina adalah kewajiban agama dan moral. Bahkan Hasan al-Banna mengirimkan sukarelawan Ikhwan untuk ikut bertempur dalam Perang Arab-Israel 1948 (Al Qaradhawi, 1999).
Pemikiran anti zionisme itu, menjadi identitas Ikhwanul Muslimin sampai sekarang, misalnya pada tahun 1969, gerakan Ikhwan cabang Yordania mendirikan kamp pelatihan militer di Hutan Dibbin dekat Jerash dan Zarqa, yang berdekatan dengan Amman, Yordania. Salah satu anggota Ikhwanul Muslimin (Yordania), Abdullah Azzam, menjadi salah satu milisi yang mengikuti pelatihan militer itu, aktifis Ikhwan bersama pejuang Palestina dari kelompok lain, terlibat baku tembak atau pertempuran dengan militer Israel (IDF), tercatat beberapa pertempuran antara milisi Ikhwan dengan Israel, seperti pertempuran al-Mashru (1969), pertempuran 5 Juni 1970, dan pertempuran 29 Agustus 1970 (Haryadi, 2026).
Bahkan kelompok Hamas (Harakat al-Muqawama al-Islamiyya) atau Gerakan Perlawanan Islam, yang berdiri pada tahun 1988 di Palestina, merupakan cabang dari Ikhwanul Muslimin, sampai sekarang tetap konsisten melakukan perlawanan pada pendudukan ilegal zionis Israel di tanah bangsa Palestina.
Hamas pergerakan Ikhwan yang menempuh dua strategi, di dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina melaui politik dan perlawanan bersenjata. Pada Pemilu Legislatif 2006 di Palestina, Hamas melibatkan diri dalam mekanisme demokrasi di Palestina. Keputusan Hamas dalam Pemilu 2006 adalah rasa tanggungjawab Hamas sebagai bagian dari bangsa Palestina, ingin memberikan kontribusi agar dapat meringankan penderitaan rakyat, melindungi pemerintahan dari praktek korupsi dan kolusi, serta harapan terciptanya persatuan nasional diantara faksi-faksi perlawanan (Kumoro, 2009).
Karena mendapat tekanan militer dari Israel, Hamas membentuk sayap militer bernama Izzuddin al-Qassam. Brigade Izzuddin al-Qassam dikenal memiliki militansi serta disiplin tinggi para anggotanya, mereka mempunyai kemampuan berperang sangat mumpuni, akibat sering berkonfrontasi dengan tentara Israel, Izzuddin al-Qassam memiliki rekam jejak peperangan sangat panjang, menambah pengalaman serta kemampuan skill bertempur di medan peperangan.
Sedangkan sikap Ikhwanul Muslimin terhadap pemikiran dan budaya dari barat, mengambil sikap tegas, menilai paham kebebasan serta atheisme itu, sangat membahayakan eksistensi Islam. Hasan al-Banna menyakini peradaban barat akan runtuh, dia menganjurkan setiap muslim berusaha semampunya untuk menghidupkan berbagai tradisi Islam (Mahmud, 1997). Ikhwanul Muslimin meyakini Islam memiliki makna universal menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, Islam memberikan bimbingan serta aturan yang terperinci dari seluruh masalah kehidupan, Islam menurut Ikhwan mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kehidupan, serta membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia (Hamid, 2001).
Penutup
Politik bagi Ikhwanul Muslimin menjadi salah satu fondasi penting di dalam membangun peradaban kemanusiaan, bahkan seorang muslim tidak saja harus memahami politik, tetapi terlibat di dalamnya. Tentu saja melibatkan diri dalam dunia politik, menurut penulis tidak hanya menjadi politisi, tetapi bisa juga turut ambil bagian sebagai kekuatan masyarakat sipil (civil society), berperan mengawasi jalannya roda kekuasaan, serta memberikan masukan (aspirasi) agar kebijakan dibuat dan diputuskan pemerintah betul-betul mencerminkan aspirasi dari masyarakat.
Referensi artikel
1. Al Qaradhawi, Y. (1999). 70 Tahun Al-Ikhwan Al-Muslimun : Kilas Balik Dakwah Tarbiyah dan Jihad (Jakarta). Pustaka Al-Kautsar.
2. Al Qaradhawi, Y. (2001). Umat Islam Menyongsong Abad Ke-21. Era Intermedia.
3. Al Qaradhawi, Y. (2018). Tarbiyah Politik Hasan al-Banna Referensi Gerakan Dakwah di Kancah Politik. Ihsan Media.
4. As-Sisiy, A. (2001). Ikhwanul Muslimin dalam Kenangan. Gema Insani.
5. Dzakirin, A. (2016). Delapan Dekade Pergulatan Politik Ikhwanul Muslimin Menuju Kekuasaan. Media Insani Publishing.
6. Hamid, A. H. (2001). Di Medan Dakwah Bersama Dua Imam Ibnu Taimiah dan Hasan al-Banna. Era Intermedia.
7. Haryadi, R. (2026). Abdullah Yusuf Azzam. Boomboxzine.
8. Ishaq, M. M. (2012). Fiqih Politik Hasan Al-Bana. Robbani Press.
9. Kumoro, B. (2009). Hamas Ikon Perlawanan Islam Terhadap Zionisme Israel. Mizan.
10. Machmudi, Y. (2021). Timur Tengah Dalam Sorotan Dinamika Timur Tengah Dalam Perspektif Indonesia. Bumi Aksara.
11. Mahmud, A. A. H. (1997). Ikhwanul Muslimin Konsep Gerakan Terpadu. Gema Insani Press.
12. Njong, T. Y. (2021). Pasang Surut Hubungan Arab Saudi Dan Ikhwanul Muslimin. Harakah Books.
13. Sekamdo, A. (2004). Membumikan Ikhwanul Muslimin. Era Intermedia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
