Menolak Tunduk di Negeri Orang: Belajar Percaya Diri dari Sosok Student Hidjo
Sastra | 2026-05-24 09:27:28
Kisah cinta menarik untuk dibaca. Namun, di tanganMas Marco Kartodikromo, kisah cinta bisa berubahmenjadi alat untuk melawan penjajahan. Ditulis di dalampenjara pada tahun 1918, novel Student Hidjo awalnyaterbit sebagai cerita bersambung ini bukan sekadar ceritacinta biasa. Novel ini adalah sebuah kritis sosial yang dikemas dengan sangat rapih. Cerita ini berpusat pada Hidjo, seorang pemuda asal Jawa yang dikirim oleh orang tuanya untuk belajar di Belanda. Sebelum berangkat, Hidjosudah ditunangkan dengan Raden Ajeng Biru, seoranggadis yang memegang teguh tradisi jawa. Namun, kehidupan di luar negeri mengubah segalanya. Di Belanda, Hidjo malah jatuh cinta kepada seorang gadis Belanda yang bernama Betje, anak perempuan dari keluarga tempat iamenumpang tinggal. Kisah cinta segitiga ini menjadi makinrumit karena perbedaan budaya dan aturan sosial pasa masa itu.
Melalui cerita ini, Mas Marco sebenarnya sedangmelakukan kritik yang sangat berani. Pada zaman penjajahan, pemerintah Belanda selalu menanamkananggapan bahwa orang pribumi itu bodoh dan berderajatrendah. Namun, tokoh Hidjo di novel ini digambarkansebagai pemuda yang cerdas, menarik, dan dikagumi oleh Perempuan Eropa. Lewat cara ini, penulis inginmenyampaikan pesan penting: bahwa semua manusiamemiliki derajat yang sama, tanpa memandang warna kulit.Dalam novel ini tidak hanya mengkritik penjajah Belanda, tetapi juga menyindir bangsa pribumi. Mas Marco mengkritik kaum bangsa Jawa pada masa itu yang sukamenuri gaya hidup Barat. Beliau menyindir mereka yang suka menggunakan bahasa Belanda hanya demi terlihatkeren dan mendapatkan pujian stasus sosial.
Tentu saja, membaca Student Hidjo saat ini memilikitantangan tersendiri. Karena ditulis lebih dari seabad yang lalu, bahasanya menggunakan Melayu Pasar yang bercampur dengan istilah Jawa lama dan bahasa Belanda. Bagi pembaca modern, gaya Bahasa ini mungkin akanterasa sedikit kaku dan membutuhkan waktu untuk di pahami. Namun, kekurangan itu tertutupi oleh nilai sejarahyang ada di dalamnya. Novel ini mengajak kita melihatbagaimana anak muda zaman dahulu mulai berani berpikirkritis dan memperjuangkan harga diri bangsanya melaluitulisan. Pada akhirnya, Student Hidjo bukan sekedar ceritatentang siapa yang akan menikah dengan siapa. Buku iniadalah bukti sejarah tentang perjuangan pikiran. Novel klasik ini sangat layak dibaca bagi siapa saja yang inginmemahami Sejarah bangsa dengan cara yang lebihmenyenangkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
