Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ach ikhwanul faris

Memutus Kutukan Salah Asuhan pada Generasi Strawberry

Sastra | 2026-06-14 11:44:27
Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Kita sering mendengar istilah “generasi strawberry” disematkan pada Gen Z, Sebuah metafora untuk buah yang tampak ranum di luar, namun lembek, mudah remuk, dan terlalu sensitif di dalam. Tuduhan ini dilemparkan seolah-olah karakter tersebut tumbuh secara ajaib di ruang hampa. Jarang ada yang berhenti dan bertanya: siapa sebenarnya yang menanam, menyiram, lalu salah merawat buah itu hingga ia begitu rapuh?

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu memutar waktu ke belakang dan menengok roman klasik Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Tokoh utamanya, Hanafi, adalah seorang modernizen di zamannya. Ia terdidik ala Eropa, fasih berbahasa Belanda, dan memandang rendah kebudayaan pribuminya yang dianggap kolot. Hanafi ingin menjadi modern seutuhnya, namun ia berakhir tercerabut dari akarnya. Cintanya ditolak, masyarakat mengucilkan, dan ia mati dalam kesendirian yang tragis. Tragedi Hanafi sejatinya bukan karena ia memilih menjadi modern, melainkan karena ia mengasuh dirinya dengan kebencian pada asal-usulnya sendiri.

Menariknya, gejala psikologis Hanafi seperti melompati zaman dan mewujud kembali pada Gen Z hari ini. Mereka tumbuh dalam realitas ganda yang membingungkan: dunia digital yang hipermodern di genggaman tangan, dan ruang domestik rumah yang masih memegang erat nilai-nilai lama. Ketika mereka dicap sebagai generasi yang "mager", "alergi teguran", atau "gampang baper", kita sedang melihat ironi yang sama. Mereka ingin diakui sebagai pribadi yang kritis, terbuka, dan inklusif, namun langsung tersinggung saat dikritik. Mereka lantang membenci label, tetapi gemar mengkotak-kotakkan orang lain di media sosial. Ini bukan sekadar perkara Gen Z itu lemah, melainkan manifestasi dari asuhan yang keliru dalam memaknai kata "modern".

Selama ini, orang tua dan sistem pendidikan kita terlalu sering menyaru-artikan modernitas sebagai westernisasi total. Anak-anak dibolehkan bebas berekspresi, tetapi tidak diajari cara mengelola emosi. Mereka diberi akses gawai sejak balita, namun tidak didampingi dengan nalar kritis. Mereka didorong mati-matian untuk menjadi kompetitif di panggung global, tanpa diberi ruang yang cukup untuk pulih dari kegagalan. Akibatnya, banyak Gen Z tumbuh dengan kepala yang digadang-gadang menjulang ke langit digital, sementara kaki mereka tidak pernah diajari untuk menginjak dan mencintai tanahnya sendiri.

Padahal untuk menjadi seorang modernizen, Warga modern yang tetap berakar adalah soal keberanian memilih asuhan yang seimbang. Kita bisa melihat percikan harapan ini pada sebagian anak muda yang mulai berdamai dengan identitasnya. Misalnya, ketika seorang kreator konten Gen Z di Malang mendokumentasikan ritual budaya lokalnya di TikTok dengan gaya storytelling yang sinematik. Atau ketika sekelompok mahasiswa menciptakan aplikasi pelestari aksara daerah dengan tampilan antarmuka yang trendi. Mereka modern dalam bentuk dan medium, tetapi tidak kehilangan isi. Mereka belajar dari kesalahan fatal Hanafi: bahwa modernisasi bukan berarti memusuhi tradisi, melainkan menafsir ulang tradisi agar tetap hidup dan relevan dengan zaman.

Oleh karena itu, tugas kita hari ini bukan lagi menghujat atau menyalahkan Gen Z, melainkan menawarkan sebuah asuhan ulang. Sebuah pendekatan yang tidak reaktif tidak anti-modern dengan cara ekstrem menolak gawai, juga tidak over-modern hingga abai pada nilai luhur. Kita perlu menyadari bahwa identitas bukanlah sebuah zero-sum game. Seorang anak muda bisa saja memiliki daftar putar Spotify penuh dengan lagu K-Pop, tetapi di saat yang sama tetap hafal tembang dolanan daerahnya. Mereka bisa dengan bangga memakai hoodie dan sepatu sneakers, tetapi tetap menaruh hormat yang tulus kepada orang tua, bukan sekadar formalitas yang dipaksakan.

Pada akhirnya, novel Salah Asuhan adalah sebuah peringatan yang tidak pernah kedaluwarsa. Hanafi gagal karena ia mengasuh dirinya dengan dikotomi keliru: memilih antara Timur atau Barat, tradisi atau modern. Gen Z tidak boleh dan tidak perlu mengulang nasib tragis yang sama. Mereka memiliki potensi besar untuk menjadi generasi modernizen sejati jika kita baik sebagai orang tua, pendidik, lingkungan, maupun sesama Gen Z sendiri yang bersedia membantu mereka membangun jembatan, bukan tembok. Sebuah jembatan yang menghubungkan kritik dengan empati, dunia digital dengan realitas nyata, serta kemajuan diri dengan akar budayanya. Kita tidak butuh lagi Hanafi-Hanafi baru di era digital. Kita butuh generasi yang modern karena mereka berani memilih, bukan kabur, generasi yang berakar, tetapi tidak membeku.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image