Toxic Relationship dalam Novel Salah Asuhan
Sastra | 2026-05-27 12:42:59
Isu toxic relationship sering dianggap sebagai masalah anak muda zaman sekarang. Padahal, tema seperti ini sebenarnya sudah muncul dalam karya sastra lama, salah satunya novel Salah Asuhan karya Abdul Muis. Novel yang terbit pada tahun 1928 ini menunjukkan bagaimana hubungan yang tidak sehat dapat muncul karena krisis identitas, tekanan sosial, dan ketidakmampuan seseorang menerima dirinya sendiri.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Hanafi, seorang pribumi Minangkabau yang sangat mengagumi budaya Barat. Ia merasa budaya Eropa lebih modern dan lebih tinggi dibanding budaya asalnya. Karena itu, Hanafi berusaha keras meniru gaya hidup orang Barat hingga perlahan menjauh dari identitasnya sendiri.
Konflik mulai berkembang ketika Hanafi menjalin hubungan dengan Corrie, perempuan keturunan Indo-Belanda. Hubungan mereka tidak berjalan harmonis karena Hanafi memiliki sifat emosional, keras kepala, dan mudah melampiaskan tekanan batinnya kepada Corrie. Dalam banyak situasi, Corrie menjadi korban dari rasa rendah diri dan ambisi Hanafi untuk mendapat pengakuan sosial.
Hubungan mereka dapat disebut toxic karena dibangun di atas ketidakstabilan emosi dan krisis jati diri. Hanafi tidak benar-benar mencintai Corrie secara tulus, melainkan juga menjadikan Corrie sebagai simbol status sosial. Ia merasa bahwa dengan memiliki pasangan keturunan Eropa, dirinya akan lebih diterima dalam lingkungan yang selama ini ia kagumi.
Melalui kisah tersebut, Abdul Muis memperlihatkan bahwa hubungan yang tidak sehat sering kali berawal dari masalah dalam diri seseorang. Rasa minder, keinginan untuk diakui, dan ketidakmampuan menerima identitas diri dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan pasangannya.
Novel Salah Asuhan masih relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak hubungan modern mengalami masalah serupa, ketika seseorang menjadikan pasangan sebagai tempat pelampiasan emosi atau alat untuk mendapatkan validasi diri. Akibatnya, hubungan tidak lagi didasarkan pada rasa saling menghargai, melainkan pada kebutuhan pribadi yang tidak sehat.
Melalui novel ini, pembaca dapat memahami bahwa hubungan yang baik seharusnya dibangun atas penerimaan diri, kejujuran, dan rasa saling menghormati. Jika seseorang belum mampu berdamai dengan dirinya sendiri, hubungan yang dijalani pun berisiko menimbulkan luka bagi orang lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
