Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Putri Irnawati

Takhayul Sanggul Istri dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

Sastra | 2026-05-23 22:35:46
Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis

Takhayul Sanggul Istri dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis merupakan salah satu karya sastra penting dalam perkembangan sastra Indonesia yang menggambarkan benturan budaya Timur dan Barat pada masa kolonial. Melalui tokoh Hanafi, Abdoel Moeis menggambarkan bagaimana pengaruh pendidikan Barat yang dijalaninya dapat membuat seseorang mengalami krisis identitas hingga memandang rendah budaya dan adat kota kelahirannya. Dalam novel ini, permasalahan mengenai adat tidak hanya muncul melalui aturan sosial dan hubungan keluarga, namun juga dari simbol-simbol tradisional yang masih dipercayai oleh masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan penampilan perempuan seperti sanggul yang dikenakan istri Hanafi, yaitu Rapiah.

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, sanggul tidak hanya menjadi hiasan rambut, tetapi memiliki makna sosial dan budaya yang erat hubungannya dengan kehormatan perempuan, kesopanan, serta identitas seorang istri. Apalagi di beberapa lingkungan masyarakat, sanggul juga sering dikaitkan dengan kepercayaan tertentu yang pasti akan diwariskan turun-temurun. Kepercayaan seperti ini dapat diterima sebagai bentuk takhayul budaya pada masyarakat yang percaya bahwa simbol atau tata cara tertentu memiliki pengaruh terhadap kehidupan seseorang. Melalui penggambaran tokoh istri Hanafi, yaitu Rapiah sebagai perempuan yang tetap mempertahankan adat dan penampilan tradisionalnya, penulis memaparkan bahwa masyarakat pada masa itu masih sangat terikat pada nilai-nilai tradisional.

Sebaliknya, Hanafi sebagai tokoh yang terlalu mengagungkan budaya Barat justru memandang simbol adat sebagai sesuatu yang kuno dan bertujuan. Sikap tersebut terlihat ketika ia menolak atribut adat Minangkabau dalam pernikahannya dengan Rapiah. Penolakan itu menjadi hal yang menunjukkan bagaimana Hanafi berusaha melepaskan diri, dan tidak ingin terikat dari identitas budayanya sendiri demi terlihat modern seperti orang Eropa. Penolakan Hanafi terhadap adat juga secara tidak langsung menunjukkan penolakannya terhadap simbol-simbol tradisional perempuan, termasuk sanggul yang dikenakan Rapiah.

Sanggul dalam novel dapat dimaknai sebagai simbol perempuan Timur yang masih menjaga adat, kesetiaan, dan nilai keluarga. Kehadiran simbol tersebut menjadi kontras dengan kehidupan modern yang diinginkan Hanafi. Rapiah diartikan sebagai perempuan yang sabar, patuh, dan tetap memegang teguh tradisi meskipun sering diperlakukan tidak adil, kasar dan terkesan diperbudak oleh suaminya. Sementara itu, Hanafi lebih tertarik pada Corrie yang dianggap mewakili perempuan bergaya Barat. Pertentangan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pada masa kolonial melahirkan konflik antara tradisi dan cara hidup baru yang dianggap lebih maju.

Melalui unsur takhayul yang melekat pada simbol adat seperti sanggul perempuan, Abdoel Moeis sebenarnya ingin menunjukkan realitas masyarakat Indonesia pada masa kolonial yang masih hidup di antara dua dunia. Di satu sisi, masyarakat mulai mengenal modernitas Barat, namun di sisi lain mereka tetap mempertahankan adat dan berbagai kepercayaan tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image