Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image laura alifvia kendo

Mengapa Perempuan Masih Harus Memilih Antara Didengar atau Disukai

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-19 09:59:30
sumber: Pinterest -Katie Brenan/ https://pin.it/7CXmCxwkQ

Coba perhatikan situasi ini: seorang perempuan berbicara tegas di rapat, lalu rekan kerjanya berbisik, "Ih, dia galak banget." Tapi kalau ia diam, ia dianggap tidak punya pendapat. Situasi serba salah seperti ini bukan hal baru bagi perempuan dan yang bikin frustrasi, ini masih terjadi sampai sekarang, di mana-mana.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini punya nama: double bind. Artinya, perempuan tidak punya pilihan yang benar-benar aman. Kalau ia asertif, ia dicap tidak feminin. Kalau ia mengalah, ia dianggap lemah. Tidak ada jalan tengah yang bebas dari komentar. Penelitian dari Harvard Business Review (2021) bahkan mencatat bahwa perempuan lebih sering diinterupsi saat berbicara di rapat dibanding rekan pria mereka. Kecil kedengarannya, tapi ini cerminan dari pola yang jauh lebih besar.

Kalau ditelusuri, akarnya ada di cara kita dibesarkan. Perempuan dari kecil sudah diajarkan untuk agreeable, menyenangkan semua orang, menghindari konflik, tidak terlalu berisik. Anak laki-laki? Didorong untuk berani, vokal, dan memimpin. Begitu perempuan dewasa dan membawa "pelajaran" itu ke dunia nyata, apa yang tadinya dianggap sopan berubah jadi penjara. Dan yang repot, banyak yang tidak sadar sudah terjebak di dalamnya.

Di media sosial, tekanannya bahkan berlipat. Perempuan yang vokal di platform digital gampang banget jadi sasaran hate speech, body shaming, sampai ancaman langsung. Algoritma pun sebenarnya tidak netral: konten perempuan yang membahas isu serius sering kalah pamor dibanding konten yang lucu atau menggemaskan. Sistem digital, tanpa disadari, ikut menentukan siapa yang layak didengar.

Yang bikin sedih, banyak perempuan akhirnya menginternalisasi standar ini sendiri. Mereka memilih kata-kata yang lebih halus, menambahkan disclaimer sebelum berpendapat, bahkan minta maaf dulu sebelum menyampaikan kritik. Ini bukan karena mereka tidak percaya diri, ini respons yang sangat logis dari orang yang sudah terlalu sering dihukum karena terlalu jujur. Tapi lama-lama, cara bertahan itu menggerus suara mereka pelan-pelan.

Perubahan ini tidak bisa hanya ditunggu dari perempuannya saja. Semua pihak perlu bergerak, institusi yang perlu menciptakan ruang bicara yang aman, komunitas yang tidak buru-buru melabeli, dan tiap individu yang mau berpikir dua kali sebelum berkomentar soal cara seseorang berbicara. Perempuan tidak seharusnya harus memilih antara didengar atau disukai. Dua-duanya adalah hak yang wajar dan sudah waktunya kita perlakukan seperti itu.Jadi, kapan kita mulai berhenti menghakimi perempuan dari cara mereka berbicara, bukan dari apa yang mereka sampaikan?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image