Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyuddin Luthfi Abdullah

Masjid yang Melayani, Surau yang Mendidik

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-25 07:08:16

Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai daerah kembali dihadapkan pada tawuran remaja, balap liar, dan berbagai bentuk kenakalan yang melibatkan anak muda. Sebagian berakhir dengan luka, sebagian lagi bahkan merenggut nyawa. Kita pun sibuk mencari penyebabnya. Ada yang menyalahkan keluarga, sekolah, hingga media sosial.

Padahal fenomena ini menunjukkan persoalan yang lebih dalam: krisis ruang pembinaan generasi. Ketika energi besar yang dimiliki anak-anak muda tidak menemukan saluran yang tepat, ia mudah berubah menjadi perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Di tengah berbagai penjelasan itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: ke mana anak-anak muda menghabiskan malam mereka?

Pertanyaan ini penting karena karakter tidak dibentuk oleh nasihat sesekali. Karakter dibentuk oleh lingkungan yang secara terus-menerus menemani seseorang menjalani hidupnya.

Al-Qur'an mengingatkan, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga generasi tidak cukup dengan memberi nasihat, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang membiasakan mereka pada kebaikan dan terpelihara dari hal-hal yang buruk.

Dalam konteks itulah dua inisiatif menarik patut mendapat perhatian. Di Sukabumi, Jawa Barat berkembang Gerakan Masjid Sejuta Pemuda. Di Padang, Sumatera Barat hadir program Smart Surau. Keduanya lahir dari daerah yang berbeda, tetapi menawarkan jawaban yang saling melengkapi atas persoalan generasi muda.

Gerakan Masjid Sejuta Pemuda berangkat dari kesadaran bahwa masjid harus menjadi ruang yang ramah bagi anak muda. Masjid tidak cukup hanya menunggu kedatangan jamaah, tetapi juga perlu menghadirkan suasana yang membuat mereka ingin datang kembali.

Kesadaran tersebut tampak dalam cara masjid ini dikelola. Anak-anak muda tidak hanya menjadi jamaah, tetapi juga menjadi pengurus dan penggerak berbagai program yang dijalankan. Tersedia ruang berkumpul yang nyaman, area kafe, serta beragam aktivitas komunitas yang dekat dengan dunia mereka. Bahkan masjid ini dibuka selama 24 jam dan menyediakan tempat beristirahat bagi musafir maupun jamaah yang membutuhkan. Alih-alih hanya menjadi tempat singgah saat waktu shalat tiba, masjid ini berupaya menghadirkan diri sebagai rumah yang terbuka dan hidup sepanjang hari.

Pendekatan ini mengingatkan kita pada masjid pada masa Rasulullah ﷺ. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga ruang belajar, bermusyawarah, dan bertumbuh bersama. Ketika seorang Arab Badui kencing di masjid, Rasulullah ﷺ tidak memilih kemarahan, melainkan pendidikan. Ketika cucu-cucu beliau bermain di masjid, beliau tidak mengusir mereka, tetapi memberi ruang bagi mereka untuk merasa dekat dengan rumah ibadah.

Di sinilah makna penting pelayanan. Masjid yang melayani adalah masjid yang menyambut sebelum menuntut, merangkul sebelum menghakimi, dan membuka ruang keterlibatan sebelum meminta kepatuhan.

Namun membuat pemuda datang ke masjid hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikan kehadiran itu berbuah pada perubahan karakter.

Di sinilah letak kekuatan Smart Surau.

Banyak orang melihat Smart Surau sebatas program yang mendorong kehadiran (absen digital) anak-anak dan remaja di masjid dan mushalla. Padahal maknanya jauh lebih dalam. Program ini berupaya menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat pendidikan masyarakat sebagaimana yang pernah hidup dalam tradisi Minangkabau.

Dalam sejarah Minangkabau, surau bukan sekadar tempat shalat. Surau adalah tempat belajar agama, membentuk adab, melatih kemandirian, menyiapkan generasi penerus masyarakat bahkan pencak silat. Kehadirannya bahkan menjadi bagian penting dari falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Karena itu, ketika Smart Surau membiasakan anak-anak dan remaja dekat dengan surau, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya peningkatan jumlah jamaah. Yang sedang dibangun adalah kebiasaan hidup.

Seorang remaja yang terbiasa shalat berjamaah akan belajar disiplin waktu, mengatur aktivitas hariannya, dan mengendalikan diri. Karakter memang sering kali tidak dibentuk oleh peristiwa besar, tetapi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Jika dicermati, Masjid Sejuta Pemuda dan Smart Surau sesungguhnya menjawab dua kebutuhan dasar generasi muda. Pertama, kebutuhan untuk diterima. Kedua, kebutuhan untuk dibimbing.

Masjid Sejuta Pemuda menunjukkan bahwa anak muda perlu ruang yang membuat mereka merasa dihargai dan dilibatkan. Smart Surau menunjukkan bahwa setelah mereka hadir, proses pendidikan harus berjalan melalui pembiasaan dan pendampingan yang berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tawuran, kekerasan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai krisis generasi lainnya, solusi yang dibutuhkan tidak cukup berupa pengawasan dan penindakan. Generasi muda memerlukan ruang yang membuat mereka merasa diterima sekaligus dibimbing.

Masjid yang melayani akan membuat mereka datang tanpa rasa takut. Surau yang mendidik akan membantu mereka menemukan arah hidupnya. Pelayanan tanpa pendidikan hanya akan melahirkan kedekatan tanpa perubahan. Sebaliknya, pendidikan tanpa pelayanan berisiko melahirkan aturan tanpa kecintaan.

Karena itu, keduanya harus berjalan beriringan. Ketika masjid belajar melayani dan surau kembali mendidik, kita tidak hanya sedang memakmurkan rumah ibadah. Kita sedang menyiapkan generasi yang kelak akan memakmurkannya.

Sebab imam, khatib, guru mengaji, dan pemimpin umat pada masa depan tidak lahir secara tiba-tiba. Mereka tumbuh dari anak-anak yang hari ini merasa diterima di masjid dan dididik di surau.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image