Rupiah Melemah, Rakyat Menjerit: Bukti Rapuhnya Ekonomi Kapitalisme
Update | 2026-05-24 08:06:03Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang nasional ini bukan sekadar angka di layar perdagangan valuta asing, melainkan persoalan yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan pokok naik, biaya impor meningkat, dan beban hidup rakyat semakin berat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih sangat rapuh dan bergantung pada dinamika global. Ketika dolar menguat atau terjadi gejolak ekonomi internasional, rupiah ikut terguncang. Akibatnya, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Media CNBC Indonesia dalam artikel “Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.450/US$” yang terbit pada 15 Mei 2026 melaporkan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen global, terutama penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi dunia. Pelemahan ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Tidak hanya itu, media Tempo dalam artikel “Rupiah Ambrol ke Level 16.500 per Dolar AS” yang diterbitkan pada 15 Mei 2026 juga menyoroti bagaimana pelemahan rupiah berdampak terhadap harga barang impor dan biaya produksi di dalam negeri. Kondisi ini pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di pasaran.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Ada dampak nyata yang langsung dirasakan masyarakat. Pertama, depresiasi rupiah terhadap dolar membuat kondisi perekonomian semakin sulit. Harga bahan baku dan barang impor naik sehingga biaya produksi meningkat. Akibatnya, harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik dan daya beli masyarakat melemah. Perlu diketahui bahwa hampir seluruh komoditas lokal semacam tempe, minyak bumi, hingga gas, semuanya dipenuhi dengan cara impor. Maka jika dolar naik, tentu akan berimbas pada seluruh harga kebutuhan pokok.
Kedua, rakyat semakin terhimpit karena kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Dalam kondisi ekonomi yang berat, banyak masyarakat akhirnya terjerat pinjaman online dan utang konsumtif demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi semakin nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Ketiga, pemerintah tampak memandang persoalan ini sebagai sesuatu yang normal dalam dinamika pasar global. Padahal, pelemahan rupiah terus-menerus justru memperlihatkan lemahnya fondasi ekonomi nasional. Ketika nilai mata uang mudah terguncang oleh faktor eksternal, itu menandakan negara belum memiliki kemandirian ekonomi yang kuat.
Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan hari ini. Dalam sistem kapitalisme, nilai mata uang sangat dipengaruhi mekanisme pasar global dan kepentingan negara-negara kuat. Mata uang menjadi komoditas yang diperdagangkan sehingga nilainya mudah berfluktuasi mengikuti spekulasi pasar.
Akibatnya, negara berkembang seperti Indonesia selalu berada dalam posisi rentan. Ketika terjadi gejolak ekonomi internasional, modal asing keluar, atau dolar menguat, rupiah langsung tertekan. Rakyat pun harus menanggung dampaknya melalui kenaikan harga dan turunnya daya beli.
Masalahnya, pemerintah sering kali tidak memiliki solusi mendasar. Kebijakan yang diambil umumnya hanya bersifat jangka pendek seperti intervensi pasar, menaikkan suku bunga, atau menarik investasi asing lebih besar. Padahal langkah-langkah tersebut justru semakin membuat ekonomi bergantung pada kekuatan modal global.
Dalam kapitalisme, negara memang cenderung berpihak pada kepentingan pasar dan investor. Stabilitas ekonomi lebih banyak diukur dari kepercayaan investor dibanding kesejahteraan rakyat. Selama investasi masuk dan pasar terlihat stabil, persoalan beban hidup masyarakat sering kali tidak menjadi prioritas utama.
Inilah sebabnya rakyat selalu menjadi pihak yang paling dirugikan ketika terjadi krisis ekonomi. Harga kebutuhan naik, lapangan kerja sulit, utang meningkat, tetapi keuntungan tetap mengalir kepada pemilik modal besar. Sistem kapitalisme telah menjadikan ekonomi hanya berputar untuk kepentingan segelintir elit.
Islam memiliki pandangan berbeda dalam mengatur ekonomi dan mata uang. Dalam sistem Islam, negara Khilafah wajib menjaga kestabilan mata uang dengan menggunakan standar yang memiliki nilai intrinsik seperti emas dan perak. Sistem ini membuat mata uang tidak mudah dipermainkan pasar dan lebih stabil terhadap gejolak global.
Selain itu, Islam melarang praktik ribawi dan spekulasi yang menjadi salah satu penyebab ketidakstabilan ekonomi kapitalisme. Aktivitas ekonomi dalam Islam harus berbasis sektor riil sehingga pertumbuhan ekonomi benar-benar ditopang produksi dan distribusi barang yang nyata, bukan permainan finansial.
Negara dalam sistem Islam juga wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dengan demikian, rakyat tidak dibiarkan menghadapi tekanan ekonomi sendirian.
Islam pun mengatur kepemilikan umum seperti sumber daya alam agar dikelola negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing. Pengelolaan yang benar akan menghasilkan pemasukan besar bagi negara sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi tanpa bergantung pada utang luar negeri.
Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum evaluasi terhadap sistem ekonomi kapitalisme yang selama ini diterapkan. Selama ekonomi masih bergantung pada mekanisme pasar global dan kekuatan modal asing, rupiah akan terus rentan mengalami tekanan.
Rakyat pun akan terus menjadi korban setiap kali terjadi gejolak ekonomi dunia. Beban hidup semakin berat, harga kebutuhan meningkat, sementara kesejahteraan semakin jauh dari harapan.
Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi hakiki atas persoalan ekonomi tidak cukup melalui tambal sulam kebijakan kapitalisme. Umat membutuhkan sistem ekonomi Islam yang mampu menghadirkan stabilitas mata uang, keadilan distribusi kekayaan, dan jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Dengan penerapan sistem pemerintahan Islam secara menyeluruh, ekonomi tidak lagi tunduk pada kepentingan pasar global, melainkan diarahkan untuk melayani kebutuhan manusia dan mewujudkan kesejahteraan yang nyata.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
