Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Angelica Sardjono

Bahasa Indonesia di Era Digital: Apakah Masih Ada Kepedulian di Diri Kita?

Gaya Hidup | 2026-05-23 22:29:07

Kemajuan teknologi memang sering mempermudah kehidupan kita dalm sehari hari, mulai dari berkomunikasi, belajar, bahkan bekerja sekarang ada yang sudah bisa dilakukan dengan hanya menggunakan gadget, namun di balik semua keuntungan yang kita dapat itu ada satu hal yang jarang di bahas; cara berbahasa kita

Bahasa Indonesia merupakan salah satu dari indentitas kita sebagai warga negara Indonesia, tanpa Bahasa Indonesia yang kita miliki ini akan mempersulit kita dalam berkomunikasi dengan sesama kita, antar wilayah ataupun Dimana saja itu.

Sayangnya Bahasa Indonesia yang baik dan benar justru sudah jarang di lakukan, apalagi di kalangan anak mudah sekarang, kata-kata gaul asing seperti “healing” “cringe” “overthinking” dan masih banyak lainnya malahan di normalisasikan atau di jadikin bagian dalam Bahasa kita sehari hari.

Sebenarnya hal ini wajar, karena Bahasa memang dinamis, Bahasa sering mengikuti perkembangan perkembangan zaman, namun bagaimana jadinya nya Ketika Bahasa asing sering terlibat dalam Bahasa sehari hari kita?

Hal ini sangat mencolok pada perilaku perilaku mahasiswa, karna ketergantungan nya dengan Bahasa asing yang membuat mahasiswa Ketika membuat suatu tugas tulis, karya ilmiah ataupun tugas lainnya seringkali menggunakan Bahasa campuran, hal ini membuat kualitas tulis menurun karna di anggap tidak sopan atau baku dalam menggunakan Bahasa indonesia.

Padahal kemampuan berbahasa itu sangat penting di dalam dunia Pendidikan, Ketika mahasiswa ingin membuat proposal, karya tulis, maupun melakukan presentasi, hal tersebut justru sangat di butuhkan agar apa yang ingin di sampaikan dapat tersampaikan dengan jelas.

Bahasa juga nyambung dengan cara pikir kita, jika apa yang kita pikirkan dapat di kumpulkan dengan Bahasa yang baik dan jelas, maka apa yang akan kita buat akan lebih terstruktur namun sebaliknya jika apa yang kita pikirkan isinya dengan Bahasa yang acak acak an maka apa yang akan kita buat justru akan kacau.

Ditambah juga di jaman sekarang minat orang untuk membaca jauh menurun, kebanyakan orang lebih memilih menonton video di ponsel daripada membaca, memang hal itu lebih praktis, namun hal ini juga mempengaruhi orang orang dalam mengenal Bahasa Indonesia yang lebih baku.

Padahal membaca itu manfaat nya banyak, kita jadi belajar lebih banyak kosakata lagi, wawasan kita jadi lebih luas, dan tanpa tidak kita sadari kita belajar bagaimana cara kita menulis agar apa yang ki8ta tulis enak untuk di baca orang orang lain.

Namun teknologi tidak sepenuhnya buruk dalam mempengaruhi cara berbahasa kita, contohnya banyak sekali teknologi yang belajar banyak sekali Bahasa, dan dengan itu kita dapat belajar Bahasa asing juga, selagi kita dapat memanfaatkan kelebihan ini dengan baik, tidak akan menjadi halangan untuk berkembang.

Medsos juga bisa dimanfaatin buat hal positif. Banyak kreator yang bikin konten edukatif soal pemakaian bahasa Indonesia yang tepat. Ada yang bahas kosakata baku, kesalahan nulis yang umum, sampai tips nulis yang menarik. Jadi ya, teknologi bisa jadi alat buat jaga bahasa Indonesia — tergantung kita mau manfaatin atau nggak.

Di dalam Pendidikan juga memiliki peran yang penting dalam mengembangkan hal tersebut, misal, mata kuliah Bahasa Indonesia sering sekali di sepelehkan dan dianggap tidak terlalu penting, namun justru hal tersebut justru sangat di butuhkan dalam dunia pekerjaan, yaitu skill kita dalam berkomunikasi yang baik dan jelas.

Di dunia professional hal tersebut juga di butuhkan daripada skill skill tertentunya, percuma jika seseorang mempunyai ilmu tapi cara menyampaikan suatu hal tersebut tidak dapat di mengerti oleh lawan bicara, atau hal yang disampaikan dianggap tidak jelas.

Makanya belajar bahasa Indonesia itu tidak buang-buang waktu. Di sana kita belajar berpikir kritis, menyusun argumen, nulis dengan sistematis. Skill itu kepake di mana-mana, tidak hanya pada saat ujian.

Lingkungan juga sangat berpengaruh besar, jika hal yang salah terus di normalisasikan makanyas orang orang sekitar juga akan meanggap har tersebut sebagai hal yang normal atau tidak salah, maka kita harus mulai dari diri kita sendiri, ubah hal yang kita anggap tidak bagus, dan berani untuk menegur sesuatu yang tidak bagus.

Contoh nya dalam kasus Bahasa Indonesia yang seringkali di campur dengan bahasaq asing, kitab isa ubah kebiasaan ini mulai dari diri kita sendiri, agar tidak di salah gunakan di masa yang akan mendatang.

Bahasa asing yang sering kali di campur dengan Bahasa sehari hari kita membuat beberapa orang mulai terbiasa dengan menggunakan Bahasa asing tersebut dan melupakan Bahasa ibu kita, dan juga banyaknya orang yang merasa bahwa Bahasa asing terdengar lebih keren dari Bahasa kita sendiri membuat banyak orang lebih memilih lebih menggunakan Bahasa asing.

Memang belajar Bahasa asing juga itu perlu, namun pentingnya untuk tidak melupakan Bahasa yang kita gunakan sejak dulu, yaitu Bahasa Indonesia,

namun memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan berarti harus selalu terlihat formal dan kaku, itu juga bisa bergantung dengan konteks yang di tujuh.

Sebagai generasi muda, ada tanggung jawab buat jaga bahasa ini supaya nggak kehilangan jati dirinya. Kita emang bisa untuk belajar Bahasa asing dan mengikuti globalisasi, tapi untuk tidak melupakan Bahasa kita sendiri juga sangat penting, dua hal tersebut justru bisa berjalan bersamaan.

Jepang sama Korea Selatan contohnya. Dua negara itu udah maju banget secara teknologi dan ekonomi, tapi tetep konsisten pakai bahasa nasional mereka. Bahasa asing dipakai kalau perlu, bukan jadi pilihan utama. Kemajuan dan identitas bahasa bisa berdampingan — mereka udah buktiin itu.

Intinya, kemajuan teknologi dan medsos emang udah bawa banyak perubahan. Komunikasi jadi lebih cepet, lebih gampang. Tapi di tengah semua itu, jangan sampai kita lupa bahwa bahasa Indonesia adalah bagian dari siapa kita.

Bahasa Indonesia bukan cuma pelajaran di sekolah atau mata kuliah di kampus. Dia bagian dari budaya dan kehidupan kita sehari-hari. Kalau generasi muda mulai lebih peduli dan mau pakai bahasa ini dengan bener, bahasa Indonesia bakal terus hidup dan berkembang. Karena pada akhirnya, menjaga bahasa berarti juga kita menjaga identitas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image