Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ruhan Amrina

Tahun 2026: Ketika Uang 50 Ribu Kehilangan Harga Dirinya

Politik | 2026-05-21 22:27:24

 

Selamat datang di tahun 2026, era di mana lembaran 50 ribu rupiah bertransformasi menjadi sekadar pengganjal dompet. Menyebutnya memiliki "daya beli" adalah lelucon fiksi ilmiah terbaik tahun ini. Sungguh sebuah prestasi gemilang dari para pembuat kebijakan yang ahli dalam "mengolah rakyat": berhasil membuat harga barang melesat sekencang roket, sementara pendapatan utama tetap sedatar garis mati.

Apresiasi setinggi-tingginya untuk rentetan program cacat yang sukses menghabiskan anggaran tanpa efek domino di akar rumput. Berhentilah mengkhotbahi kami soal "kurang hemat". Ini bukan masalah personal, ini masalah bobroknya struktural bangsa

Kalkulasi Absurd Abad Ini

Mencari uang seratus ribu rupiah butuh waktu seharian penuh dengan mandi keringat, namun untuk menghabiskannya di kasir, tidak sampai hitungan menit.

Ironisnya, di tengah impitan ini, rakyat justru dituntut menjadi manusia super. Kita dipaksa menguasai segudang skill baru—mulai dari digital marketing, desain, hingga jadi driver ojek online sepulang kerja, hanya demi mengais income tambahan. Lucu sekali, negara gagal menyediakan lapangan kerja dan upah yang layak, tapi rakyat yang diwajibkan melakukan upgrade diri gila-gilaan agar tidak mati kelaparan. Kita dipaksa memeras otak dan raga 24 jam sehari hanya untuk menutup celah inflasi yang mereka ciptakan sendiri.

Hari ini, seluruh pendapatan (dan sisa-sisa tenaga dari kerja sampingan) habis hanya untuk kebutuhan domestik paling dasar: makan, kontrak rumah, listrik, internet, dan bensin. Kita dipaksa bertahan hidup hari ini, sambil berdoa setengah mati agar lusa tidak jatuh sakit karena kelelahan karena jika itu terjadi, kita bahkan tidak tahu harus meminjam uang ke mana. Atau bahkan pinjol menjadi jalan pintasnya?

Terima kasih atas pengelolaan yang begitu "brilian" ini. Tahun 2026 akan dikenang sebagai momen di mana uang 50 ribu resmi tidak ada harga dirinya, kalah jauh dari harga diri penguasa yang tetap nyaman di kursinya, tuli dari jeritan isi dompet rakyat yang sudah bekerja rodi melampaui batas waras.

Penulis : Ruhan Amrina

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image