Memaknai Syukur sebagai Kunci Damai Hidup
Agama | 2026-05-21 13:20:16
Di tengah dunia yang bergerak serbacepat, manusia sering kali terjebak dalam siklus merasa kurang akibat tekanan target hidup dan kompetisi di media sosial. Padahal, ada satu kunci sederhana yang sering dilupakan untuk meraih kebahagiaan sejati, yaitu bersyukur. Secara bahasa, syukur berasal dari kata syakara-yasykuru yang berarti membuka atau menampakkan nikmat, kebalikan dari kufur (menutup). Secara istilah, syukur adalah pengakuan hati atas segala pemberian Allah SWT yang kemudian diucapkan lewat lisan penuh pujian dan dibuktikan melalui tindakan nyata yang diridai-Nya.
Dalam pandangan Islam, bersyukur bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah perintah yang berbalas jaminan peningkatan kualitas hidup. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7, Allah menegaskan bahwa barang siapa yang bersyukur maka nikmatnya akan ditambah, namun jika kufur maka azab yang berat akan menanti. Selaras dengan hal tersebut, Rasulullah SAW dalam haditsnya juga mengingatkan bahwa syukur kepada Tuhan tidak akan sempurna jika seseorang belum mampu berterima kasih dan mengapresiasi kebaikan sesama manusia.
Para ulama pun memberikan pandangan mendalam mengenai anatomi rasa syukur ini agar tidak sekadar menjadi jargon di lisan. Imam Al-Ghazali, misalnya, membagi syukur ke dalam tiga tingkatan yang saling mengikat, yaitu ilmu (kesadaran hati), hal (kondisi batin yang mencintai Tuhan), dan amal (perbuatan nyata). Sementara itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah merumuskan tiga pilar utama syukur yang praktis: tunduknya hati dalam pengakuan nikmat, lisan yang senantiasa memuji tanpa berniat pamer, serta anggota badan yang aktif digunakan untuk ketaatan.
Pada tataran praktis, nilai-nilai syukur ini harus membumi dan dimanifestasikan dalam tiga ranah utama kehidupan, dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Di dalam rumah, syukur diterapkan dengan saling mengapresiasi peran antaranggota keluarga dan mengurangi keluhan, sementara di lingkungan kampus, syukur diwujudkan oleh mahasiswa melalui kesungguhan belajar, menghormati dosen, serta menjaga fasilitas akademik. Adapun di ranah masyarakat, rasa syukur tersebut dikonversi menjadi aksi sosial seperti menjaga kebersihan lingkungan, aktif bergotong royong, dan menjaga tenggang rasa antar-tetangga.
Pada akhirnya, esensi dari bersyukur adalah mengubah sudut pandang kita dalam melihat dan merespons kehidupan. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah menghampiri mereka yang selalu fokus pada apa yang belum dimiliki, melainkan bagi mereka yang merayakan apa yang telah ada di tangan. Dengan menjadikan syukur sebagai gaya hidup, setiap tantangan akan berubah menjadi pelajaran berharga, dan setiap kelebihan akan menjadi berkah yang meluas bagi orang-orang di sekitar kita.
Oleh: Hikmatul Aulia
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
