Antara Efisiensi dan Efektivitas: Dilema WFH dalam Dunia Perkuliahan
Eduaksi | 2026-05-21 00:13:49Sejak April 2026, dunia perkuliahan di Indonesia mulai mengalami penyesuaian baru. Lewat Surat Edaran Mendiktisaintek Nomor 2 Tahun 2026, kampus-kampus didorong untuk menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel, diantaranya termasuk Work From Home (WFH). Aturan ini memuat jatah penyesuaian pola kerja dan kuliah hibrida/daring bagi dosen dan tenaga kependidikan. Tujuannya sederhana, yakni untuk membuat sistem pendidikan lebih efisien dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kehadiran fisik.
Sejumlah kampus pun mulai bergerak. Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Makassar sudah lebih dulu menyesuaikan pola kerja dan perkuliahan sejak awal April. Tak ketinggalan, Universitas Airlangga juga mulai menerapkan WFH secara terjadwal, misalnya satu hari dalam seminggu sebagai bagian dari transisi menuju sistem kerja yang lebih fleksibel dan berbasis digital.
Di atas kertas, kebijakan ini terdengar menjanjikan. Mahasiswa dapat berkuliah tanpa harus selalu datang ke kampus, sehingga lebih hemat waktu dan juga biaya transportasi. Dosen pun punya ruang lebih untuk dapat fokus pada penelitian atau bimbingan tanpa harus terikat rutinitas hadir setiap hari dan dapat tetap mengisi mata kuliah meskipun berada di jarak yang jauh.
Tapi realitanya, tidak sesederhana itu. Masalah pertama yang langsung terasa adalah soal efektivitas belajar. Tidak semua materi cocok disampaikan secara daring. Di kelas online, diskusi sering terasa kurang hidup. Mahasiswa cenderung diam, kamera dan mikrofon mati, serta interaksi menjadi sangat minim. Kehadiran memang tercatat, tapi belum tentu benar-benar belajar dan memperhatikan.
Belum lagi kondisi tiap mahasiswa yang berbeda. Tidak semua punya lingkungan rumah yang kondusif. Ada yang terganggu oleh suasana di sekitarnya, ada yang sinyalnya naik turun. Akhirnya, fleksibilitas yang awalnya jadi keunggulan, justru bisa berubah jadi hambatan.
Dari sisi dosen, WFH memang memberi keleluasaan. Tapi di saat yang sama, batas antara kerja dan waktu pribadi jadi makin tipis. Pesan mahasiswa bisa datang kapan saja, koordinasi harus tetap jalan, dan tuntutan untuk selalu siap online justru bisa jadi beban baru.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu. Apakah lebih efisien berarti lebih efektif?
Kampus bukan sekadar tempat menerima materi. Tapi juga menjadi tempat interaksi, diskusi, bahkan proses pembentukan cara berpikir yang sering kali terjadi justru di luar slide presentasi. Ketika pertemuan fisik dikurangi, ada pengalaman belajar yang perlahan ikut hilang meskipun tidak langsung terlihat.
Bukan berarti kebijakan ini sepenuhnya salah. Dalam kondisi tertentu, WFH tetap relevan, bahkan bisa menjadi solusi. Tetapi, apabila diterapkan tanpa kesiapan yang matang, jelas menimbulkan risiko berupa kualitas pembelajaran yang dapat menurun.
Pada akhirnya, dilema ini bukan soal memilih antara efisiensi atau efektivitas. Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan keduanya. Karena pendidikan yang baik bukan cuma soal mudah diakses, tapi juga soal seberapa dalam ilmu itu benar-benar dipahami.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
