Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wani Maler

Tradisi Mumifikasi Tertua Dunia Ternyata Berasal dari Chile

Sejarah | 2026-05-20 16:52:04

Oleh S. Wani Maler

Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Mumi anak dari budaya Chinchorro dengan lapisan hitam khas ritual mumifikasi(Sumber. Bernando Arriaza)

Di pesisir Gurun Atacama bagian Chile utara, hidup sebuah masyarakat pemburu dan pengumpul laut bernama Chinchorro yang berkembang antara sekitar 5450 hingga 890 SM. Mereka tinggal di salah satu wilayah paling kering di dunia. Lingkungan yang ekstrem itu justru membantu menjaga tinggalan arkeologi mereka selama ribuan tahun. Namun yang membuat budaya Chinchorro sangat penting bukan hanya karena keberhasilannya bertahan di gurun, melainkan karena mereka meninggalkan bukti mumifikasi buatan tertua yang pernah ditemukan (Arriaza, 1995).

UNESCO menyebut situs Chinchorro sebagai bukti paling awal tentang praktik mumifikasi manusia secara sengaja. Tradisi ini muncul jauh sebelum praktik mumifikasi Mesir kuno berkembang. Di berbagai pemakaman Chinchorro ditemukan tubuh laki-laki, perempuan, hingga anak-anak yang dimumikan dengan teknik sangat kompleks. Tubuh-tubuh itu tidak hanya dikeringkan secara alami, tetapi dibongkar, dibersihkan, lalu dirakit kembali untuk membentuk mumi buatan.

Proses mumifikasi Chinchorro menunjukkan kemampuan teknis dan spiritual yang tinggi. Beberapa tubuh diperkuat dengan tongkat, dibentuk ulang menggunakan tanah liat, lalu ditutup dengan lapisan mineral atau pigmen hitam dan merah. Banyak mumi juga memiliki kualitas artistik yang kuat sehingga tampak seperti patung manusia (Arriaza, 2026). UNESCO menilai praktik ini menunjukkan pentingnya peran orang mati dalam kehidupan sosial masyarakat Chinchorro.

Menariknya, mumifikasi tidak terbatas pada elite tertentu. Temuan arkeologi memperlihatkan bahwa berbagai kelompok usia dan status sosial dimumikan. Hal ini berbeda dengan banyak tradisi pemakaman kuno lain yang biasanya hanya dilakukan untuk kalangan penguasa atau bangsawan (Sanz et.al, 2015).

Selain pemakaman, situs Chinchorro juga memperlihatkan bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan gurun yang sangat keras. Kelompok ini memanfaatkan sumber daya laut secara intensif dengan menggunakan alat dari batu, tulang, tumbuhan, dan cangkang. Timbunan kerang, alat tangkap, serta sisa permukiman menunjukkan bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada laut di tepi Gurun Atacama (Casanova et.al, 2026).

Kondisi lingkungan yang sangat kering membuat banyak mumi dan artefak tetap terawetkan dengan baik hingga sekarang. Sebagian besar tinggalan bahkan masih berada di lokasi aslinya dan belum terganggu selama ribuan tahun. Karena itu situs Chinchorro tidak hanya penting bagi studi mumifikasi, tetapi juga bagi pemahaman tentang hubungan manusia dengan lingkungan ekstrem di masa prasejarah.

Budaya Chinchorro akhirnya memperlihatkan bahwa masyarakat pemburu dan pengumpul pun mampu mengembangkan sistem ritual dan spiritual yang sangat kompleks. Jauh sebelum munculnya kerajaan besar dan kota monumental, manusia di pesisir Gurun Atacama sudah memikirkan cara menjaga tubuh orang mati agar tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.


Referensi

Arriaza, B. T. (1995). Chinchorro bioarchaeology: chronology and mummy seriation. Latin American Antiquity, 6(1), 35-55.

Arriaza, B. (2026). The Artistic Nature of the Chinchorro Mummies and the Archaeology of Grief. Cambridge Archaeological Journal, 36(1), 117-134.

Casanova, P., Power, X., Díaz, S., Smith, S., Guzmán, C., & Castillo, C. (2026). Community Role in Conservation and Management of the Chinchorro Culture Settlement, Northern Chilean Atacama Desert, UNESCO World Heritage Site. Archaeological Heritage Management: Processes and Models for Comparison Across Europe and Beyond, 213.

Sanz, N., Arriaza, B. T., & Standen, V. G. (2015). The Chinchorro culture: A comparative perspective, the archaeology of the earliest human mummification. UNESCO Publishing.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image