Kota Kuno di Tengah Gurun Arab Ini Hilang setelah Airnya Habis
Sejarah | 2026-05-18 16:33:38Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Di bagian selatan Arab Saudi terdapat sebuah lanskap arkeologi luas bernama Al-Faw yang selama ribuan tahun menjadi tempat hidup berbagai kelompok manusia. Kawasan ini berada di pertemuan Gurun Rub’ al Khali dan dataran batu Jabal Tuwayq. Posisi tersebut menjadikannya titik penting dalam jalur perdagangan kuno di Semenanjung Arab.
UNESCO mencatat lebih dari 12.000 tinggalan arkeologi ditemukan di kawasan ini. Temuannya sangat beragam. Mulai dari alat batu Paleolitik dan Neolitik, struktur batu berbentuk lingkaran, makam tumuli, ukiran batu, oasis, sistem pengelolaan air, hingga sisa kota kuno Qaryat al-Faw. Seluruh tinggalan ini menunjukkan bahwa wilayah yang kini sangat kering dahulu pernah dihuni secara intensif oleh berbagai komunitas manusia.
Qaryat al-Faw berkembang sebagai kota karavan penting sejak pertengahan milenium pertama SM. Kota ini menjadi penghubung perdagangan antara Arabia selatan, Teluk Persia, Mesopotamia, dan kawasan Mediterania. Kawasan permukiman, pusat perdagangan, benteng, serta area pemakaman menunjukkan bahwa Al-Faw bukan sekadar persinggahan kecil di gurun, tetapi kota kosmopolitan yang aktif dan terhubung dengan dunia luar.
Menariknya, keberagaman budaya di Al-Faw masih dapat dilihat melalui berbagai prasasti dan ukiran batu. Banyak tulisan ditemukan dalam bahasa dan sistem aksara yang berbeda. Hal ini memperlihatkan bahwa kawasan tersebut dihuni dan dikunjungi oleh kelompok dengan latar budaya beragam selama berabad-abad (Abd El-Basset,2023).
whc.unesco.org/en/documents/198599)" />
Al-Faw juga memperlihatkan bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan gurun yang terus berubah. UNESCO menekankan bahwa wilayah Arabia dahulu memiliki iklim yang jauh lebih basah sebelum perlahan menjadi salah satu kawasan paling kering di dunia. Sistem oasis dan irigasi di Al-Faw menunjukkan upaya masyarakat kuno mempertahankan kehidupan di tengah perubahan lingkungan yang semakin ekstrem.
Namun perubahan iklim akhirnya menjadi ancaman yang tidak dapat diatasi. Berkurangnya sumber air secara permanen menyebabkan kota ini ditinggalkan sekitar abad ke-5 M. Setelah itu Al-Faw perlahan tertutup lingkungan gurun dan tetap relatif tidak terganggu selama berabad-abad.
Kondisi gurun yang kering justru membantu menjaga tinggalan arkeologinya tetap utuh. Banyak struktur, makam, dan lanskap budaya masih bertahan hingga sekarang (Charloux et. al, 2022-2023). Al-Faw akhirnya menjadi bukti penting bahwa gurun Arab tidak selalu kosong dan tandus seperti hari ini, tetapi pernah menjadi ruang hidup dan pertemuan berbagai budaya di masa lalu.
Referensi
Abd El-Basset, M. (2023). A Unique Bes Figurine from Al-Faw, Saudi Arabia. مجلة کلية الآثار. جامعة القاهرة, 14(26), 385-403.
Charloux, G., Cristofoli, F., Creissen, T., Alonazi, M., Darchambeau, A., Prioletta, A., ... & Wadel, A. (2023, August). The Protohistoric and Antique Landscapes of Qaryat al-Faw. The Saudi Heritage Commission Archaeological Mapping Project (2021-2022). In Proceedings of the Seminar for Arabian Studies (Vol. 52, pp. 45-69).
UNESCO – The Cultural Landscape of Al-Faw Archaeological Area
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
