Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wani Maler

Machu Picchu dan Cara Peradaban Inca Menaklukkan Pegunungan

Sejarah | 2026-05-12 23:37:58

Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Sejarah Universitas Andalas



Machu Picchu dibangun di pegunungan Andes dan dirancang menyatu dengan lanskap alam di sekitarnya.(Sumber. Arturo Bullard Gonzales)

Di ketinggian lebih dari 2.400 meter di atas permukaan laut, peradaban Inca membangun sebuah kota batu yang hingga hari ini masih dianggap sebagai salah satu pencapaian arsitektur paling luar biasa di dunia. Kota itu bernama Machu Picchu. Terletak di antara Pegunungan Andes dan wilayah Amazon Peru. Situs ini berdiri di lanskap yang curam dan sulit dijangkau. Namun justru kondisi alam itulah yang membuat Machu Picchu berbeda dari banyak kota kuno lainnya.

Machu Picchu dibangun pada abad ke-15 dan kemungkinan berfungsi sebagai pusat religius, astronomi, serta pertanian bagi elite Inca. Sekitar 200 struktur batu berdiri di atas punggung pegunungan yang sempit. Seluruh tata kotanya mengikuti perencanaan yang sangat teratur. Area pertanian dipisahkan dari kawasan permukiman dan ruang ritual. Teras-teras batu dibangun untuk menahan erosi sekaligus menciptakan lahan tanam di lereng yang curam (MacLean, 1986).

Hal yang membuat Machu Picchu menonjol bukan hanya bangunannya, tetapi cara kota ini menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Dinding, tangga, dan teras tampak seperti bagian alami dari pegunungan Andes (Doig, 2014). UNESCO bahkan menyebut kota ini sebagai hasil integrasi luar biasa antara manusia dan alam. Dalam banyak bagian, batuan asli tidak dipotong habis tetapi dijadikan bagian dari struktur bangunan sehingga kota ini terasa seperti perpanjangan dari lanskap itu sendiri.

Sistem jalan, kanal air, dan irigasi juga menunjukkan tingkat rekayasa yang tinggi. Peradaban Inca mampu membangun infrastruktur di wilayah dengan topografi ekstrem tanpa teknologi logam modern atau roda transportasi seperti yang dikenal di dunia lama. Kota ini sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat Inca memahami kondisi lingkungan pegunungan dan memanfaatkannya tanpa sepenuhnya mengubah bentuk alam (Sieczkowska et.al, 2023).

Selain nilai budaya, kawasan Machu Picchu juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Lereng timur Andes hingga hutan awan tropis di sekitarnya menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna endemik. Kombinasi antara lanskap alam dan arsitektur kuno inilah yang membuat Machu Picchu diakui UNESCO sebagai warisan budaya sekaligus warisan alam dunia (Maxwell & Ypeij, 2009).

Machu Picchu ditinggalkan setelah penaklukan Spanyol pada abad ke-16 dan perlahan tertutup vegetasi pegunungan. Dunia luar baru mengenal kembali situs ini pada tahun 1911 setelah diperkenalkan oleh Hiram Bingham. Isolasi dan kondisi geografisnya justru membantu menjaga sebagian besar struktur tetap bertahan hingga sekarang.

Popularitas Machu Picchu saat ini membawa tantangan baru. Jumlah wisatawan yang terus meningkat mulai memberi tekanan pada ekosistem dan struktur arkeologinya. UNESCO mencatat ancaman seperti pembangunan infrastruktur, limbah, erosi, dan tekanan lingkungan sebagai masalah serius bagi keberlanjutan situs ini. Machu Picchu akhirnya bukan hanya tentang kejayaan Inca, tetapi juga tentang bagaimana manusia modern menjaga warisan yang dibangun berabad-abad lalu di tengah pegunungan Andes.


Referensi

Doig, F. K. (2014). Machu Picchu: Wonder of Inca Architecture. LEX, 319.

MacLean, M. G. (1986). Sacred land, sacred water: Inca landscape planning in the Cuzco area (architecture, Peru, Machu Picchu). University of California, Berkeley.

Maxwell, K. B., & Ypeij, A. (2009). Caught between nature and culture: Making a living within the World Heritage Site of Machu Picchu, Peru. Cultural Tourism in Latin America. The Politics of Space and Imagery. CEDLA Latin American Studies, 96.

Sieczkowska, D., Anna, K. S., & Bastante, J. M. (2023). Inca builders at Machu Picchu National Archaeological Park. Archaeometry, 65(4), 924-938.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image