Siti Hajar: Dari Lembah Tandus ke Mata Air Abadi
Kisah | 2026-05-19 18:50:43Kisah Siti Hajar AS begitu mulia dan menyimpan keteladanan dalam memaknai kehidupan. Ia ditinggalkan di lembah tandus, tidak ada apa-apa di sana, tidak ada manusia dan tumbuhan bahkan tidak ada sumber air. Ia hanya berdua dengan anaknya yang masih bayi, di tengah gersang dan panasnya lembah itu. Bertarung dengan kelaparan saat perbekalan semakin menipis dan air susunya semakin mengering. Bersama keikhlasan ia datang ke tempat itu untuk memenuhi perintah Allah SWT.
Dalam kegersangannya Siti Hajar AS tidak pernah marah dan berprasangka buruk kepada Allah SWT. Terngiang-ngiang apa yang diucapkannya kepada Nabi Ibrahim AS, “Jika ini perintah Allah SWT, maka Ia tidak akan menelantarkan hamba-Nya.” Yakin dan percaya. Ia percaya sepenuhnya kepada Allah SWT bahwa di mana pun ia berada, ia akan dicukupkan dan terjamin.
Namun, bukan duduk diam dan meratapi nasib yang dilakukan Siti Hajar AS ketika perbekalan semakin habis. Ia bergerak. Ia bertindak. Ia menjemput rezekinya dengan tangguh bersama keyakinan penuh. Siti Hajar AS terus berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwah mencari air untuk anaknya yang menangis kehausan. Ia berlari terus walaupun tidak ada tanda-tanda usahanya akan berhasil. Tidak ada apa-apa di kedua bukit itu, namun ia tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. Setelah tujuh kali berlari pertolongan pun hadir dari tempat yang tidak disangka-sangka.
Mata air hadir dari bayi Ismail AS yang mengentakkan kakinya. Buah ikhtiar, tawakal dan kesabaran Siti Hajar AS telah berhasil mengubah lembah tandus menjadi sumber mata air abadi. Air zamzam yang kini telah mengobati dahaga banyak orang yang datang ke tempat sumbernya.
Baca juga: Membaca Pola Manipulasi Gaslighting Fir'aun terhadap Nabi Musa AS
Jika Siti Hajar AS tahu bahwa air akan muncul dari tempat yang dekat dengannya dan anaknya, mungkin dia tidak akan berlari tujuh kali bolak-balik dari bukit Shafa ke Marwah. Namun kita diajarkan tentang totalitas dalam ikhtiar walaupun hasilnya belum terlihat, walaupun hasilnya terpotret mustahil dan tidak mungkin. Sebab Allah selalu memiliki rencana-Nya. Pertolongan-Nya hadir setelah kita benar-benar yakin dan berusaha melakukan apa yang kita bisa untuk beribadah kepada-Nya. Kisah ini diabadikan dan jejaknya menjadi rukun wajib ibadah haji dan umrah yang kita kenal dengan Sa’i. Ibadah berjalan atau berlari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang dilakukan sebanyak tujuh kali.
Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (Lihat QS: Al-Baqarah (2): 158)
Kita berada Pada Lembah Gersang Masing-Masing
Saat ini, kita mungkin tengah berada pada lembah gersang kita masing-masing. Ada yang kesulitan mencari pekerjaan, ada yang sakit dan proses mencari kesembuhan, ada yang sedang berproses mencari jodohnya, atau hal-hal yang kita anggap sedang berada dalam titik terendah kita dan merasa sendirian menghadapi semuanya.
Jangan mudah putus asa dalam menjalani takdir dan kehidupan. Memang seakan semua terasa gelap dan melihat semuanya tidak mungkin berhasil dan tidak ada seorang pun untuk menolong. Akan tetapi, selama kita yakin kita punya Allah SWT dan kita berusaha, berikhtiar untuk melakukan apa yang kita bisa, Allah SWT menilai prosesnya alih-alih pada hasil saja.
Tidak ada gunanya jika kita marah dan menghakimi semua orang. Allah melihat ikhtiar kita, menilai tawakkal kita dan do’a-do’a kita. Allah menyukai kita berusaha sekuat tenaga, menyukai kita berserah kepada-Nya. Jika kita sudah menyempurnakan ikhtiar, do'a dan tawakkal, insya Allah pertolonganNya akan hadir pada kita. Pertolongan yang hadir di waktu yang tepat lewat tempat yang mungkin sama sekali tidak bisa kita bayangkan sebelumnya. Persis seperti bagaimana Siti Hajar AS menjemput zam-zamnya.
Sebab perjalanan Siti Hajar AS dan Ismail AS adalah pembuktian bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkan hamba-Nya. Allah SWT selalu ada untuk terus memberi kepada kita. Bukan karena siapanya kita, tetapi karena Allah SWT adalah Yang Maha Memberi dan Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
