Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Farhan Ma'ruf

Mengungkap Dimensi sufistik dalam Tafsir Al-Qouran

Agama | 2026-05-18 16:32:01
Nama : M Farhan Ma’ruf

kelas : Ilmu tasawuf 4b

RESENSI BUKU

Tafsir Tasawuf: Menyelami Makna Batin Al-Qur’an

Karya Hasani Said Ahmad (2026)

Identitas Buku

* Judul Buku: Tafsir Tasawuf: Menyelami Makna Batin Al-Qur’an

* Penulis: Hasani Said Ahmad

* Tahun Terbit: 2026

* Penerbit: —

* Jumlah Halaman: +200

* Kategori: Tafsir, Tasawuf, Studi Al-Qur’an

* Bahasa: Indonesia

Pendahuluan

Buku Tafsir Tasawuf: Menyelami Makna Batin Al-Qur’an karya Hasani Said Ahmad

merupakan salah satu karya yang membahas hubungan antara ilmu tafsir Al-Qur’an dan tasawuf

secara mendalam. Buku ini hadir sebagai upaya untuk memperkenalkan kepada pembaca bahwa

Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dipahami dari sisi lahiriah atau tekstual saja, tetapi juga

memiliki dimensi batiniah yang sangat luas dan mendalam. Penulis berusaha menjelaskan bahwa

di balik setiap ayat Al-Qur’an terdapat hikmah spiritual yang dapat mendekatkan manusia

kepada Allah SWT apabila dipahami dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.

Dalam kehidupan modern saat ini, manusia sering kali lebih fokus pada urusan duniawi,

materi, dan kehidupan yang bersifat fisik. Akibatnya, banyak orang mengalami kegelisahan

batin, kekosongan spiritual, bahkan kehilangan arah hidup. Melalui buku ini, penulis mencoba

menawarkan tafsir tasawuf sebagai salah satu jalan untuk memahami Al-Qur’an secara lebih

mendalam sehingga manusia dapat menemukan ketenangan hati dan makna hidup yang

sesungguhnya.Penulis menjelaskan bahwa tafsir tasawuf tidak berarti mengabaikan makna zahir Al-

Qur’an, melainkan menambahkan pemahaman spiritual terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh

sebab itu, buku ini sangat penting bagi mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum yang

ingin mempelajari dimensi spiritual Islam secara lebih luas.

Ringkasan Isi Buku

1. Pengertian Tafsir Tasawuf

Pada bagian awal buku, penulis menjelaskan pengertian tafsir tasawuf. Tafsir tasawuf

adalah penafsiran Al-Qur’an yang menitikberatkan pada makna batiniah atau spiritual dari ayat-

ayat Al-Qur’an. Tafsir ini berkembang di kalangan para sufi yang berusaha memahami Al-

Qur’an tidak hanya melalui akal dan bahasa, tetapi juga melalui pengalaman ruhani dan

penyucian jiwa. Menurut penulis, para sufi percaya bahwa Al-Qur’an memiliki lapisan makna

yang sangat dalam. Makna lahiriah tetap penting, tetapi makna batiniah dianggap mampu

memberikan pemahaman spiritual yang lebih tinggi. Oleh karena itu, seorang mufasir sufi harus

memiliki hati yang bersih, akhlak yang baik, dan kedekatan kepada Allah agar mampu

memahami pesan-pesan spiritual dalam Al-Qur’an.

Penulis juga menegaskan bahwa tafsir tasawuf yang benar tidak boleh bertentangan

dengan syariat Islam maupun makna zahir Al-Qur’an. Tafsir tasawuf harus tetap berlandaskan

Al-Qur’an dan hadis agar tidak menyimpang dari ajaran Islam.

2. Sejarah Perkembangan Tafsir Tasawuf

Pada bagian berikutnya, penulis membahas sejarah perkembangan tafsir tasawuf.

Dijelaskan bahwa tafsir tasawuf mulai berkembang sejak masa awal Islam ketika muncul

kelompok-kelompok sufi yang lebih menekankan kehidupan spiritual dan pendekatan hati dalam

beribadah. Perkembangan tafsir tasawuf semakin pesat pada abad pertengahan Islam. Banyak

ulama sufi mulai menulis kitab tafsir yang mengandung makna-makna spiritual. Dalam buku ini

disebutkan beberapa tokoh penting seperti Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Al-Qusyairi, dan Jalaluddin

Rumi. Mereka memberikan kontribusi besar dalam memperkaya khazanah tafsir spiritual dalam

Islam.

Penulis menjelaskan bahwa para ulama sufi memahami Al-Qur’an sebagai pedoman

penyucian jiwa. Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan moral, spiritual,

dan pembinaan hati agar manusia mampu mencapai kedekatan dengan Allah SWT.

3. Karakteristik Tafsir Tasawuf

Dalam buku ini dijelaskan beberapa ciri utama tafsir tasawuf. Pertama, tafsir tasawuf

lebih menekankan makna batin dibandingkan makna lahiriah. Kedua, tafsir ini menggunakanpendekatan spiritual dan pengalaman ruhani. Ketiga, tafsir tasawuf bertujuan memperbaiki

akhlak dan membersihkan hati manusia.

Penulis juga menjelaskan bahwa tafsir tasawuf sering menggunakan simbol-simbol

spiritual dalam memahami ayat Al-Qur’an. Misalnya, cahaya diartikan sebagai petunjuk Allah,

perjalanan dipahami sebagai perjalanan menuju Tuhan, dan hati dianggap sebagai pusat spiritual

manusia.

Selain itu, tafsir tasawuf sangat menekankan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian

jiwa. Menurut penulis, hati yang dipenuhi sifat sombong, iri, dan cinta dunia akan sulit

memahami hikmah Al-Qur’an. Oleh karena itu, seorang muslim harus memperbaiki akhlaknya

terlebih dahulu sebelum memahami makna spiritual Al-Qur’an.

4. Contoh Penafsiran Sufistik

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah contoh-contoh penafsiran sufistik

terhadap ayat Al-Qur’an. Penulis memberikan penjelasan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dapat

dipahami secara lebih mendalam melalui pendekatan spiritual. Sebagai contoh, ayat tentang

cahaya dalam Surah An-Nur ditafsirkan bukan hanya sebagai cahaya fisik, tetapi juga cahaya

iman yang menerangi hati manusia. Begitu pula ayat tentang perjalanan Nabi Musa dipahami

sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju kedekatan dengan Allah.

Penulis menjelaskan bahwa tafsir seperti ini bertujuan agar manusia tidak hanya

membaca Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga mampu mengambil hikmah dan pelajaran untuk

kehidupan spiritual sehari-hari.

5. Relevansi Tafsir Tasawuf di Era Modern

Penulis menilai bahwa tafsir tasawuf masih sangat relevan pada masa sekarang. Di

tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, banyak manusia mengalami krisis spiritual dan

kehilangan ketenangan hidup. Kehidupan modern yang terlalu materialistis sering membuat

manusia jauh dari nilai-nilai spiritual.

Melalui tafsir tasawuf, manusia diajak untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah,

memperbaiki akhlak, dan menenangkan hati. Penulis menjelaskan bahwa tasawuf bukan berarti

meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Buku ini juga menjelaskan bahwa tafsir tasawuf dapat membantu membangun sikap sabar,

ikhlas, rendah hati, dan cinta kepada sesama manusia. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam

kehidupan masyarakat modern yang penuh persaingan dan tekanan hidup.Analisis dan Penilaian Buku

Kelebihan Buku

1. Bahasa yang Mudah Dipahami

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah penggunaan bahasa yang sederhana dan

mudah dipahami. Penulis mampu menjelaskan konsep-konsep tasawuf yang biasanya sulit

menjadi lebih ringan dan mudah dimengerti oleh pembaca umum maupun mahasiswa.

2. Pembahasan Mendalam dan Sistematis

Buku ini disusun secara runtut mulai dari pengertian, sejarah, karakteristik, hingga contoh

tafsir tasawuf. Penyusunan materi yang sistematis membuat pembaca lebih mudah memahami isi

buku secara keseluruhan.

3. Memberikan Wawasan Spiritual

Buku ini tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga memberikan

pelajaran moral dan spiritual. Pembaca diajak untuk merenungkan hubungan manusia dengan

Allah dan pentingnya membersihkan hati.

4. Relevan dengan Kehidupan Modern

Penulis berhasil menghubungkan tafsir tasawuf dengan kondisi masyarakat modern yang

mengalami banyak tekanan hidup dan krisis spiritual. Hal ini membuat isi buku terasa dekat

dengan kehidupan sehari-hari.

5. Mengenalkan Tokoh-Tokoh Sufi

Buku ini membantu pembaca mengenal tokoh-tokoh penting dalam dunia tasawuf dan

tafsir Islam. Penjelasan mengenai pemikiran mereka menambah wawasan pembaca tentang

sejarah intelektual Islam.

Kekurangan Buku

1. Beberapa Istilah Tasawuf Masih Sulit

Walaupun menggunakan bahasa yang cukup sederhana, terdapat beberapa istilah tasawuf yang

mungkin masih sulit dipahami oleh pembaca pemula.

2. Contoh Penafsiran Masih Terbatas

Buku ini belum terlalu banyak memberikan contoh-contoh penafsiran ayat secara mendalam

sehingga pembaca mungkin membutuhkan referensi tambahan.

3. Kurang Membahas Kritik terhadap Tafsir TasawufPenulis lebih banyak menjelaskan sisi positif tafsir tasawuf dan belum banyak membahas kritik

atau perdebatan ulama mengenai metode tafsir ini.

Nilai-Nilai yang Dapat Diambil

Buku ini mengajarkan bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca teksnya

saja, tetapi juga perlu menghadirkan hati yang bersih dan niat yang ikhlas. Tafsir tasawuf

mengajarkan pentingnya memperbaiki akhlak, mengendalikan hawa nafsu, dan mendekatkan diri

kepada Allah SWT.

Selain itu, buku ini memberikan pelajaran bahwa kehidupan dunia tidak boleh membuat manusia

lupa kepada tujuan akhir kehidupan, yaitu mencari ridha Allah. Melalui pendekatan spiritual,

manusia dapat memperoleh ketenangan hati dan kehidupan yang lebih bermakna.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, buku Tafsir Tasawuf: Menyelami Makna Batin Al-Qur’an karya Hasani

Said Ahmad merupakan buku yang sangat baik untuk memahami hubungan antara tafsir Al-

Qur’an dan tasawuf. Buku ini berhasil menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki dimensi spiritual

yang sangat luas dan dapat menjadi pedoman penyucian jiwa bagi manusia.

Dengan bahasa yang mudah dipahami dan pembahasan yang cukup lengkap, buku ini cocok

dibaca oleh mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum yang ingin memperdalam

pemahaman tentang tafsir tasawuf. Buku ini juga relevan dengan kondisi kehidupan modern

yang penuh tekanan dan krisis spiritual.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk tidak hanya memahami Al-Qur’an secara tekstual, tetapi

juga merenungkan makna-makna batin yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, buku ini

layak dijadikan bahan pembelajaran dalam studi tafsir dan tasawuf serta sebagai sarana

meningkatkan kualitas spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image