Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agita Nasywa Rastu Ningtyas

Ketertarikan Interpersonal: Rahasia Tatapan Kepada Si Dia Saat Tertawa

Edukasi | 2025-10-23 18:34:05
Gambar ilusrasi seseorang tertawa. (Sumber: pexels)

Tentang dia yang sering berjalan dipikiran kita, bahkan disaat kita sedang melakukan kegiatan sekalipun. Tidak dipungkiri juga, kita akan bermimpi tentang si dia. Dimana mimpi itu kita beri anggapan bahwa si dia akan berjodoh dengan kita. Situasi seperti ini sering dirasakan oleh semua orang dan umur, tanpa ada perbedaan generasi.

Perasaan suka ini yang membuat kita akan terfokus kepada si dia saat kita tertawa. Seakan-akan pikiran kita sudah diambil alih untuk fokus ke dia. Saat kita tertawa tulus, otak melepaskan zat kimia yang disebut endorphins dan dopamine. Zat-zat ini membuat kita merasa senang dan rileks. Tertawa adalah respons tubuh yang dapat memiliki banyak arti dan penyebab. Saat seseorang tertawa ia menimbulkan emosi yang tidak harus berupa kebahagian. Tertawa jika dilakukan dengan tulus, yang dirasakan saat tertawa juga dapat mengubah systemgastrointestinal (ungkapan terkenal “perutku sakit karena tertawa”), menyebabkan pipi memerah dan mata berair, semua diatur oleh sistem saraf otonom.

Gambar ilustrasi fenomena seseorang tertawa dengan pandangan tertuju seseorang yang dia suka. (Sumber : pexels)

Mengungkap fenomena "Mengapa ada seseorang yang tertawa, namun pandangan tertuju ke orang yang dia suka?" dalam jendela biopsikologi. Tawa dapat menunjukkan ketertarikan. Faktanya tertawa memainkan peran penting dalam ketertarikan di antara pasangan heterosexual campuran jenis kelamin, yang berpotensi mendorong ketertarikan bersama selama berhubungan romantis. Jenis tawa mengaktifkan jalur saraf yang berbeda di otak. Secara umum, ada tiga area otak utama yang terlibat dalam emisi tawa: area Wernicke, Reward system, dan Prefrontal cortex. Dapat dikatakan bahwa ada 2 area otak utama yang terlibat saat memiliki ketertarikan terhadap seseorang yaitu :

 

  1. Wernicke merupakan area utama untuk pemahaman mendasar dalam interaksi sosial, yang antara lain akan menjadi skenario yang mendorong tawa.
  2. Reward system menjadi yang terlibat dalam menghasilkan respons yang memuaskan terhadap rangsangan yang dievaluasi otak sebagai hadiah untuk kebutuhan atau kerinduan, sehingga menghasilkan perasaan kebahagiaan, Kebutuhan emosional (stimulus lucu yang membuat kita tertawa, misalnya) dan dalam semua kasus perasaan puas ini disebabkan oleh hormon yang dikeluarkan sebagai akibat dari penerapan sistem ini, yaitu: dopamine, endorphins, dan oxytocin.

Hubungan antara 2 area-area ini saling terikat dengan area lain, seperti hippocampus, basal ganglia, dan Nucleus Accumbens. Diantara semua area-area itu yang menciptakan fenomena yang tertawa sambil melihat seseorang yang dia suka, antara lain :

 

  1. Hippocampus perlu menggunakan ingatan yang akan membuat kita menghubungkan ingatan dengan rangsangan yang diterima dan "memutuskan" apakah itu lucu atau tidak.
  2. Basal ganglia dan nucleus accumbens terdapat pada limbic system yang memprosesan dan pembangkitan emosi, salah satunya kebahagiaan akan memicu tawa (karena seseorang juga bisa tertawa karena jijik atau muak).

Saat seseorang memiliki ketertarikan dengan seseorang, ia akan mempunyai karakteristik. Menurut Gupta (2017) membahas berbagai karakteristik tertawa dikategorikan menjadi lima jenis : keceriaan, kesopanan, refleksi, penghinaan, dan kegugupan. Dari lima jenis yang menjadi utama dari alasan kenapa seseorang saat tertawa melihat orang yang dia suka, yaitu keceriaan: keceriaan ditandai dengan rasa senang dan kesadaran bersama akan konteks tawa antara klien dan terapis. Hal ini sering ditandai dengan isyarat non-verbal seperti senyuman, postur tubuh yang rileks, dan gerakan otot wajah yang dikaitkan dengan senyuman tulus. Hal ini lebih terlihat ketika seseorang dengan tulus menggambarkan perasaan menyenangkan dan nyaman dengan seseorang yang dia suka. Maka dari itu perasaan serta ingatan yang dirasakan pada seseorang menimbulkan reaksi bahagia, sehingga saat seseorang sedang merasakan kebahagian dia mempunyai karakteristik keceriaan.

Dengan berbagai karakteristik itu menghasilkan berbagai jenis tawa. Tawa dalam ketertarikan romantis masih jarang menyelidiki peran berbagai jenis tawa. Namun, penelitian oleh Grammar dan Eibl-Eibsfeldt (1990) menunjukkan bahwa berbagai jenis tawa mungkin memiliki peran yang berbeda dalam meningkatkan ketertarikan. Dalam sebuah eksperimen, Grammer dan Eibl-Eibsfeldt (1990) mengamati perilaku kencan pasangan cisgender heterosexual dan menyimpulkan bahwa pria cenderung menunjukkan minat yang lebih besar untuk bertemu kembali dengan seorang wanita asing jika ia tertawa bersuara, tetapi tidak jika ia tertawa tanpa suara selama interaksi singkat mereka.

Menurut pemaparan dapat disimpulkan, alasan seseorang tertawa lalu melihat orang yang dia suka karena dia mempunyai rasa ketertarikan oleh seseorang itu sendiri. Pemicu hal seperti ini dalam perspektif biopsikologi, yang antara lain Berawal dari sistem penghargaan menghasilkan respon dari otak yang membawa kebahagiaan yang disebut sistem dopamine, endorphins, oxytocin. Dengan begitu hippocampus bekerja untuk mengingat suatu hal yang dimana itu bisa menjadi ingatan yang penting untuk kita sendiri, salah satunya teringat seseorang yang kita sukai. Dilanjutkan oleh Sistem limbik yang terlibat dalam pemrosesan dan pembangkitan emosi, fundamental untuk membangkitkan kegembiraan. Dan pemicu diatas adalah alasan mendorong terjadinya tertawa, Mau tidak mau, tawa tidak pernah terjadi dalam kondisi kontrol (kondisi tersebut secara eksplisit dirancang untuk tidak menimbulkan tawa).

Nah, itu dia penjelasan alasan mengapa saat seseorang tertawa, ia akan terfokus pada orang yang dia sukai dalam jendela biopsikologi. Ini merupakan cara bagi individu untuk mengeksplorasi perasaan romantis dan belajar tentang daya tarik interpersonal tanpa harus terlibat dalam komitmen yang lebih serius. Namun, sebagai seorang remaja yang tidak jauh dari perasaan penasaran. Serta sedang proses perkembangan emosional dan sosial seseorang, terutama pada masa remaja dan dewasa muda. Ingatlah bahwa setiap pengalaman emosional adalah kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Crush dengan segala kompleksitasnya adalah bagian dari perjalanan kita dalam memahami cinta, ketertarikan, dan hubungan antarmanusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image