Indonesia Butuh Ruang Damai, Bukan Ruang Benci
Update | 2026-02-06 20:13:57
Oleh: Bunga Nasya Syarif, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Perbedaan seharusnya menjadi hal yang wajar ditemui dalam kehidupan berkembangsaan, khususnya pada cara berkomunikasi. Indonesia sendiri merupakan negara yang memeliki keberagaman budaya, suku, agama, ras, dan sudut pandang. Namun, pada saat ini bisa dilihat bahwa masyarakat indonesia justru mudah tersulut emosi hanya karena perbedaan opini. Media sosial yang awalnya menjadi ruang berbagi pikiran kini berubah menjadi arena tinju, saling ejek, bahkan mengujarkan kebencian.
Fenomena ini sering kita lihat dalam berbagai isu, mulai dari politik, agama, hingga hal-hal sepele seperti pilihan idola atau gaya hidup seseorang. Banyak orang merasa bahwa pendapatnya benar dan menolak memikirkan sudut pandang lain yang berujung pada konflik sosial. Seperti halnya saling memblokir di media sosial, saling menjelek-jelekkan, dan bahkan mencari aib satu sama lain. Jika keadaan ini terus dibiarkan, rasa persatuan dan kekeluargaan sebagai ciri khas bangsa Indonesia bisa semakin memudar.
Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan ruang damai, bukan menciptakan ruang benci. Generasi muda juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana damai. Kita bisa memulainya dari hal sederhana, seperti berdiskusi dengan sopan, tidak menyebarkan berita bohong, serta menghargai pendapat teman meskipun tidak memiliki sudut pandang yang sama. Dengan adanya media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan positif, bukan memperkeruh keadaan. Jika anak muda mampu menjadi penggagas perdamaian , maka masa depan bangsa akan lebih tentram dan juga harmonis.
Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak kebencian, justru Indonesia lebih membutuhkan banyak ruang untuk saling memahami. Karena hanya dengan perdamaian, persatuan bangsa dapat tetap terjaga. Sudah saatnya kita memilih untuk berdamai, bukan membenci.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
