Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Audrey Gracias

Korea Utara Tidak Gila, Dunia Hanya tidak Mau Membaca Sejarahnya

Info Terkini | 2026-05-17 20:44:25
sumber: magnific.com

Setiap kali Korea Utara meluncurkan rudal, siklus yang sama selalu berulang. Komunitas internasional mengecam, sanksi diperketat, dan Pyongyang diabaikan sebagai aktor irasional yang tidak bisa diajak bicara. Tapi ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan secara serius yaitu mengapa Korea Utara begitu keras mempertahankan program nuklirnya? Bukan dalam arti retorika, melainkan dalam arti yang benar-benar historis dan strategis.

Perang Korea 1950 hingga 1953 tidak pernah resmi berakhir. Yang ada hanyalah gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Artinya Korea Utara secara hukum internasional masih berada dalam kondisi perang hingga hari ini. Rezim Kim Il-sung menyaksikan langsung bagaimana dua bom atom Amerika memaksa Kekaisaran Jepang menyerah dalam hitungan hari. Pelajaran itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Dan yang lebih penting lagi, Amerika Serikat sendiri menempatkan senjata nuklir di Korea Selatan selama 33 tahun penuh, dari 1958 hingga 1991. Tiga puluh tiga tahun senjata nuklir asing berada tepat di depan pintu Korea Utara.

Dalam konteks itu, membangun program nuklir bukan keputusan yang lahir dari kegilaan. Ia lahir dari kalkulasi yang sangat dingin dan sangat masuk akal.

Nasib Negara yang Terlalu Percaya pada Janji Barat

Ada dua contoh yang tidak bisa diabaikan ketika membicarakan logika nuklir Korea Utara. Saddam Hussein tidak memiliki senjata nuklir. Pada 2003, Amerika Serikat menginvasi Irak dengan dalil senjata pemusnah massal yang tidak pernah terbukti ada, dan Saddam dieksekusi. Muammar Gaddafi memilih jalan yang berbeda. Pada 2003, ia menyerahkan program nuklirnya secara sukarela sebagai imbalan normalisasi hubungan dengan Barat. Delapan tahun kemudian, ia dibunuh dengan dukungan militer langsung dari NATO.

Korea Utara menyaksikan kedua peristiwa itu. Dan kesimpulan yang mereka ambil sangat logis, negara yang tidak punya nuklir bisa digulingkan kapan saja, dan negara yang menyerahkan nuklirnya pun bisa digulingkan kapan saja. Satu-satunya variabel yang benar-benar memberikan perlindungan adalah kepemilikan senjata nuklir yang nyata dan kredibel.

Tiga Dekade Negosiasi yang Tidak Pernah Serius

Komunitas internasional juga perlu jujur tentang rekam jejaknya sendiri. Agreed Framework 1994 memberi harapan, namun runtuh pada 2002. Six-Party Talks dimulai 2003 dan menghasilkan janji denuklirisasi pada 2005 yang tidak pernah terealisasi. Pertemuan Trump dan Kim di Singapura 2018 hanya menghasilkan deklarasi persahabatan tanpa mekanisme verifikasi yang jelas. Hanoi 2019 kolaps sebelum selesai.

Tiga dekade negosiasi dan hasilnya adalah nol. Lalu siapa yang sebenarnya tidak serius dalam proses ini?

Sementara itu, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa program ini tidak melambat. Pada 7 dan 8 April 2026, Korea Utara meluncurkan rudal balistik dua hari berturut-turut dari Wonsan. ICBM Hwasong-20 yang diperkenalkan Oktober 2025 memiliki jangkauan operasional 15.000 kilometer, cukup untuk menjangkau seluruh daratan Amerika Serikat. Ini bukan provokasi tanpa tujuan, ini adalah sinyal yang sangat terukur kepada dunia bahwa Korea Utara tidak akan mundur.

Korea Utara Sudah Membaca Sejarah, Giliran Dunia yang Melakukannya

Stabilitas kawasan Asia Pasifik tidak akan tercapai dengan terus memaksa Korea Utara melucuti satu-satunya instrumen pertahanan yang mereka miliki. Selama komunitas internasional belum bersedia memberikan jaminan keamanan yang konkret, mengikat secara hukum, dan dapat diverifikasi, setiap pembicaraan denuklirisasi hanyalah jebakan diplomatik yang sudah terbukti gagal berkali-kali.

Korea Utara bukan aktor irasional. Mereka adalah negara yang belajar dari sejarah dengan sangat serius, jauh lebih serius dari banyak pihak yang hari ini menuntut mereka untuk melucuti senjata. Program nuklir mereka bukan masalah yang perlu diselesaikan. Ia adalah jawaban atas pertanyaan yang dunia sendiri belum berani jawab dengan jujur, apa yang bersedia ditawarkan kepada Korea Utara selain sanksi, tekanan, dan ancaman?

Sampai pertanyaan itu dijawab, program nuklir Korea Utara bukan hanya akan bertahan. Ia akan terus berkembang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image