Mengapa Muncul Rasa Kesepian di Tengah Keramaian?
Curhat | 2026-09-28 18:40:42
Ramai merupakan sebuah kata yang bisa menggambarkan suasana kehidupan saat ini baik di dunia nyata maupun dunia maya. Namun dibalik keramaian, terdapat sebuah fenomena yang harus menjadi perhatian dan renungan bersama. Fenomena dimana sebagian generasi saat ini tengah diselimuti dengan rasa kesepian. Maka wajar jika muncul istilah "kesepian di tengah keramaian". Inilah sebuah potret kelam generasi kekinian di tengah kehidupan sekuler kapitalistik.
Ya, dunia memang terlihat ramai, namun di tengah keramaian ini ternyata masih muncul pemberitaan yang butuh menjadi perhatian bersama. Yang pertama kabar duka dari seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran dari Universitas Brawijaya yang diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 6 gedung kampus pada 10 September yang lalu. (detiknews, 12 September 2026). Mahasiswa ini masih berusia 19 tahun, dan mengalami sejumlah luka, dan sekarang dalam kondisi stabil.
Yang kedua pemberitaan mengenai meninggalnya seorang pria berusia 30 tahun inisial F, yang diduga karena bunuh diri di area Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat. Sebelumnya salah seorang rekan F, membaca unggahan korban di instagram, yang menginfokan jika korban ingin melakukan bunuh diri. Inilah potret kelam sebagian generasi. Tentu menjadi tugas kita bersama untuk menelusuri, mengapa kejadian seperti ini masih terus terjadi?.
Data dari hotline pencegahan bunuh diri (Healing 119.id), mencatat bahwa kliennya didominasi oleh kelompok usia antara 21 hingga 30 tahun. Sungguh, data ini menunjukkan krisis kesehatan mental paling banyak dialami oleh generasi muda. Sungguh miris, generasi yang diharapkan menjadi penerus kemajuan bangsa, namun sekarang banyak dikalangan mereka yang kehilangan pegangan saat berhadapan dengan tekanan kehidupan.
Tekanan hidup saat ini tentu sangat menyesakkan, karena sekarang generasi muda hidup dalam kungkungan sistem dan nilai-nilai sekularisme. Dimana sekularisme mempunyai sifat mencabut akidah dari kehidupan. Maka "wajar" jika generasi tumbuh tanpa kekuatan iman sebagai benteng dalam menghadapi berbagai problem hidup. Sehingga saat ditimpa kesulitan maka akan terasa sangat berat dan berujung pada keputusasaan diri.
Disisi lain masyarakat sekularisme adalah masyarakat dengan sifat individualistik yang tinggi. Masing-masing orang dituntut untuk berjuang sendiri. Sehingga rasa kesepian tumbuh dengan cepat, bahkan pada orang-orang yang secara materi sudah sangat berkecukupan. Inilah pengaruh budaya dari sistem sekularisme yang berfokus pada kesuksesan pribadi, sehingga melahirkan nilai dan sikap asosial. Maka tak heran sistem sekularisme akan melahirkan individu-individu yang rapuh dan masyarakat individualistik yang abai dan tidak peka dengan problem sesama manusia.
Lantas, bagaimanakah keluar dari kungkungan sistem sekularisme ini?. Islam sebagai sebuah sistem hidup menawarkan solusi yang sempurna. Islam mempunyai pengaturan yang berbeda dengan sekularisme. Bangunan Islam akan menjadikan akidah sebagai benteng jiwa masing-masing individu. Sehingga sejak dini, manusia mempunyai keyakinan dan pemahaman bahwa setiap kesulitan merupakan bagian ujian dari Allah Ta'ala. Dan menyelesaikan problem hidup dengan keputusasaan hingga berujung pada bunuh diri, merupakan suatu jalan keluar yang harus benar-benar dijauhi. Dengan benteng akidah inilah, maka seorang muslim punya daya tahan kuat dari jurang keputusasaan.
Bagaimana dengan masyarakatnya?. Dalam pengaturan Islam, wajib terdapat ikatan yang kuat antara individu, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan tuntunan akidah. Sehingga tidak akan ada kasus seseorang yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian dan merasa kesepian. Tentu ini sangat berbeda dengan masyarakat sekularisme yang lekat pada fenomena kesepian di tengah keramaian.
Terakhir, individu dan masyarakat tentu butuh perlindungan dari negara. Dalam Islam sebuah negara mempunyai amanah untuk menjamin kebutuhan dasar seluruh individu rakyat dan memberi perlindungan nyata baik fisik, mental dan jiwa rakyatnya. Jaminan ini diwujudkan dengan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, sehingga akan terlihat Islam yang akan memberikan rahmat untuk seluruh alam. Islam akan diamalkan baik di bidang pendidikan berbasis akidah yang kuat, bidang ekonomi yang menjamin kesejahteraan, bidang sosial budaya yang akan menumbuhkan jiwa-jiwa empati pada sesama, dan bidang lainnya. Dengan begitu akan lahirlah individu-individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli.
Semoga dengan kepedulian kita dan langkah-langkah solusi di atas, bisa mengurangi dan menghilangkan krisis kesehatan mental pada generasi. Besar harapan kita agar generasi bangsa tumbuh dengan sehat baik fisik, mental maupun jiwanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
