Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M. Ricky Adi Saputra

Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Membentuk Generasi yang Berintegritas

Pendidikan | 2026-09-28 18:32:39

 

Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa capaian siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains mengalami penurunan dibandingkan 2018. OECD juga mencatat bahwa pada 2022 sebanyak 86 persen siswa Indonesia merasa memiliki rasa memiliki terhadap sekolah, tetapi 16 persen masih merasa kesepian di sekolah dan 13 persen merasa seperti orang luar atau tersisih. Data tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan akademik, tetapi juga dari bagaimana peserta didik berkembang secara sosial dan emosional.

Sumber: Pixabay

Karena itu, pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap dalam proses belajar. Pendidikan karakter berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab, bekerja sama, menghargai orang lain, mengendalikan diri, berpikir kritis, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai yang benar.

Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan yang jelas. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan pendidikan karakter sebagai gerakan yang melibatkan satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Nilai yang ditekankan mencakup religiusitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokrasi, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab.

Persoalannya bukan lagi apakah pendidikan karakter penting, melainkan bagaimana nilai tersebut benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan peserta didik.

Karakter Bukan Sekadar Hafalan Nilai

Pendidikan karakter sering kali dipahami melalui kegiatan seremonial, nasihat guru, atau hafalan mengenai nilai-nilai moral. Padahal, karakter terbentuk melalui proses yang jauh lebih panjang: pembiasaan, keteladanan, pengalaman sosial, dan kesempatan untuk mengambil keputusan.

Kementerian Pendidikan juga mengembangkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup enam karakter utama, yaitu beriman dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Keenam dimensi tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak hanya berkaitan dengan moral pribadi, tetapi juga kemampuan seseorang berinteraksi dan menghadapi persoalan secara bertanggung jawab.

Contohnya sederhana. Seorang siswa yang mendapatkan nilai tinggi belum tentu mampu bekerja dalam kelompok. Siswa yang memahami teori tentang kejujuran belum tentu menolak menyontek ketika menghadapi ujian. Begitu pula siswa yang mengetahui pentingnya menjaga lingkungan belum tentu terbiasa membuang sampah pada tempatnya.

Di sinilah perbedaan antara mengetahui nilai dan memiliki karakter menjadi penting.

Penelitian OECD mengenai social and emotional skills menunjukkan bahwa keterampilan seperti tanggung jawab, ketekunan, pengendalian diri, rasa ingin tahu, empati, dan kemampuan bekerja sama berkaitan dengan berbagai hasil kehidupan, termasuk prestasi akademik dan kesejahteraan siswa.

Dengan kata lain, karakter bukan lawan dari prestasi akademik. Keduanya dapat saling mendukung.

Sekolah Harus Menjadi Ruang untuk Mempraktikkan Karakter

Karakter tidak akan tumbuh apabila sekolah hanya meminta siswa mendengarkan nasihat. Peserta didik perlu memperoleh ruang untuk mempraktikkan nilai yang dipelajari.

Gotong royong, misalnya, dapat dibangun melalui proyek kelompok yang benar-benar membutuhkan pembagian tugas. Kemandirian dapat dilatih dengan memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk merencanakan dan menyelesaikan pekerjaan. Nalar kritis dapat dikembangkan dengan membiasakan siswa memeriksa informasi sebelum mempercayainya. Sementara itu, toleransi dapat tumbuh melalui interaksi dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan konsep social and emotional learning yang didorong UNESCO. UNESCO menilai pembelajaran sosial dan emosional dapat membantu meningkatkan capaian akademik, mengurangi risiko putus sekolah, serta memperkuat kesehatan mental dan hubungan sosial di lingkungan pendidikan.

Karena itu, pendidikan karakter seharusnya terintegrasi dengan pembelajaran, bukan berdiri sebagai kegiatan tambahan yang terpisah dari proses akademik.

Peran guru juga sangat penting. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi menjadi contoh yang diamati peserta didik setiap hari. Cara guru memperlakukan siswa, menyelesaikan konflik, mengakui kesalahan, menegakkan aturan, dan memberikan penghargaan akan menjadi pembelajaran karakter yang konkret.

Kajian meta-analisis terhadap 40 penelitian mengenai karakteristik dan kompetensi guru juga menemukan hubungan antara karakteristik serta kompetensi guru dengan pencapaian akademik siswa.

Artinya, membangun karakter siswa juga menuntut lingkungan pendidikan yang memberikan teladan secara konsisten.

Keluarga dan Masyarakat Tidak Bisa Dilepaskan

Pendidikan karakter tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Anak menghabiskan sebagian waktunya di luar ruang kelas, terutama bersama keluarga dan lingkungan sosial.

Perpres Nomor 87 Tahun 2017 secara eksplisit menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pihak yang terlibat dalam penguatan karakter.

Hal ini menjadi penting karena pesan yang diterima anak di sekolah dapat bertentangan dengan kebiasaan yang ditemuinya di rumah atau lingkungan sekitar. Sekolah mengajarkan kejujuran, tetapi anak melihat praktik ketidakjujuran sebagai sesuatu yang biasa. Sekolah mengajarkan disiplin, tetapi lingkungan justru menormalisasi pelanggaran aturan.

Ketidakkonsistenan semacam itu membuat pendidikan karakter kehilangan kekuatan.

Karena itu, keluarga perlu membangun kebiasaan yang sederhana tetapi konsisten. Memberikan tanggung jawab sesuai usia, membiasakan meminta maaf, menghargai pendapat anak, mengajarkan konsekuensi dari sebuah tindakan, serta memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari pendidikan karakter.

Pemerintah sendiri dalam kebijakan terbaru mengenai Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat kembali menekankan bahwa penguatan karakter membutuhkan sinergi antara satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa karakter pada dasarnya merupakan hasil dari ekosistem, bukan hanya hasil dari satu mata pelajaran.

Penutup

Pendidikan karakter penting karena pendidikan pada akhirnya tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mengetahui banyak hal, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.

Data PISA menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia tidak hanya berada pada aspek akademik. Sementara itu, penelitian OECD dan UNESCO memperlihatkan bahwa keterampilan sosial dan emosional memiliki hubungan dengan prestasi belajar, kesejahteraan, serta kesiapan menghadapi kehidupan.

Karena itu, pendidikan karakter perlu bergerak dari sekadar slogan menuju praktik. Sekolah perlu menciptakan budaya yang memungkinkan siswa mengalami langsung kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, gotong royong, toleransi, dan berpikir kritis. Guru perlu menjadi teladan, keluarga perlu membangun kebiasaan yang konsisten, sementara masyarakat dan media perlu menciptakan lingkungan yang mendukung.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup berhenti pada pertanyaan, “Berapa nilai yang diperoleh siswa?” Pertanyaan yang sama pentingnya adalah, “Menjadi manusia seperti apa setelah memperoleh pendidikan?”

Pendidikan yang baik semestinya mampu menjawab keduanya.

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik. Statistik Pendidikan 2025. BPS, 2025.
  2. Badan Pusat Statistik. Statistik Pendidikan 2024. BPS, 2024.
  3. OECD. PISA 2022 Results: Country Note – Indonesia. OECD Publishing, 2023.
  4. OECD. Social and Emotional Skills for Better Lives: Findings from the OECD Survey on Social and Emotional Skills 2023. OECD Publishing, 2024.
  5. OECD. Social and Emotional Skills: Latest Evidence on Teachability and Impact on Life Outcomes. OECD Education Working Papers No. 304, 2023.
  6. OECD. OECD Survey on Social and Emotional Skills 2023 Technical Report. OECD Publishing, 2025.
  7. UNESCO. Mainstreaming Social and Emotional Learning in Education Systems: Policy Guide. UNESCO, 2024.
  8. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
  9. Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikbud. Survei Karakter – Asesmen Nasional.
  10. Kemendikbud. Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter. Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan, 2017.
  11. Carsiwan. Trends in Character Education for Elementary, Middle and High School Students in Indonesia: Systematic Literature Review. Indonesian Journal of Educational Research and Review, 2024.
  12. López-Martín, E., dkk. Why Do Teachers Matter? A Meta-Analytic Review of How Teacher Characteristics and Competencies Affect Students’ Academic Achievement. International Journal of Educational Research, 2023

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image