Ketika Merendahkan Teman Menjadi Cara Mendapatkan Pengakuan di Sekolah
Trend | 2026-10-23 12:54:33
Bullying di lingkungan sekolah sering kali dianggap sebagai kenakalan biasa yang akan hilang seiring bertambahnya usia siswa. Padahal, jika diperhatikan lebih jauh, perundungan tidak selalu terjadi hanya karena seseorang ingin menyakiti orang lain. Dalam beberapa situasi, bullying justru menjadi cara untuk mendapatkan perhatian, menunjukkan kekuasaan, atau memperoleh pengakuan dari lingkungan pertemanan. Siswa yang mengejek, mempermalukan, atau merendahkan temannya terkadang dianggap lucu, berani, bahkan populer oleh kelompoknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa bullying bukan sekadar persoalan perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sosial yang terbentuk di lingkungan sekolah.
Dalam perspektif Sosiologi Pendidikan, sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang tempat mereka belajar nilai, norma, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Melalui pergaulan sehari-hari, siswa membentuk pemahaman tentang perilaku yang dianggap pantas, diterima, atau bahkan mendapatkan penghargaan dari kelompoknya. Masalah muncul ketika tindakan merendahkan orang lain justru dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ketika ejekan disambut tawa dan tindakan mempermalukan teman mendapatkan dukungan, perilaku tersebut dapat terus berulang karena pelaku merasa tindakannya memberikan keuntungan sosial.
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep sosialisasi. Sosialisasi merupakan proses ketika seseorang mempelajari nilai, norma, dan pola perilaku melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Siswa tidak hanya belajar dari guru atau materi pelajaran, tetapi juga dari teman sebaya. Jika lingkungan pertemanan menganggap mengejek sebagai bahan candaan yang biasa, siswa dapat ikut meniru perilaku tersebut agar diterima oleh kelompoknya. Dalam kondisi ini, tindakan bullying bisa berkembang bukan hanya karena keinginan pribadi pelaku, tetapi juga karena adanya pengaruh dan tuntutan dari lingkungan sosial.
Selain sosialisasi, fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan konsep hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Konsep ini menjelaskan bahwa sekolah menyampaikan nilai dan pelajaran tidak hanya melalui materi resmi, tetapi juga melalui kebiasaan, aturan tidak tertulis, serta interaksi sehari-hari. Sekolah mungkin mengajarkan pentingnya menghormati sesama dan menolak kekerasan. Namun, ketika ejekan dibiarkan, korban diminta untuk tidak terlalu sensitif, atau siswa yang melakukan perundungan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, lingkungan sekolah justru dapat menyampaikan pesan yang bertentangan dengan pelajaran tersebut. Secara tidak langsung, siswa bisa menangkap anggapan bahwa merendahkan teman bukan masalah besar selama dianggap sebagai candaan.
Fenomena ini juga menarik jika dikaitkan dengan pemikiran Pierre Bourdieu, terutama konsep modal sosial dan kekuasaan simbolik. Dalam lingkungan pertemanan, siswa yang memiliki banyak teman, populer, atau berpengaruh sering kali mempunyai posisi sosial yang lebih kuat. Posisi tersebut dapat membuat perkataannya lebih mudah diterima oleh kelompok. Ketika siswa yang populer melakukan ejekan, teman-temannya mungkin ikut tertawa karena ingin tetap dekat dengannya atau takut kehilangan tempat dalam kelompok. Sebaliknya, siswa yang menjadi sasaran perundungan dapat kesulitan membela diri karena posisinya dianggap lebih lemah. Akibatnya, tindakan merendahkan orang lain dapat menjadi sarana untuk mempertahankan status atau menunjukkan siapa yang memiliki pengaruh dalam kelompok.
Meskipun begitu, tidak semua siswa yang populer melakukan bullying, dan tidak semua tindakan mengejek dilakukan demi mendapatkan pengakuan. Namun, hubungan antara status sosial, tekanan kelompok, dan perilaku perundungan perlu diperhatikan karena dapat membantu menjelaskan mengapa bullying tetap terjadi meskipun sekolah sudah mengajarkan pendidikan karakter. Permasalahannya bukan hanya apakah siswa mengetahui bahwa bullying itu salah, melainkan juga apakah lingkungan sosial mereka benar-benar mendukung perilaku saling menghargai.
Karena itu, penanganan bullying tidak cukup dilakukan dengan memberikan nasihat kepada pelaku atau mengadakan sosialisasi sesekali. Sekolah perlu membangun budaya yang secara konsisten menolak perundungan, menyediakan ruang pelaporan yang aman, melindungi korban, serta melibatkan siswa yang menyaksikan kejadian agar tidak ikut memperkuat perilaku pelaku. Guru juga perlu memperhatikan pola interaksi antarsiswa, termasuk candaan yang berulang, pengucilan, dan ketimpangan posisi dalam kelompok pertemanan. Keluarga memiliki peran penting untuk menanamkan empati dan mengajarkan bahwa mendapatkan pengakuan tidak harus dilakukan dengan merendahkan orang lain.
Pada akhirnya, bullying perlu dipahami sebagai fenomena sosial yang berkaitan dengan proses sosialisasi, budaya sekolah, dan hubungan kekuasaan di antara siswa. Selama tindakan merendahkan teman masih bisa menjadi jalan untuk memperoleh perhatian atau pengakuan, pendidikan karakter akan sulit berjalan secara maksimal. Sekolah seharusnya menjadi ruang bagi siswa untuk belajar membangun hubungan yang sehat, bukan tempat mereka merasa harus menjatuhkan orang lain agar dianggap lebih tinggi. Pengakuan sosial semestinya diperoleh melalui sikap positif dan kemampuan menghargai sesama, bukan melalui rasa takut atau penderitaan orang lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
