Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fatimah Azzahra

Ketika Pendidikan Menghamba pada Industri

Pendidikan | 2026-05-11 23:52:21
Gambar: University. Sumber: Freepik

"Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, kamu dapat mengubah dunia." – Nelson Mandela

Tampaknya, pernyataan Nelson Mandela tidak disepakati oleh pemerintah Indonesia. Buktinya, pemerintah Indonesia malah melontarkan wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi, salah satunya jurusan pendidikan.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco (Dosen Unair), menegaskan keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan (kebutuhan industri).

Kampus: Pabrik Pekerja

Menanggapi pernyataan pak Sekjen Kemndiktisaintek tersebut, Rektor UMM dan Unisma menolak penutupan Prodi tak sesuai pasar, karena kampus bukan pabrik pekerja. Wakil Rektor UMY lebih memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibanding menutup Prodi. Rektor UGM mengaku kampusnya rutin mengevaluasi Prodi dan terbuka untuk menutup atau membuka atau pun merger Prodi.

Sayangnya, sistem Liberalisme-Sekuler yang diterapkan di negeri ini menyebabkan Perguruan Tinggi harus menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri. Tujuan pendidikan bergeser dari pembentukan kepribadian menjadi pembentukan “SDM produktif”. Institusi pendidikan akhirnya mengejar keterampilan kerja, menyiapkan tenaga industri, membentuk manusia kompetitif, tetapi lemah dalam pembinaan ruhiyah dan tsaqafah Islam.

Hal ini bukan sekadar kekeliruan teknis pengelolaan pendidikan, tetapi konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme sekuler yang menjadikan asas manfaat dan kebutuhan pasar sebagai standar penyelenggaraan pendidikan. Liberalisme membuat pendidikan tunduk pada “kebebasan pasar”, dikomersialisasi, dan diukur berdasarkan nilai ekonomi. Akibatnya, jurusan dinilai dari “prospek kerja”, universitas berlomba memenuhi kebutuhan korporasi, riset diarahkan untuk kepentingan industri dan investor, bukan untuk kemaslahatan umat.

Inilah hubungan antara kampus dan industri, dimana pendidikan menghasilkan tenaga kerja untuk mesin ekonomi kapitalis. Dengan kata lain, kampus jadi pabrik pekerja.

Demi Ekonomi Kapitalisme

Dalam kacamata kapitalisme, negara membutuhkan pertumbuhan ekonomi, industri membutuhkan pekerja, maka pendidikan didesain untuk memasok kebutuhan industri. Oleh karena itu, kurikulum diarahkan pada skill kerja, vokasi, efisiensi, teknologi produksi, dan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Hubungan antara pendidikan dan industri dalam kapitalisme bersifat utilitarian, sekolah ada agar ekonomi terus berjalan. Negara dalam sistem kapitalisme berperan sebagai regulator yang menyesuaikan kebutuhan pendidikan dengan arah pasar dan kepentingan ekonomi, bukan sebagai pengurus umat berdasarkan hukum syara’.

Islam: Pendidikan Bukan Sekedar Pencetak Pekerja

Pendidikan dalam Islam dibangun di atas aqidah Islam dengan tujuan membentuk syakhsiyah Islamiyah, yakni pola pikir dan pola sikap yang terikat kepada syariat, sekaligus membekali umat dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan kehidupan. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam, melahirkan ulama, ilmuwan, dan pemimpin umat, bukan sekadar pekerja industri.

Islam tidak memusuhi kemajuan industri dan teknologi. Justru negara wajib membangun kemandirian industri strategis. Namun dalam Islam, pendidikan tidak tunduk kepada kepentingan pasar, melainkan diarahkan oleh aqidah Islam dan kebutuhan riil umat. Dalam Islam, negaralah yang memiliki kebutuhan untuk mencetak Ahli di bidang apa, sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyatnya, karena tugas pokok negara dalam Islam adalah melayani rakyatnya.

Negara dalam Islam akan tetap membangun industri, mengembangkan teknologi, mencetak insinyur dan ahli sains. Tetapi, hubungan pendidikan dengan industri bukan untuk keuntungan korporasi, melainkan untuk kebutuhan umat dan kekuatan negara Islam. Misalnya industri militer untuk jihad dan pertahanan, riset pangan untuk kemandirian umat, teknologi untuk pelayanan publik, bukan untuk eksploitasi pasar bebas.

Dunia pendidikan (termasuk Pendidikan Tinggi) adalah tanggung jawab langsung negara. Negara yang menentukan mulai dari Visi-Misi Pendidikan, Kurikulum dan pembiayaan untuk SDM Pendidikan dan sarana prasarananya. Negara mandiri dalam mengelola Pendidikan Tinggi, tidak tergantung pada tekanan baik dalam negeri maupun luar negeri karena bersandar kepada Syariat.

Karena itu, problem pendidikan hari ini tidak cukup diselesaikan dengan revisi kurikulum atau penyesuaian Prodi. Persoalannya bersifat mendasar, yakni arah pendidikan yang dibangun di atas asas kapitalisme sekuler. Selama pendidikan tunduk pada kepentingan pasar, kampus akan terus diposisikan sebagai pencetak tenaga kerja industri. Islam menawarkan arah pandang yang berbeda, yakni pendidikan sebagai sarana membentuk kepribadian Islam dan membangun peradaban umat di bawah naungan syariat. Wallahu'alam bish shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image