Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adit pratama88

Banten Kaya Industri, Mengapa Pengangguran Masih Tinggi?

Politik | 2026-05-11 10:54:30


Banten dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia. Kawasan industri tumbuh pesat di wilayah seperti Cilegon, Tangerang, dan Serang. Kedekatannya dengan Jakarta membuat Banten menjadi daerah strategis bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun di balik pertumbuhan tersebut, pengangguran dan kemiskinan masih menjadi persoalan serius.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banten pada 2024 mencapai 6,68 persen. Bahkan pada Februari 2025, jumlah pengangguran di Banten masih berada di angka sekitar 412 ribu orang. Angka tersebut menempatkan Banten sebagai salah satu provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia.
Ironinya, Banten memiliki hampir 20 kawasan industri dengan ribuan perusahaan besar yang bergerak di sektor manufaktur, baja, kimia, hingga logistik. Kondisi inilah yang kemudian disebut Gubernur Banten Andra Soni sebagai sebuah “paradoks industri”: daerah dengan industri besar, tetapi pengangguran masih tinggi.

Namun jika dilihat lebih dalam, masalah ini sebenarnya tidak sesederhana “banyak pabrik tetapi rakyat tidak bekerja.” Pemerintah daerah dan pelaku industri menilai salah satu penyebab utama adalah ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia. Dunia industri saat ini membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan, kedisiplinan, dan kemampuan teknis tertentu, sementara sebagian pencari kerja belum sepenuhnya siap memenuhi standar tersebut.

Karena itu, pemerintah daerah mulai mencoba membangun kerja sama dengan dunia usaha. Pemprov Banten bersama Apindo Banten mendorong program pelatihan vokasi, penguatan soft skill, digital marketing, hingga program pemberdayaan desa untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal. Program seperti “Apindo Daya Movement” juga mulai disiapkan agar masyarakat lebih siap menghadapi kebutuhan industri modern.

Meski demikian, tantangan Banten tetap besar. Data BPS menunjukkan sebagian besar tenaga kerja di Banten masih didominasi lulusan pendidikan rendah, sementara penyerapan tenaga kerja lulusan SMK justru mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan dan kebutuhan industri masih belum sepenuhnya selaras.
Dalam sudut pandang ekonomi politik, kondisi ini menunjukkan bahwa investasi saja tidak cukup. Pembangunan industri memang penting, tetapi harus dibarengi pembangunan kualitas manusia. Jika tidak, maka masyarakat lokal akan terus kalah bersaing di daerahnya sendiri.

Karena itu, keberhasilan pembangunan di Banten seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pabrik atau besarnya investasi. Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan tersebut benar-benar mampu membuka pekerjaan layak, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab jika paradoks ini terus terjadi, maka Banten akan tetap dikenal sebagai daerah industri besar yang belum sepenuhnya mampu menyelesaikan persoalan sosial ekonominya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image