Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syakira Amalia Putri Prayogo

Edukasi Obat yang Sering Dianggap Sepele

Edukasi | 2026-06-03 17:12:15
Mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga bersama warga usai kegiatan sosialisasi edukasi sediaan obat padat di Balai Amerta, Gresik. (Dokumentasi Pribadi)

Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap penggunaan obat yang tepat masih menjadi permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan sederhana, seperti cara minum obat atau ketidaktahuan terhadap aturan pakai, dapat berdampak pada menurunnya efektivitas terapi hingga menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius. Oleh karena itu, literasi kesehatan, khususnya terkait penggunaan obat, menjadi hal yang penting untuk terus ditingkatkan.

Sebagai bentuk kontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan sosialisasi edukasi sediaan obat padat di Balai Amerta, Perumahan Graha Amerta Bunder RT 04 RW 18, Kecamatan Kebomas, Gresik. Kegiatan ini berlangsung pada pukul 16.30–17.00 WIB dengan dukungan Ketua RT setempat, Erni Wahyu Ningrum, serta diikuti oleh 20 peserta yang mayoritas merupakan keluarga muda.

Kegiatan ini merupakan bagian dari metode pembelajaran Project Based Learning (PJBL), yang bertujuan untuk mendorong mahasiswa agar lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mampu mengaplikasikan ilmu secara nyata. Dalam konteks ini, ibu rumah tangga menjadi sasaran utama edukasi karena berperan sebagai garda terdepan dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan keluarga.

Sosialisasi ini juga terintegrasi dalam kegiatan rutin Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di lingkungan setempat. Kegiatan diawali dengan pembukaan berupa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dilanjutkan dengan agenda rutin seperti pengocokan undian, sebelum akhirnya memasuki sesi edukasi yang disampaikan oleh mahasiswa.

Dalam sesinya, mahasiswa mengenalkan berbagai jenis sediaan obat padat, mulai dari tablet, kapsul, granul, serbuk, hingga suppositoria dan tablet effervescent. Peserta tidak hanya diajak mengenali bentuk fisik, tetapi juga diberikan pemahaman mendalam mengenai standar keamanan penggunaannya. "Tidak semua obat boleh diperlakukan sama. Misalnya, kapsul sebaiknya tidak dibuka serbuknya, dan tablet lepas lambat tidak boleh dihancurkan karena dapat membuat obat bekerja terlalu cepat dan memicu efek samping," jelas Syakira Amalia Putri Prayogo, salah salah satu perwakilan mahasiswa, saat memaparkan materi bersama rekannya, Frida Dwi Lestari.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai penggunaan obat secara rasional. Antibiotik, misalnya, harus dikonsumsi sesuai resep dan dihabiskan untuk mencegah resistensi bakteri. Di sisi lain, penggunaan antibiotik topikal pada luka tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan harus dihentikan ketika luka telah sembuh. Penggunaan obat yang umum seperti paracetamol juga menjadi perhatian. Meskipun dikenal aman, penggunaan yang tidak sesuai dosis tetap dapat berdampak pada fungsi hati jika digunakan secara berlebihan.

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Small Group Discussion (SGD) dengan pendekatan Discussion-Based Learning (DBL). Pendekatan ini memungkinkan terjadinya interaksi dua arah antara mahasiswa dan peserta, sehingga materi tidak hanya disampaikan, tetapi juga dipahami melalui diskusi.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah mengenai sediaan obat berbentuk kapsul yang berisi granul di dalamnya. Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa sediaan tersebut tetap dikategorikan sebagai kapsul, karena penamaan obat didasarkan pada bentuk luarnya.

Diskusi juga berkembang ketika peserta berbagi pengalaman terkait penggunaan suppositoria sebagai alternatif pemberian obat. Hal ini membuka wawasan peserta bahwa terdapat berbagai rute pemberian obat yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien, seperti pada keadaan muntah atau kesulitan menelan.

Sebagai bentuk evaluasi, dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman peserta sebelum dan setelah kegiatan. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan pemahaman, yang menandakan bahwa metode edukasi yang digunakan cukup efektif.

Ketua RT setempat, Erni Wahyu Ningrum, turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. "Kegiatan ini sangat membantu warga kami dalam memahami penggunaan obat yang benar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak lagi menganggap remeh hal-hal sederhana," ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan obat serta tidak lagi menganggap remeh hal-hal sederhana yang justru berdampak besar bagi kesehatan. Edukasi yang dilakukan secara komunikatif dan interaktif seperti ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis:
Frida Dwi Lestari & Syakira Amalia Putri Prayogo
Mahasiswa D-III Keperawatan
Fakultas Vokasi Universitas Airlangga

Pembimbing:
Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image