Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image maritza rahma

Seblak dan Risiko Kesehatan: Fakta di Balik Makanan Pedas Favorit

Gaya Hidup | 2026-06-03 16:09:36

Di tengah maraknya tren makanan yang sangat pedas, seblak menjadi salah satu makanan yang paling digemari, khususnya di kalangan remaja di Indonesia. Cita rasa pedas yang kuat, aroma kencur yang khas, serta kebebasan dalam memilih topping menjadikan seblak bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari makanan sehari hari. Popularitasnya semakin meningkat seiring dengan perkembangan media sosial, dengan tantangan level pedas dan variasi topping menjadi daya tarik tersendiri.

Seblak berasal dari Jawa Barat dan awalnya merupakan makanan sederhana yang berbahan dasar kerupuk basah kemudian dimasak bersama bumbu pedas. Namun, seiring berjalannya waktu, seblak mengalami perkembangan yang signifikan. Jika dulu seblak hanya terdiri dari kerupuk dan bumbu sederhana, di masa sekarang seblak hadir dengan berbagai tambahan isi, seperti mie instan, bakso, sosis, jamur, ceker ayam, hingga makanan olahan beku. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana sebuah makanan tradisional dapat beradaptasi dengan selera masyarakat sekarang.

Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan serius: apakah seblak aman untuk dikonsumsi secara rutin? Sejumlah ahli kesehatan menyebut bahwa seblak cenderung memiliki kandungan gizi yang tidak seimbang. Di mana komposisi utamanya didominasi oleh karbohidrat olahan seperti kerupuk dan mie, sementara kandungan protein, serat, dan lemak sehat relatif rendah.

Selain itu, penggunaan garam, penyedap rasa, dan perasa tambahan dalam jumlah besar membuat kandungan natrium pada seblak cukup tinggi. Bahkan, kandungan natrium dalam satu porsi seblak dapat mencapai sebagian besar batas aman konsumsi harian, yang jika dikonsumsi berlebihan berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Tidak hanya itu, sensasi pedas dari cabai yang menjadi ciri khas makanan ini juga memiliki dampak tersendiri bagi tubuh. Konsumsi makanan pedas yang berlebihan dapat mengiritasi saluran pencernaan, meningkatkan produksi asam lambung, dan memicu gangguan seperti gastritis atau refluks asam (GERD), terutama pada individu yang sensitif.

Dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi seblak secara rutin juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lain, seperti gangguan ginjal akibat konsumsi MSG berlebih, hingga peningkatan risiko penyakit metabolik seperti hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi yang tidak terkontrol juga dapat berdampak serius bagi kesehatan.

Menariknya, ketertarikan terhadap makanan pedas seperti seblak tidak hanya dipengaruhi oleh rasa, tetapi juga faktor biologis. Kandungan capsaicin dalam cabai dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang memberikan sensasi “senang”, sehingga mendorong seseorang untuk terus mengonsumsi makanan pedas. Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa “ketagihan” terhadap seblak.

Meskipun demikian, seblak tidak sepenuhnya harus dihindari. Para ahli menekankan bahwa makanan ini masih dapat dikonsumsi dengan cara yang lebih sehat, tergantung pada bahan dan cara pengolahannya. Mengurangi penggunaan garam, minyak, dan penyedap rasa, serta menambahkan sayuran dan sumber protein dapat membantu meningkatkan nilai gizi seblak.

Selain itu, penting untuk mengatur frekuensi konsumsi dan tidak menjadikan seblak sebagai makanan utama sehari-hari. Mengonsumsi seblak secara sesekali sebagai camilan dianggap lebih aman dibandingkan mengonsumsinya secara rutin dalam jumlah besar.

Pada akhirnya, seblak merupakan contoh bagaimana makanan populer dapat memiliki dua sisi: sebagai kuliner yang lezat sekaligus berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam memilih dan mengonsumsi makanan. Dengan pola konsumsi yang seimbang, masyarakat tetap dapat menikmati makanan favorit tanpa harus mengorbankan kesehatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image