Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

Mencari Kriteria Relevansi Program Studi Bagi Industri

Pendidikan dan Literasi | 2026-05-05 19:19:35

Pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Dr. Badri Munir Sukoco, pada tanggal 23 April 2026 lalu di Bali, bahwa “rencana penutupan program studi dilakukan karena tidak atau kurang relevansinya dengan kebutuhan industri strategis nasional” telah memicu diskursus publik yang luas.

Ilustrasi penutupan program studi di latar depan, dan bangunan industri berdiri gagah di latar belakang. (Sumber: Copilot)

Redefinisi Relevansi

Secara prinsip, langkah evaluasi tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi.

Efektivitas kebijakan ini sangat ditentukan oleh kerangka konseptual yang digunakan untuk memaknai “relevansi”. Jika relevansi semata-mata dimaknai sebagai kesesuaian langsung antara program studi dan kebutuhan pasar tenaga kerja jangka pendek, maka terdapat risiko reduksionisme terhadap peran universitas.

Pendekatan demikian berpotensi mengabaikan fungsi pendidikan tinggi sebagai pengembang ilmu dasar, penjaga khazanah keilmuan strategis, dan pemantik lahirnya industri baru yang belum eksis saat ini. Oleh karena itu, diperlukan redefinisi “relevansi” yang lebih komprehensif dan berorientasi masa depan.

Relevansi hendaknya tidak hanya diukur dari daya serap lulusan pada struktur industri yang ada, tetapi juga dari kontribusi program studi dalam membangun ekosistem industri baru, memperkuat kemandirian teknologi, dan menjawab tantangan peradaban jangka panjang.

Dengan kerangka berpikir ini, evaluasi program studi akan bergeser dari instrumen administratif menuju strategi pembangunan pengetahuan yang berkelanjutan.

Relevan atau Tidak: Untuk Kapan?

Pertanyaan Program Studi (Prodi) ini relevan atau tidak? Memang penting. Tetapi, jawaban yang tergesa bisa membuat kita kehilangan arah. Sebab, menilai kebermanfaatan sebuah bidang ilmu hanya dari serapan kerja hari ini adalah cara pandang yang terlalu sempit.

Mari kita lihat lebih jernih. Bisa saja suatu prodi masih relevan dengan industri di luar negeri, tetapi industrinya belum berkembang di Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, bukan prodinya yang tidak relevan, melainkan kita yang belum mampu menciptakan ekosistem industrinya.

Kita memiliki insinyur material, tetapi pabrik pengolahan bahan baku masih terbatas. Kita meluluskan ahli bioteknologi laut, tetapi risetnya belum tersambung dengan industri farmasi nasional. Kita melahirkan sarjana astronomi, tetapi teleskop riset dan program antariksa kita masih perlu diperkuat.

Jika kemudian kita berkata “Prodinya tidak laku”, kita melewatkan inti persoalan: ekosistem yang belum tumbuh.

Lihat lebih jernih lagi. Bisa saja prodi tersebut dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri saat ini, tapi siapa bisa menjamin bahwa lulusan prodi tersebut tidak relevan juga 20 tahun lagi?

Banyak industri penerbangan merugi, patutkah program studi aeronautika ditutup? Begitu besar kerugian produksi pertanaian akibat serangan hama dan penyakit tanaman, apa prodi Proteksi Tanaman harus dibubarkan? Semakin banyak masyarakat yang sakit, baik fisik maupun psikis, tidak berarti prodi Kedokteran diberangus.

Kampus dan Industri Perlu Tumbuh Bersama

Saat ini pimpinan perguruan tinggi dihadapkan pada tuntutan kuat untuk menjalin kemitraan dengan sektor industri. Seruan “link and match” yang digaungkan oleh pembuat kebijakan mengasumsikan tersedianya mitra industri yang mapan dan berorientasi riset.

Asumsi tersebut perlu diuji secara empiris: Industri mana yang dimaksud? Apakah industri yang mengalokasikan anggaran riset dan pengembangan di bawah 0,2% dari pendapatan, yang cenderung beroperasi sebagai distributor lisensi teknologi alih-alih produsen paten, serta yang menyoroti ketidaksiapan lulusan namun belum menyediakan skema pemagangan terstruktur dengan pendampingan memadai dan remunerasi yang kompetitif?

Kondisi ini menempatkan perguruan tinggi pada dilema struktural. Ketika kurikulum menekankan landasan teoretis, institusi kerap dikritik sebagai menara gading yang terlepas dari realitas. Sebaliknya, ketika pendidikan vokasi diperkuat, muncul kekhawatiran terjadi penyempitan peran universitas menjadi sekadar penyedia tenaga kerja terampil.

Dalam waktu yang sama, dosen dibebani tuntutan jamak: Memenuhi indikator publikasi internasional, melaksanakan pengabdian masyarakat, melakukan komersialisasi riset, sekaligus memasarkan program studi. Mahasiswa pun diarahkan untuk berwirausaha sebelum memiliki pemahaman komprehensif mengenai manajemen keuangan dan risiko bisnis.

Situasi tersebut mengindikasikan adanya ketidaksinkronan sistemik. Permasalahan mendasar bukan terletak pada pilihan program studi, melainkan pada belum terbentuknya rantai nilai industri yang utuh dari hulu ke hilir. Tanpa ekosistem industri yang mampu menyerap, mengembangkan, dan menghilirisasi hasil riset, gelar akademik kehilangan ruang artikulasi di sektor produktif.

Kecenderungan menjadikan Indonesia sebagai pasar konsumen alih-alih produsen teknologi turut memperkuat persoalan ini. Apresiasi lebih besar sering diberikan pada kemampuan mengadopsi produk akhir dibandingkan kemampuan merancang komponen dasarnya.

Prioritas pada proyek impor berskala besar belum diimbangi dengan penguatan kapasitas desain dan manufaktur dalam negeri. Konsekuensinya, terjadi ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan struktur kesempatan kerja yang tersedia, sehingga lulusan dengan latar belakang ilmu dasar dan teknik tinggi banyak yang beralih ke sektor yang tidak linear dengan keahliannya.

Ekosistem Industri dan Risiko Riset

Isu utama yang perlu dibenahi bukanlah kesesuaian program studi secara sepihak, melainkan pembangunan ekosistem industri berbasis pengetahuan. Diperlukan komitmen lintas sektor untuk berinvestasi pada riset dasar, pengembangan teknologi, dan industrialisasi hasil penelitian. Tanpa langkah strategis pada level hulu, tuntutan hilirisasi dan penyerapan lulusan tidak akan memiliki pijakan yang berkelanjutan.

Kampus tidak bisa berjalan sendiri. Ia memerlukan mitra yang bersedia membangun laboratorium bersama, membuka ruang magang yang bermakna, dan berinvestasi pada pengembangan produk dari hulu ke hilir.

Begitu pula industri. Ia memerlukan kepastian arah, dukungan kebijakan, dan keberanian mengambil risiko untuk riset jangka panjang. Jika kedua belah pihak menunggu, maka yang terjadi adalah jalan di tempat. Kampus berjalan ke satu arah, industri ke arah lain, dan lulusan berdiri di tengah tanpa pijakan yang kokoh.

Kita perlu mengubah cara pandang. Universitas bukan sekadar tempat menyiapkan tenaga kerja. Ia adalah ruang tempat pengetahuan dirawat, dikembangkan, dan diuji. Dari ruang itulah lahir cara berpikir baru, teknologi baru, dan nilai-nilai baru yang suatu hari menjadi industri. Tugas kita bersama adalah memastikan jembatan antara ruang itu dan dunia nyata terus dibangun, bukan diputus karena dianggap belum menghasilkan.

Antara Optimisme, Kesabaran dan Keberanian

Optimisme bukan berarti menutup mata dari tantangan. Optimisme berarti percaya bahwa ekosistem bisa diciptakan bila kita bersedia bekerja sama. Kita bisa mulai dengan menetapkan arah industri jangka panjang yang jelas. Setelah arah itu ada, kita lindungi dan dukung prodi yang menjadi fondasinya, bahkan ketika pasar untuk lulusannya belum terbentuk hari ini. Ini adalah bentuk investasi peradaban.

Beberapa bidang ilmu memang baru akan berbuah dalam sepuluh atau dua puluh tahun. Tetapi tanpa menanam hari ini, kita tidak akan memanen apa pun di masa depan.

Optimisme juga berarti mengubah pola hubungan. Industri dapat berbagi peran lebih besar dalam mendanai riset dasar, bukan hanya riset terapan. Negara dapat hadir sebagai penggerak awal, membuka jalan bagi swasta untuk masuk. Kampus dapat lebih terbuka, menjadikan risetnya relevan dengan kebutuhan bangsa tanpa kehilangan kedalaman ilmiah.

Masyarakat dapat menghargai semua bidang ilmu, sebab kemajuan tidak hanya dibangun oleh insinyur dan ekonom, tetapi juga oleh sejarawan, filsuf, seniman, dan ahli etika yang menjaga arah.

Kita punya banyak anak muda yang cerdas dan berani. Kita punya sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sesuatu yang kita perlukan adalah kesabaran strategis dan keberanian kolektif untuk membangun. Jika kita hanya menilai prodi dari lowongan kerja yang tersedia minggu ini, kita akan kehilangan potensi besar yang baru terlihat sepuluh tahun lagi.

Evaluasi dengan Langkah Membangun

Evaluasi relevansi prodi adalah hal yang penting dan perlu didukung. Jawaban terbaik atas evaluasi itu bukanlah sekadar menutup, melainkan membangun. Kita bangun ekosistem agar ilmu menemukan jalannya menjadi karya. Kita perkuat kolaborasi agar riset menemukan jalannya menjadi industri. Kita rawat semua cabang pengetahuan agar bangsa ini tidak hanya siap untuk hari ini, tetapi juga siap menyambut masa depan yang belum terlihat.

Pertanyaan yang lebih tepat bukan Lulusan mau kerja di mana, melainkan Apa yang sudah kita siapkan agar ilmu mereka bisa menjadi karya, usaha, dan lapangan kerja baru.

Ketika pertanyaan itu yang kita jawab bersama, maka setiap prodi memiliki harapan, setiap lulusan memiliki jalan, dan Indonesia memiliki masa depan yang kita rancang sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image