Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Di Balik Dinding Kampus, Saat Ilmu Kehilangan Arah

Pendidikan dan Literasi | 2026-05-05 07:55:15

Kampus sering dibayangkan sebagai ruang terang, tempat ilmu tumbuh, nalar diasah, dan masa depan dirancang dengan penuh harap. Namun, sesekali cahaya itu meredup oleh kabar yang menyisakan kegelisahan. Bukan tentang kegagalan akademik, melainkan tentang perilaku yang menyentuh sisi paling mendasar dari martabat manusia.

Dalam beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh dugaan pelecehan terhadap mahasiswi oleh seorang tenaga pendidik di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Pihak kampus merespons dengan membentuk tim investigasi untuk menelusuri kasus tersebut. (CNNIndonesia.com, 17 April 2026)

Tidak lama berselang, muncul pula polemik terkait lagu yang dinyanyikan oleh sekelompok mahasiswa yang dinilai merendahkan perempuan, yang kemudian ramai diperbincangkan di ruang publik digital. (Sindonews.com, 15/04/2026)

Dua peristiwa ini tidak sepatutnya hanya dibaca sebagai kesalahan individu. Ia mengandung pesan yang lebih dalam, ada sesuatu dalam ekosistem pembentukan manusia yang perlu ditinjau ulang. Sebab, jika ruang pendidikan yang diharapkan menjadi penjaga nilai justru ikut terseret arus penyimpangan, maka persoalannya tidak lagi bersifat parsial.

Salah satu hal yang layak dicermati adalah cara zaman ini memaknai kebebasan. Kebebasan sering dipahami sebagai hak yang luas untuk berekspresi, selama tidak berhadapan langsung dengan aturan hukum formal. Dalam praktiknya, batas etika menjadi sangat lentur. Ucapan yang merendahkan bisa dianggap humor, ekspresi yang mengobjektifikasi dipandang sebagai kreativitas, dan relasi yang tidak seimbang bisa terbungkus dalam normalitas sosial. Ketika sensitivitas terhadap martabat manusia menurun, pelanggaran tidak lagi terasa sebagai pelanggaran.

Di sisi lain, orientasi pendidikan modern cenderung menempatkan capaian intelektual sebagai indikator utama keberhasilan. Prestasi akademik, publikasi, dan pengakuan institusional menjadi tolok ukur yang dominan. Semua itu tentu penting, tetapi ada dimensi yang berisiko terabaikan: pembentukan karakter yang utuh. Ilmu yang tidak dibarengi dengan kesadaran moral dapat kehilangan arah, bahkan berpotensi digunakan dengan cara yang merugikan.

Lingkungan digital turut memberi warna dalam dinamika ini. Arus informasi yang cepat dan masif menghadirkan beragam konten tanpa batas yang jelas. Hal-hal yang dahulu dianggap tidak pantas, kini bisa menjadi konsumsi sehari-hari. Paparan yang terus-menerus dapat mengikis sensitivitas, sehingga yang semula janggal berubah menjadi biasa. Dalam kondisi seperti ini, individu tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari arus yang membentuk budaya tersebut.

Dari sini, tampak bahwa persoalan yang muncul di lingkungan kampus tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan cara pandang yang lebih luas tentang manusia, kebebasan, dan tujuan pendidikan. Ketika nilai-nilai moral tidak lagi menjadi fondasi utama, maka ruang apa pun, termasuk kampus, dapat mengalami erosi yang sama.

*Perspektif Islam*

Dalam perspektif Islam, fenomena ini mengingatkan pada pentingnya menjaga keterpaduan antara ilmu dan iman. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga menuntun hati. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan ”(QS. An-Nahl: 90). Ayat ini menegaskan bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk dalam dunia akademik, seharusnya berlandaskan pada nilai keadilan dan kebaikan. Ilmu tanpa arah nilai berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana memuliakan manusia.

Al-Qur’an juga memberikan peringatan yang sangat mendasar, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”

(QS. Al-Isra: 32). Larangan ini tidak hanya berbicara tentang perbuatan akhir, tetapi juga segala hal yang mengarah ke sana. Artinya, menjaga kehormatan tidak cukup dengan menghindari pelanggaran besar, tetapi juga dengan menutup pintu-pintu kecil yang dapat mengantarkan kepadanya, baik melalui ucapan, interaksi, maupun konten yang dikonsumsi.

Rasulullah saw. menegaskan misi pendidikan dalam Islam melalui sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)

Akhlak menjadi inti dari seluruh proses pembelajaran. Tanpa akhlak, ilmu dapat kehilangan ruhnya. Bahkan dalam hadis lain dijelaskan bahwa penyimpangan besar sering kali berawal dari hal-hal kecil yang diabaikan, seperti pandangan dan ucapan.

Allah Swt. mengingatkan, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Ghafir: 19)

Kesadaran bahwa setiap perbuatan berada dalam pengawasan Ilahi menghadirkan dimensi tanggung jawab yang lebih dalam daripada sekadar kepatuhan terhadap aturan formal.

Pada akhirnya, kampus tidak hanya bertugas melahirkan manusia cerdas, tetapi juga manusia yang mampu menjaga kehormatan dirinya dan orang lain. Jika ilmu adalah cahaya, maka akhlak adalah arah yang memastikan cahaya itu tidak menyilaukan, melainkan menerangi. Refleksi ini menjadi penting agar ruang akademik tetap menjadi tempat tumbuhnya peradaban yang beradab, bukan sekadar pusat pengetahuan, tetapi juga penjaga nilai kemanusiaan.

Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap arah pendidikan ke depan. Upaya perbaikan tentu membutuhkan langkah yang menyeluruh, melalui penguatan keteladanan, penegasan nilai dalam setiap proses pembelajaran, serta kesadaran individu untuk menjaga diri dalam setiap situasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image