Dari Konflik Iran hingga Persatuan Umat: Pelajaran bagi Dunia Islam
Politik | 2026-04-26 14:39:03
Oleh : Ina Winahyu
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Putra dari Ayatullah Ali Khamenei itu menegaskan bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan terakhir. Strategi “perlawanan” yang diusung Iran berhasil mematahkan dominasi Barat dan “sekutunya” sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung global. Iran telah membuktikan bahwa kekuatan iman dan kemandirian mampu mengalahkan kekuatan materialistik. Hari ini, dunia melihat Iran bukan hanya sebagai negara yang bertahan, tetapi sebagai mercusuar inspirasi bagi mereka yang mencari keadilan. Ini merupakan bukti nyata dari pergeseran kekuatan global (https://mediaindonesia.com/international).
Pelajaran dari konflik AS dan Iran adalah ternyata tidak mudah mengalahkan Iran yang notabene hanya satu negeri Muslim saja. Dan nyatanya, AS tidak bisa memaksa negara-negara sekutunya untuk terlibat langsung perang dengan Iran. Italia sebagai sekutu utama AS di Eropa enggan bergabung untuk melawan Iran. Pemerintahnya melarang pesawat-pesawat AS yang menuju Timur Tengah untuk mendarat di pangkalan militer di Sisilia (https://detiknews.com/international).
Perancis juga tidak mengizinkan Israel menggunakan wilayah udaranya untuk dilewati pesawat-pesawat yang mengangkut persenjataan AS yang akan digunakan dalam perang melawan Iran. Kemudian Spanyol melalui Menteri Pertahanannya, Margarita Robles, menyatakan tidak akan mengizinkan penggunaan pangkalan militer maupun wilayah udaranya untuk aktivitas apa pun terkait operasi militer gabungan AS dan Israel di Iran (https://www.cnnindonesia.com).
Negara-negara sekutu AS menunjukkan keengganannya membantu AS-Israel melawan Iran, namun sebaliknya justru negeri-negeri Muslim di kawasan Teluk malah bersekutu dengan AS, yang di antaranya: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Mesir, dan Turki. Mereka beralasan demi stabilitas kawasan regional dan meredam pengaruh Iran, juga stabilitas energi dan kedaulatan wilayah serta menjaga hubungan strategis dengan AS (Metrotvnews.com).
Dari realita perang AS-Israel melawan Iran yang masih terus berlangsung ini, terbukti AS-Israel tidak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara adikuasa. AS-Israel bahkan kewalahan menghadapi serangan-serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dan fasilitas-fasilitas vital di Israel tanpa bisa dihalangi oleh kekuatan militer AS. Lalu, keengganan dan penolakan sekutu-sekutu AS di Eropa seperti Italia, Perancis, dan Spanyol untuk membantu AS dalam perang melawan Iran menjadi bukti bahwa tidak ada negara yang bersekutu kecuali ada kepentingan. Dan ini sebenarnya melemahkan posisi AS ketika tanpa dukungan sekutunya.
Di sisi lain, perlawanan Iran mampu menandingi kekuatan militer AS, membuktikan ada satu negeri Muslim yang bisa menantang dan mengalahkan kekuatan AS. Bisa dibayangkan, andai seluruh negeri Muslim, khususnya di kawasan Teluk, bersatu melawan hegemoni global (AS-Israel), tentu akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat. Potensi kesatuan negeri-negeri Muslim bisa menjadi kekuatan global baru. Ironinya, hari ini banyak negeri Muslim yang justru bersekutu dengan AS, penguasa negeri Muslim berkhianat kepada saudara Muslimnya.
Kekuatan perlawanan Iran atas AS-Israel tanpa dukungan negeri Muslim yang lain dan pengkhianatan para penguasa negeri Muslim menjadi sandera bagi kemenangan hakiki umat Muslim. Walau masing-masing negeri punya kekuatan, tetapi masih terpecah-pecah. Tersekat-sekatnya umat Muslim dalam nation state hari ini menjadi penghalang nyata bagi kemenangan Islam. Kemenangan yang sudah Allah janjikan harus diupayakan dan diperjuangkan.
Kemenangan mustahil dicapai jika masih terpecah-pecah. Kemenangan hanya mungkin diraih ketika umat bersatu seperti yang pernah dicontohkan Baginda Rasul tatkala membangun negara dan peradaban Islam. Maka, hari ini membangun kesadaran kesatuan negeri-negeri Muslim sangatlah urgen. Hanya dengan kesatuan negeri-negeri Muslim yang sesuai manhaj kenabian, yang mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. Khilafah mampu membebaskan penderitaan negeri-negeri Muslim dari penjajahan kafiryang diperjuangkan dengan dakwah dan jihad akan membawa rahmat bagi dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
