Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fikrudz Dzikri Al Farisy

Ketika Perdebatan Mazhab Mengaburkan Solidaritas untuk Palestina

Agama | 2026-05-11 21:02:14
Ilustrasi kemerdekaan Palestina. Sumber gambar : https://www.suaramuhammadiyah.id/read/jalan-berliku-menuju-negara-palestina-merdeka-dan-berdaulat

Dalam lintasan sejarah, hampir sebagian besar umat Islam di Indonesia secara konsisten menunjukkan dukungan penuh terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina yang hingga kini masih berada di bawah penjajahan Zionis Israel. Isu Palestina tidak lagi sekadar dipahami sebagai konflik geopolitik di Timur Tengah, melainkan telah menjadi simbol perjuangan melawan penjajahan, penindasan, dan ketidakadilan global. Solidaritas terhadap Palestina tumbuh kuat di tengah masyarakat Indonesia, baik melalui aksi kemanusiaan, penggalangan dana, hingga berbagai bentuk dukungan moral yang terus disuarakan dalam ruang publik. Dalam konteks ini, berbagai aktor internasional silih berganti memainkan peran sebagai pihak yang dianggap berada di garis depan dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Sejak kekalahan koalisi Arab dalam Perang Yom Kippur 1973, peta representasi pembela Palestina perlahan mengalami perubahan. Jika sebelumnya negara-negara Arab menjadi simbol utama perlawanan terhadap Israel, maka dalam beberapa dekade terakhir posisi tersebut semakin banyak diasosiasikan dengan Iran. Terlebih setelah Revolusi 1979, Iran secara konsisten menempatkan isu Palestina sebagai bagian penting dari orientasi politik luar negerinya. Dukungan tersebut tidak hanya disampaikan melalui retorika diplomatik, tetapi juga melalui sikap politik yang tegas dalam menghadapi Zionis Israel dan sekutu-sekutunya, termasuk Amerika Serikat.

Ketika konflik kembali memanas sejak akhir 2023 dan eskalasinya terus meluas hingga melibatkan konfrontasi langsung antara Iran, Zionis Israel, dan Amerika Serikat, resonansinya turut dirasakan oleh umat Islam di Indonesia. Namun, di tengah situasi yang semestinya menjadi momentum memperkuat solidaritas terhadap Palestina, sebagian ruang diskusi justru dipenuhi oleh perdebatan yang mengarah pada persoalan identitas mazhab. Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya mendukung Iran karena latar belakang keyakinannya menjadi topik yang lebih banyak dibicarakan dibandingkan pembahasan mengenai bagaimana umat Islam dapat bersama-sama menekan ketidakadilan yang sedang berlangsung.

Padahal, jika perhatian terlalu banyak diarahkan kepada perdebatan internal semacam ini, fokus terhadap perjuangan Palestina justru semakin kabur. Yang lebih memprihatinkan, sebagian kalangan terlihat lebih bersemangat membangun sentimen kebencian terhadap sesama Muslim dibandingkan menunjukkan keberanian dalam mengkritik pihak-pihak yang secara nyata membiarkan Palestina terus berada dalam penderitaan.

Ketika Perdebatan Aqidah Menggeser Fokus dari Perjuangan Palestina

Perdebatan mengenai Sunni dan Syiah tentu bukan hal baru dalam sejarah umat Islam. Perbedaan tersebut telah berlangsung panjang dan memiliki akar yang kompleks. Namun, menjadikan persoalan tersebut sebagai alasan untuk menolak setiap bentuk apresiasi terhadap keberanian Iran dalam menghadapi Zionis Israel adalah sikap yang patut dipertanyakan.

Ayatollah Khomeini, ulama dari kalangan Syiah sekaligus Pemimpin Agung Iran pertama pasca Revolusi 1979. Sumber gambar : https://www.cnnindonesia.com/internasional/20220405140524-120-780545/ayatollah-khomeini-pemimpin-syiah-pelopor-revolusi-iran

Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai platform media sosial dipenuhi oleh narasi provokatif yang justru memperuncing perpecahan. Tidak sedikit akun-akun keagamaan maupun tokoh tertentu yang terus mengulang pernyataan bahwa Syiah bukan bagian dari Islam, sehingga mendukung Iran dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Narasi seperti ini sering kali disertai dengan tuduhan-tuduhan lama yang kembali diangkat tanpa konteks yang utuh, seperti klaim mengenai kedekatan Iran dengan pihak Zionis Israel. Klaim sepihak tersebut kemudian menimbulkan asumsi liar bahwasanya konflik yang terjadi saat ini hanyalah sandiwara diantara keduannya.

Lebih jauh, beredar pula potongan-potongan ceramah yang berisi fitnah personal terhadap tokoh-tokoh penting Iran. Salah satu yang cukup banyak dibagikan adalah tuduhan bahwa Ayatollah Khomeini memiliki garis keturunan Yahudi, seolah-olah hal tersebut dapat digunakan untuk mendiskreditkan seluruh perjuangan politik Iran terhadap Palestina. Bahkan gelar “Ayatollah”, yang dalam tradisi keilmuan Syiah merupakan bentuk penghormatan terhadap ulama, sengaja dipelesetkan menjadi istilah yang menghina. Cara-cara seperti ini jelas bukan bentuk kritik intelektual, melainkan upaya membangun kebencian yang justru bertentangan dengan semangat persatuan umat.

Ironisnya, banyak dari kalangan yang begitu lantang menyuarakan penolakan terhadap Iran justru jarang membicarakan substansi utama: siapa yang saat ini secara nyata berani berhadapan dengan Zionis Israel. Perdebatan mengenai mazhab akhirnya menjadi jalan pintas untuk menghindari pembahasan yang lebih penting, yakni bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap penjajahan yang terus berlangsung.

Diam terhadap Sikap Negara-Negara Arab

Hal lain yang patut dikritisi adalah sikap sebagian kelompok fanatik yang sangat keras terhadap Iran, tetapi nyaris tidak pernah menunjukkan keberanian yang sama ketika membahas sikap banyak negara Arab terhadap Palestina.

Sebuah Billboard yang terpajang di Israel pada 2025 menunjukkan sebuah upaya Provokatif pihak Zionis dan juga AS untuk menggaet sekutu dari kalangan negara-negara Arab. Sumber gambar : https://s.lorientlejour.com/storage/attachments/1467/2fae7a39-1dfb-4160-97ec-2981284fd8aa_246311.jpeg/r/1200/2fae7a39-1dfb-4160-97ec-2981284fd8aa_246311.jpeg

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan bagaimana sejumlah negara Arab justru memilih membangun hubungan yang semakin dekat dengan Amerika Serikat dan bahkan melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Kesepakatan politik, kerja sama ekonomi, hingga pembukaan jalur diplomatik terus berjalan, sementara penderitaan rakyat Palestina tetap berlangsung. Banyak pemerintah Arab terlihat lebih sibuk menjaga stabilitas hubungan strategis dengan Washington dibandingkan mendorong langkah nyata yang dapat memberikan tekanan terhadap Israel.

Anehnya, kondisi ini tidak memicu kemarahan yang sama dari kelompok-kelompok yang sangat aktif menyerang Iran. Kritik terhadap negara-negara Arab sering kali terdengar sangat pelan, bahkan nyaris tidak terdengar sama sekali. Tidak ada seruan boikot terhadap para pemimpin yang memilih berlindung di bawah payung keamanan Amerika Serikat. Tidak ada pula kampanye besar yang mempertanyakan komitmen mereka terhadap kemerdekaan Palestina.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah keberatan terhadap Iran benar-benar didasarkan pada segala tindakan kepedulian terhadap Palestina, atau justru semata-mata dilandasi sentimen mazhab yang sudah lebih dulu mengakar?

Jika ukuran dukungan terhadap Palestina adalah keberanian untuk menolak dominasi Zionis dan sekutunya, maka seharusnya kritik juga diarahkan kepada pihak-pihak yang memilih diam, bahkan berkompromi. Tidak adil jika satu pihak terus diserang karena latar belakang ideologinya, sementara pihak lain dibiarkan tanpa evaluasi meskipun menunjukkan sikap pasif terhadap penjajahan yang sedang berlangsung.

Mengapresiasi Keberanian, Bukan Mengadopsi Ideologi

Mendukung langkah Iran dalam menghadapi Zionis Israel bukan berarti harus menerima seluruh ideologi, sistem politik, atau pandangan keagamaannya secara utuh. Dua hal tersebut perlu dibedakan secara jernih. Tidak semua bentuk dukungan harus berujung pada loyalitas ideologis. Mengapresiasi keberanian politik Iran seharusnya dipahami sebagai pengakuan terhadap sikap tegas yang ditunjukkan dalam menghadapi ketidakadilan global. Keberanian semacam ini justru menjadi sesuatu yang langka ketika banyak negara memilih berhitung secara politik dan menjaga kenyamanan hubungan dengan kekuatan besar dunia.

Pemimpin Hamas Ismail Heniyah bertemu dengan Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun keduanya berbeda mahzab namun mereka saling membantu dalam rangka perjuangan Palestina melawan pendudukan Zionis. Sumber gambar : https://gdb.rferl.org/01000000-0aff-0242-15d1-08dcb13bd48f_cx0_cy6_cw0_w408_r1_s.jpg

Dalam konteks perjuangan Palestina, yang dibutuhkan umat Islam hari ini bukanlah keseragaman pandangan dalam segala hal, melainkan kemampuan untuk membedakan mana persoalan prinsip dan mana persoalan cabang. Penolakan terhadap penjajahan adalah persoalan prinsip. Dukungan terhadap hak hidup dan kemerdekaan rakyat Palestina adalah persoalan prinsip. Sementara perbedaan mazhab, orientasi politik, dan afiliasi ideologis tidak semestinya menjadi alasan untuk menolak setiap bentuk solidaritas yang dapat memperkuat perjuangan tersebut.

Sudah saatnya energi umat tidak lagi dihabiskan untuk saling mencurigai dan memperbesar perbedaan internal. Dunia Islam membutuhkan keberanian untuk bersikap tegas terhadap penjajahan, siapa pun yang menunjukkan langkah tersebut patut diapresiasi. Bukan untuk diikuti secara membabi buta, melainkan untuk menjadi pengingat bahwa masih ada pihak yang memilih melawan ketika banyak yang memilih diam.

Palestina tidak membutuhkan umat Islam yang sibuk berdebat tentang siapa yang paling benar di antara sesama. Palestina membutuhkan solidaritas yang nyata, keberanian untuk bersikap, dan kesediaan untuk menempatkan perjuangan melawan penjajahan di atas segala perbedaan yang selama ini terus diwariskan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image