Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Ketegangan antara Nilai dan Sistem Pendidikan

Pendidikan | 2026-06-02 14:44:54
Ilustrasi

Hari Kebangkitan Nasional 2026 di Jawa Barat membawa satu penegasan penting. Pemerintah daerah menempatkan Pancawaluya sebagai fondasi pembentukan generasi unggul. Lima nilai utama menjadi porosnya: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Nilai ini digali dari kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Ia tidak datang dari ruang hampa. Ia lahir dari pengalaman panjang budaya yang memahami manusia secara utuh. (Disdik.jabarprov.go.id, 20/05/2026)

Gagasan ini terasa segar. Ia memberi kesan bahwa pendidikan tidak lagi hanya berbicara soal angka. Ia mencoba kembali pada akar. Ia ingin membentuk manusia, bukan sekadar lulusan.

Terbayang, ada seorang siswa yang duduk di ruang kelas. Ia mendengar tentang pentingnya menjadi bageur. Ia memahami arti bener. Ia menghafal makna singer. Namun, ketika ia keluar dari ruang kelas, ia bertemu realitas yang tidak selalu sejalan.

Di titik ini, muncul pertanyaan sederhana. Apakah nilai cukup untuk membentuk perilaku? Atau, justru lingkungan yang lebih kuat menentukan arah? Banyak penelitian pendidikan menunjukkan bahwa lingkungan belajar memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter. Laporan UNESCO tahun 2021 menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa dukungan sistem yang konsisten, mulai dari kurikulum hingga budaya sekolah.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga sejalan dengan itu. Ia menempatkan pendidikan sebagai proses yang menuntun segala kekuatan kodrat anak. Artinya, pendidikan tidak berhenti pada konsep. Pendidikan harus hadir dalam praktik.

Pendidikan hari ini bergerak dalam ritme yang cepat. Banyak target harus dicapai. Banyak indikator harus dipenuhi. Sekolah berlomba menunjukkan hasil. Siswa berlomba meraih nilai. Guru berlomba menyelesaikan kurikulum.

Kemudian, tanpa disadari, ruang pembentukan jiwa menjadi sempit. Siswa belajar untuk menjawab soal, tetapi tidak selalu belajar memahami diri. Mereka dilatih berpikir cepat, tetapi tidak selalu diajak berpikir dalam. Mereka diarahkan untuk berhasil, tetapi tidak selalu dibimbing untuk mengerti arah keberhasilan itu.

Di sinilah letak kegelisahan itu muncul. Nilai Pancawaluya terasa indah, tetapi ia berhadapan dengan realitas yang kompleks. Ketika sistem tidak sepenuhnya mendukung, nilai bisa kehilangan daya.

Nilai membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ia membutuhkan contoh. Ia membutuhkan suasana yang mendukung. Tanpa itu, nilai hanya menjadi pengetahuan.

Dalam banyak kasus, pendidikan menghadapi ketegangan. Di satu sisi, ia ingin membentuk karakter. Di sisi lain, ia harus memenuhi tuntutan yang serba terukur. Akibatnya, pendidikan sering berjalan di dua arah yang berbeda.

Siswa akhirnya berada di tengah tarik-menarik itu. Ia belajar tentang kejujuran, tetapi melihat praktik yang tidak selalu jujur. Ia belajar tentang tanggung jawab, tetapi melihat banyak hal diselesaikan tanpa tanggung jawab yang jelas. Kondisi ini tidak selalu disadari, tetapi dampaknya terasa.

*Islam Menawarkan Keutuhan Arah*

Islam memandang pendidikan sebagai proses yang utuh. Ia tidak memisahkan ilmu dari tujuan hidup. Al-Qur’an memberikan arah yang tegas, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menempatkan manusia dalam tujuan yang jelas. Dari tujuan ini, pendidikan menemukan arah. Ilmu tidak lagi berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia.

Rasulullah saw. membangun generasi dengan pendekatan yang menyatu. Beliau tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga mencontohkan bagaimana menjalankannya. Hadis riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ menyebutkan bahwa akhlak menjadi inti dari risalah beliau. Dari proses ini lahir generasi yang tidak hanya memahami nilai, tetapi juga hidup dengan nilai itu.

Sejarah mencatat hasil dari pendidikan yang memiliki arah jelas. Para sahabat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung nilai yang diajarkan. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat dan merasakan.

Umar bin Khattab memimpin dengan keadilan yang kuat. Ia tidak sekadar memahami konsep adil. Ia menjalankan keadilan dalam kebijakan dan kehidupan sehari-hari. Ali bin Abi Thalib menunjukkan kecerdasan yang dalam sekaligus kebijaksanaan yang lembut. Mereka adalah bukti bahwa pendidikan yang utuh mampu melahirkan pribadi yang seimbang.

Pada masa berikutnya, lahir para ilmuwan besar dalam peradaban Islam. Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan arah hidup. Ini menunjukkan bahwa keunggulan tidak hanya diukur dari kecerdasan, tetapi juga dari integritas.

*Penutup*

Pancawaluya adalah ikhtiar yang patut diapresiasi. Ia membawa pesan bahwa pendidikan harus kembali pada nilai. Namun, nilai membutuhkan fondasi yang kuat. Ia membutuhkan sistem yang selaras. Ia membutuhkan arah yang jelas.

Refleksi ini hadir sebagai bentuk kepedulian, untuk memastikan bahwa langkah yang diambil tidak hanya tepat di permukaan, tetapi juga kuat di dasar. Sebab, generasi unggul tidak lahir dari konsep semata. Ia lahir dari kesatuan antara nilai, sistem, dan tujuan. Ketika ketiganya berjalan seiring, maka pendidikan tidak hanya mencetak manusia yang mampu bersaing. Ia melahirkan manusia yang memahami arah hidupnya dan mampu memberi makna bagi sekitarnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image