Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Lintang Ayu Widiyaningsih

Benarkah Jurusan Ilmu Murni Sulit Bersaing di Dunia Kerja?

Iptek | 2026-06-03 01:20:20
sumber : pinterest

"Masuk Matematika nanti kerja apa?"

Pertanyaan itu masih sering didengar siswa yang memilih jurusan ilmu murni. Di tengah populernya Kedokteran, Teknik Informatika, dan Bisnis Digital, jurusan seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi kerap dianggap memiliki prospek kerja yang kurang jelas.

Pandangan tersebut muncul karena banyak orang menilai suatu jurusan dari seberapa jelas profesi yang dihasilkannya. Akibatnya, ilmu murni sering dianggap kalah bersaing dibandingkan jurusan yang lebih terarah pada pekerjaan tertentu.

Padahal, kebutuhan dunia kerja saat ini justru bergerak ke arah yang berbeda. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa analytical thinking atau kemampuan berpikir analitis menjadi keterampilan yang paling dibutuhkan perusahaan. Sebanyak 69 persen pemberi kerja menempatkan kemampuan ini sebagai kompetensi utama tenaga kerja masa depan.

Selain itu, World Economic Forum juga memprediksi bahwa bidang AI, data, dan teknologi akan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan pekerjaan tercepat hingga tahun 2030.

Kemampuan tersebut bukanlah hal asing bagi mahasiswa ilmu murni. Selama kuliah, mereka dilatih berpikir logis, menganalisis data, melakukan penelitian, dan memecahkan masalah secara sistematis. Keterampilan inilah yang semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

Sayangnya, stigma lama masih melekat. Banyak orang menganggap ilmu murni tidak memiliki prospek kerja yang menjanjikan. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang mengurungkan minatnya meskipun memiliki kemampuan dan ketertarikan di bidang sains.

Padahal, saat ini lulusan ilmu murni dapat berkarier di berbagai sektor, mulai dari riset, industri, teknologi, hingga analisis data. Dunia kerja modern semakin menghargai keterampilan dan kemampuan beradaptasi dibanding sekadar nama jurusan.

Tentu, lulusan ilmu murni tetap perlu mengembangkan keterampilan tambahan seperti pemrograman, komunikasi, dan literasi digital agar mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang. Namun, tantangan tersebut juga dihadapi oleh hampir semua bidang studi.

Karena itu, anggapan bahwa lulusan ilmu murni sulit bersaing tampaknya mulai kehilangan relevansinya. Di era AI, kemampuan memahami, menganalisis, dan menyelesaikan masalah justru menjadi modal yang semakin berharga.

Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan saat ini bukan lagi, "Kerja apa setelah lulus ilmu murni?", melainkan, "Siapkah kita memanfaatkan kemampuan yang dimiliki untuk menjawab kebutuhan dunia yang terus berubah?"

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image