Dari Pandangan ke Pelecehan: Akar yang Sering Diabaikan
Agama | 2026-04-25 11:46:54
Kasus pelecehan seksual terus berulang di berbagai ruang—termasuk di lingkungan pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi tempat yang menjunjung tinggi etika dan moral. Peristiwa ini bukan sekadar insiden, tetapi tanda bahwa ada masalah yang lebih mendasar yang belum benar-benar kita sentuh.
Yang sering luput, pelanggaran tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh diam-diam, jauh sebelum peristiwa itu terjadi.
Kita kerap membacanya sebagai persoalan moral individu: siapa pelakunya, apa motifnya, dan bagaimana hukumannya. Namun ada lapisan yang lebih sunyi dan jarang disentuh—kebiasaan kecil yang terus diulang, terutama di ruang digital.
Hari ini, layar menjadi ruang paling dekat dengan manusia. Apa yang dilihat, diulang, dan dinikmati setiap hari tidak lagi berhenti sebagai tontonan. Ia membentuk cara pandang—perlahan, konsisten, hingga yang semula terasa asing menjadi biasa.
Dalam psikologi, manusia tidak hanya belajar dari pengalaman langsung, tetapi juga dari apa yang mereka amati secara berulang. Paparan visual, termasuk dari media digital, dapat membentuk pola pikir dan kecenderungan perilaku tanpa disadari.
Di tengah arus konten yang kian masif, batas antara hiburan dan eksploitasi semakin kabur. Visual berbau seksualitas hadir dalam bentuk yang ringan: video pendek, candaan, tren yang tampak remeh. Namun karena berulang, ia mengikis sensitivitas. Yang dulu terasa tidak pantas, pelan-pelan kehilangan daya kejutnya.
Fenomena ini dikenal sebagai desensitisasi—ketika paparan berulang terhadap suatu stimulus membuat seseorang menjadi semakin tidak peka terhadapnya. Sesuatu yang awalnya terasa mengganggu dapat berubah menjadi hal yang dianggap biasa.
Di titik ini, persoalan tidak lagi sekadar soal tahu atau tidak tahu. Banyak orang memahami batasan moral dan agama. Namun pemahaman tidak selalu berbanding lurus dengan kendali. Nilai itu tetap ada, tetapi tidak selalu bekerja sebagai rem. Ia hadir sebagai pengetahuan, namun melemah karena terlalu sering dilanggar tanpa konsekuensi.
Dalam kondisi ini, seseorang dapat menyesuaikan persepsinya agar selaras dengan kebiasaan yang dilakukan. Pelanggaran yang berulang tidak lagi terasa berat, karena pikiran secara perlahan “menormalisasi” apa yang sebelumnya dianggap salah.
Al-Qur’an memberi urutan yang tegas dalam surah An-Nur ayat 30–31: menjaga pandangan lebih dahulu sebelum menjaga kehormatan diri. Ini menunjukkan bahwa perilaku bukanlah titik awal, melainkan hasil dari apa yang terus-menerus dibiarkan masuk ke dalam diri—baik melalui layar maupun dalam interaksi nyata sehari-hari.
Dalam tradisi Islam, dikenal konsep khalil—kedekatan yang membentuk seseorang secara halus namun mendalam. Nabi ﷺ mengingatkan bahwa seseorang mengikuti cara hidup sahabat dekatnya. Hari ini, “kedekatan” itu tidak selalu hadir dalam bentuk manusia. Ia bisa berupa layar, algoritma, dan arus konten yang setiap hari menemani tanpa disadari.
Ketika paparan ini menjadi rutin, batas perlahan bergeser. Apa yang dulu terasa tidak pantas bisa berubah menjadi lumrah, bukan karena berubahnya nilai, tetapi karena berubahnya kebiasaan.
Dalam sosiologi, ini dikenal sebagai proses normalisasi—ketika sesuatu yang awalnya menyimpang perlahan diterima sebagai hal biasa karena terus-menerus hadir dalam lingkungan sosial.
Dorongan yang terbentuk di ruang privat tidak serta-merta hilang; ia tersimpan dan menunggu konteks. Ketika kesempatan, posisi, atau celah itu muncul, dorongan tersebut dapat menemukan bentuknya di ruang sosial—termasuk dalam perilaku pelecehan, yang tidak selalu dimulai dari tindakan fisik.
Persoalan ini tidak berhenti pada individu. Lingkungan yang permisif, budaya yang menormalisasi, dan sistem yang belum sepenuhnya melindungi membuat batas semakin kabur. Dalam kondisi seperti ini, pelanggaran bukan hanya mungkin terjadi, tetapi menjadi lebih mudah terjadi.
Karena itu, penyelesaian tidak bisa berhenti pada penanganan kasus semata. Ia perlu menyentuh hal yang lebih mendasar: apa yang dilihat, apa yang dibiasakan, dan bagaimana seseorang menjaga dirinya sejak dari awal.
Pelecehan tidak selalu dimulai dari tindakan, tetapi dari pembiasaan yang dibiarkan. Jika yang pertama tidak dijaga, yang terakhir hanya tinggal menunggu waktu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
