Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Septia Destiany

Luka yang Menghantui

Humaniora | 2026-04-10 15:00:44

Kadang aku ngerasa, ada luka yang nggak kelihatan tapi rasanya nyata banget. Luka yang nggak berdarah, tapi terus kebawa sampai kita gede. Dan salah satu yang paling berat itu adalah trauma masa kecil, apalagi kalau itu berkaitan sama pelecehan seksual.

Ilustrasi gambaran Perasaan terpuruk, kesepian, tidak aman, dan tertutup dari dunia luar

Nggak semua orang berani cerita. Bahkan banyak yang memilih diam bertahun-tahun. Bukan karena mereka kuat, tapi karena takut. Takut nggak dipercaya, takut disalahkan, atau bahkan takut sama orang yang seharusnya jadi tempat paling aman.

Yang bikin miris, kejadian kayak gini sering banget terjadi justru dari orang yang dikenal. Orang dekat. Orang yang harusnya dipercaya. Dan itu bikin semuanya jadi makin rumit. Mau cerita, tapi ke siapa?

Seiring waktu, kejadian itu mungkin udah lewat. Tapi rasanya? Nggak selalu ikut hilang. Kadang muncul dalam bentuk overthinking, rasa cemas yang tiba-tiba datang, susah percaya sama orang lain, atau bahkan ngerasa diri sendiri “nggak berharga”. Padahal, jelas banget itu bukan salah korban.

Yang lebih nyakitin lagi, kadang lingkungan sekitar nggak selalu ngerti. Ada yang bilang, “udah, lupain aja,” seolah itu hal yang gampang. Padahal, kalau bisa dilupain, mungkin dari dulu juga udah dilakukan.

Padahal yang dibutuhin itu bukan disuruh lupa, tapi didengerin, ditemenin, dan dikuatin tanpa dihakimi.

Aku nulis ini bukan buat menyudutkan siapa-siapa, tapi lebih ke pengen bilang kalau kamu pernah ngalamin hal kayak gini, kamu nggak sendirian. Perasaan kamu valid. Luka kamu nyata.

Dan pelan-pelan, semuanya bisa diproses. Nggak harus buru-buru sembuh. Nggak apa-apa kalau masih ngerasa berat. Yang penting, jangan terus dipendam sendirian.

Kalau bisa, coba cerita ke orang yang kamu percaya. Atau cari bantuan profesional. Itu bukan tanda lemah, justru itu langkah berani.

Karena pada akhirnya, setiap orang berhak untuk merasa aman. Dan setiap luka, sekecil apapun itu, pantas untuk dipedulikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image