Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image RAFA INDRA PARAMITA

Doom Scrolling dan Keresahan Jiwa: Apa Kata Ilmu dan Agama?

Pendidikan dan Literasi | 2026-04-10 14:06:13

Pernahkah kamu membuka Instagram hanya untuk sebentar, lalu tiba-tiba dua jam sudah berlalu? Atau scrolling TikTok hingga larut malam tanpa tujuan jelas, kemudian merasa lelah dan hampa setelahnya? Jika iya, kamu sedang mengalami apa yang para psikolog sebut sebagai doom scrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten digital secara terus-menerus, khususnya konten negatif atau tidak produktif, tanpa bisa berhenti.

Fenomena ini terdengar sepele. Toh, "cuma main HP", bukan? Tapi data berbicara lain. Survei yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan rata-rata orang menghabiskan lebih dari empat jam per hari di media sosial. Di kalangan remaja dan mahasiswa, angkanya bisa lebih tinggi (Twenge & Campbell, 2019). Yang lebih mengkhawatirkan, riset-riset terkini mengaitkan doom scrolling dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan perasaan tidak berarti.

Di sinilah pembahasan mengenai Psikologi Islam menjadi tepat dibahas. Jauh sebelum media sosial ditemukan, Islam telah meletakkan pondasi tentang bagaimana seorang Muslim mengelola waktu, perhatian, dan pikiran. Menariknya, apa yang diperintahkan Islam soal ini ternyata selaras apa yang direkomendasikan ilmu psikologi modern.

Kenapa Kita Susah Berhenti Scrolling?

Sebelum menyalahkan diri sendiri, ada baiknya kita pahami dulu mekanisme di balik kebiasaan ini. Aplikasi media sosial dirancang secara eksplisit untuk membuat penggunanya bertahan selama mungkin. Fitur infinite scroll, notifikasi, dan algoritma rekomendasi bekerja layaknya mesin slot di kasino, yaitu dengan memberikan hadiah yang tidak pasti dan tidak terjadwal, sehingga otak terus mencari stimulus selanjutnya (Alter, 2017).

Dari perspektif neurosains, setiap konten baru yang kita temukan memicu pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Masalahnya, dopamin bukan hanya soal kesenangan, tapi soal antisipasi terhadap sesuatu yang menyenangkan. Maka selama kita scroll, otak kita terus dalam mode "mungkin yang berikutnya lebih menarik" dan menajadi sebuah loop yang nyaris tidak memiliki titik berhenti (Lieberman & Long, 2018).

Penelitian Twenge et al. (2018) yang dipublikasikan dalam jurnal terindeks Scopus menemukan hubungan signifikan antara durasi penggunaan media sosial dan gejala depresi serta kecemasan, terutama pada kelompok usia muda. Mereka yang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial menunjukkan skor kesejahteraan psikologis yang lebih rendah secara konsisten dibandingkan mereka yang menggunakannya secara terbatas.

Islam dan Konsep Penggunaan Waktu: Jauh Lebih dari Sekadar Larangan

Islam tidak melarang teknologi atau hiburan secara membabi buta. Namun Islam memiliki konsep yang sangat kaya tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya mengelola perhatian dan waktunya. Setidaknya ada tiga prinsip utama yang relevan dengan fenomena doom scrolling.

Pertama, konsep waqt (waktu). Dalam Islam, waktu adalah amanah. Rasulullah SAW bersabda: "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang" (HR. Bukhari). Hadis ini mengisyaratkan bahwa waktu luang bukan kesempatan untuk berleha-leha tanpa arah, melainkan justru saat yang paling rawan untuk disalahgunakan. Doom scrolling adalah salah satu bentuk penyia-nyiaan waqt yang paling populer di era digital.

Kedua, konsep ghaflah (kelalaian hati). Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa ghaflahadalah kondisi di mana hati manusia menjadi tumpul dan tidak peka terhadap tujuan hidupnya. Doom scrolling secara psikologis memicu kondisi serupa, yaitu keadaan saat pikiran menjadi penuh dengan “kebisingan" informasi yang tidak bermakna, sehingga sulit untuk hadir secara penuh, baik dalam ibadah maupun dalam hubungan sosial nyata.

Ketiga, konsep qalb (hati) sebagai pusat kesadaran manusia. Psikologi Islam menempatkan qalb bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat kognisi, emosi, dan spiritualitas (Hasan, 2008). Ketika seseorang terus-menerus memberi makan qalb-nya dengan konten yang dangkal, sia-sia, atau bahkan meresahkan, maka kondisi qalb pun memburuk, dan ini dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan kualitas ibadah.

Apa Kata Riset Terkini tentang Efeknya pada Kesehatan Mental Muslim?

Penelitian Sa’diyah et al. (2022) yang diterbitkan dalam jurnal SINTA 2 mengkaji hubungan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan tingkat spiritual well-being pada mahasiswa Muslim Indonesia. Hasilnya cukup mengejutkan, yaitu semakin tinggi durasi scrolling tanpa tujuan, semakin rendah skor kesejahteraan spiritual responden. Para peneliti mengaitkan temuan ini dengan berkurangnya waktu untuk dzikir, refleksi diri, dan interaksi bermakna.

Senada dengan itu, Elhai et al. (2020) dalam kajian meta-analisisnya yang terindeks Scopus menemukan bahwa penggunaan smartphone yang problematik, termasuk doom scrolling berkorelasi kuat dengan kecemasan (r = 0.34) dan depresi (r = 0.30) secara lintas budaya. Studi ini memperkuat argumen bahwa fenomena ini bukan sekadar masalah kebiasaan personal, melainkan krisis kesehatan mental yang sistemik.

Dari sudut pandang Psikologi Islam, Khasanah et al. (2022) menyampaikan penggunaan media sosial berlebihan melalui kerangka nafs (jiwa). Ia berargumen bahwa doom scrolling adalah manifestasi dari nafs ammarah, yang menjadi tingkatan jiwa yang dikuasai oleh dorongan impulsif dan tidak mampu menahan diri yang mendapat fasilitas dari desain teknologi modern. Tantangannya adalah bagaimana mendorong jiwa naik ke level nafs muthmainnah, jiwa yang tenang dan terkendali.

Solusi Berbasis Nilai Islam: Lebih dari Hanya "Kurangi HP"

Solusi yang ditawarkan Psikologi Islam bukan sekadar anjuran teknis "batasi screen time dua jam sehari." Pendekatannya lebih holistik, menyentuh dimensi kognitif, emosional, dan spiritual sekaligus.

Latihan muraqabah, yaitu sebuah kesadaran penuh bahwa Allah selalu menyaksikan setiap tindakan kita secara fungsional menyerupai praktik mindfulness dalam psikologi modern. Bedanya, muraqabah memiliki dimensi transenden yang lebih kuat. Penelitian Auerbach et al. (2021) yang terindeks Scopus menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness secara signifikan mengurangi perilaku penggunaan smartphone yang kompulsif. Dalam konteks Islam, muraqabah bisa menjadi bentuk mindfulness yang lebih bermakna bagi umat Muslim.

Praktik muhasabah harian, yaitu dilakukan dengan menghitung dan mengevaluasi amal perbuatan di penghujung hari juga relevan. Salah satu pertanyaan evaluasi yang bisa diajukan adalah: "Apakah konten yang aku konsumsi hari ini meningkatkan atau menurunkan kualitas qalb-ku?" Pertanyaan sederhana ini, jika dibiasakan akan dapat membangun kesadaran kritis terhadap konsumsi digital.

Terakhir, membangun lingkungan sosial yang mendukung. Islam sangat menekankan konsep ukhuwah dan saling mengingatkan (QS. Al-Ashr: 3). Membentuk komunitas yang saling mengingatkan untuk bijak bermedia sosial, misalnya kelompok belajar, halaqah, atau lingkar teman yang punya komitmen digital sehat terbukti lebih efektif daripada berjuang sendirian melawan algoritma (Andreassen et al., 2020).

Sadar Scroll, Hidup Lebih Berkualitas

Doom scrolling perlu diatasi dengan aplikasi pembatas waktu. Kegiatan tersebut adalah cermin dari kondisi batin, jiwa yang haus akan ketenangan, pengakuan, dan makna, namun mencarinya di tempat yang salah. Islam dan Psikologi, memiliki titik temu yang sama-sama menunjuk ke arah yang sama, yaitu bahwa kesehatan mental sejati lahir dari dalam, bukan dari layar mana pun yang kita pandangi. Jadi, lain kali jari kita mulai bergerak otomatis untuk membuka aplikasi tanpa tujuan, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: "Apa yang sebenarnya aku cari?"Kesadaran ini dapat menjadi langkah awal menuju pengendalian diri dan kebebasan digital.

Daftar Pustaka

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image