Rekomendasi Ko-Kurikuler Berbasis Budaya: Kreasi Wayang di SD Muhammadiyah Nitikan
Sinau | 2026-04-23 09:24:48Yogyakarta – Penguatan pendidikan karakter dan kreativitas siswa dapat dilakukan melalui kegiatan ko-kurikuler berbasis budaya lokal. Salah satu praktik baik datang dari SD Muhammadiyah Nitikan yang sukses mengimplementasikan program pembuatan wayang sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ko-kurikuler.
Program ini dirancang secara terpadu lintas mata pelajaran, mulai dari Bahasa Jawa, Seni Budaya dan Prakarya (SBDP), hingga Bahasa Indonesia. Kegiatan diawali dengan pengenalan budaya wayang, khususnya tokoh-tokoh Pandawa dalam bahasa Jawa, sehingga siswa tidak hanya mengenal karakter, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Selanjutnya, siswa melakukan aktivitas mewarnai tokoh wayang sebagai bagian dari pembelajaran SBDP. Kegiatan ini melatih ketelitian, kreativitas, serta pemahaman visual terhadap karakter wayang. Setelah itu, siswa dibagi dalam kelompok untuk menyusun cerita sederhana menggunakan Bahasa Indonesia. Proses ini mendorong kemampuan literasi, imajinasi, serta kerja sama tim.
Tahap berikutnya menjadi yang paling menarik, yaitu pembuatan wayang modern berbahan dasar kardus. Dalam kegiatan ini, sekolah bekerja sama dengan Wayang Merdeka untuk memberikan pendampingan kreatif kepada siswa. Hasilnya, berbagai karya wayang modern dengan bentuk unik dan inovatif berhasil dibuat oleh siswa.
Koordinator kegiatan, Ihsan Hermawan, menyampaikan bahwa program ini dirancang agar siswa dapat mengalami proses belajar yang utuh, dari mengenal hingga menampilkan karya. “Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu tentang wayang, tetapi juga mampu berkarya dan percaya diri menampilkan hasil kreasinya,” ujarnya.
Puncak kegiatan ditandai dengan penampilan wayang oleh siswa berdasarkan cerita yang telah mereka susun. Setiap kelompok tampil dengan gaya masing-masing, menghadirkan pertunjukan sederhana namun sarat makna dan keceriaan.
Kepala sekolah, Soleh Santoso, mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk inovasi pembelajaran berbasis budaya. Ia menegaskan bahwa pendekatan seperti ini penting untuk menanamkan rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa sejak usia dini.
Sementara itu, guru SBDP, Haikal Al Amna, menambahkan bahwa kegiatan kreatif seperti ini mampu menggali potensi seni siswa sekaligus mengembangkan keterampilan motorik dan estetika mereka.
Melalui program ini, SD Muhammadiyah Nitikan memberikan rekomendasi nyata bagi sekolah lain untuk mengembangkan kegiatan ko-kurikuler berbasis kebudayaan lokal. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan kolaboratif, pembelajaran tidak hanya menjadi lebih bermakna, tetapi juga berkontribusi dalam melestarikan budaya Indonesia di kalangan generasi muda. [IH]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
