Tuan Rumah yang Tertinggal: Mengapa Warga Lokal Serang Kalah Bersaing?
Info Terkini | 2026-05-17 10:37:09
Serang adalah ibu kota Provinsi Banten yang terkenal sebagai pusat peradaban kerajaan Banten lama, kota santri, serta jalur penghubung penting wilayah Jawa – Sumatera. Selain itu, kota ini memiliki peran penting sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, serta kegiatan ekonomi di wilayah Banten. Serang memiliki beberapa destinasi wisata yang menarik, terutama wisata sejarah, religi, dan ruang publik kota. Salah satu kawasan wisata paling terkenal adalah Banten Lama, yang merupakan pusat peninggalan Kesultanan Banten.
Di kawasan ini terdapat Masjid Agung Banten Lama yang menjadi ikon religi sekaligus sejarah, serta situs-situs bersejarah seperti Keraton Surosowan dan Benteng Speelwijk yang menunjukkan kejayaan masa lampau Kesultanan Banten. Selain wisata sejarah dan ruang publik, Serang juga memiliki daya tarik dari sisi kuliner. Berbagai makanan khas seperti rabeg, sate bandeng, dan nasi sumsum menjadi bagian dari pengalaman wisata yang tidak boleh dilewatkan. Kuliner ini mencerminkan kekayaan budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini.
Secara geografis, Serang berada di jalur strategis yang menghubungkan Jakarta dengan daerah - daerah di ujung barat Pulau Jawa. Posisi ini membuat Serang berkembang sebagai kota transit dan pusat aktivitas perdagangan. Kota Serang terus berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi di Provinsi Banten. Pertumbuhan industri, perdagangan, dan jasa membuka banyak peluang kerja baru.
Namun di tengah perkembangan tersebut, muncul anggapan bahwa warga pendatang justru lebih mendominasi berbagai sektor dibandingkan masyarakat lokal. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa warga lokal sering dianggap kalah bersaing di daerahnya sendiri? Salah satu penyebab utama adalah perbedaan kualitas sumber daya manusia. Banyak pendatang datang ke Kota Serang dengan bekal pendidikan, keterampilan, dan pengalaman kerja yang lebih siap menghadapi persaingan.
Mereka merantau dengan tujuan ekonomi sehingga memiliki motivasi tinggi untuk bekerja keras dan beradaptasi. Sementara itu, sebagian warga lokal masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, pelatihan kerja, dan penguasaan teknologi. Selain itu, budaya kerja juga menjadi faktor penting, dan pendatang umumnya memiliki mental kompetitif karena mereka berada di lingkungan baru yang menuntut perjuangan lebih besar untuk bertahan hidup. Mereka cenderung berani mengambil risiko, bekerja di berbagai bidang, dan membangun relasi sosial secara luas.
Sebaliknya, sebagian masyarakat lokal masih terjebak dalam pola pikir zona nyaman sehingga kurang agresif dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang ada. Faktor lain adalah minimnya kesiapan menghadapi perubahan ekonomi modern. Perkembangan dunia kerja saat ini menuntut kemampuan komunikasi, kreativitas, dan penguasaan digital. Banyak perusahaan dan usaha di kawasan tersebut merekrut tenaga kerja dari luar daerah karena dinilai lebih siap secara keterampilan teknis, disiplin kerja, dan pengalaman.
Di tengah perkembangan kota, banyak warga lokal justru merasa semakin sulit bersaing. Lapangan kerja semakin kompetitif, sementara kemampuan dan kesiapan sumber daya manusia masih belum merata. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat lokal yang hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi yang nyata dalam struktur tenaga kerja, di mana sebagian tenaga kerja lokal masih berada pada sektor informal seperti perdagangan kecil, buruh harian, dan usaha berskala mikro.
Sementara itu, sebagian pendatang yang datang ke Serang umumnya telah memiliki bekal keterampilan, pengalaman kerja, dan mental kerja yang lebih kompetitif, sehingga lebih cepat terserap ke dalam struktur ekonomi formal.
Berdasarkan data BPS dan laporan resmi, provinsi Banten termasuk daerah dengan tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Banten berada di posisi 4 besar nasional, dengan angka sekitar 6,6% dan jumlah pengangguran lebih dari 400 ribu orang. Wilayah sekitar kota Serang, yaitu kabupaten Serang, memiliki tingkat pengangguran terbuka hingga sekitar 9,18%, tertinggi di provinsi Banten.
Data BPS juga menunjukkan bahwa pengangguran paling banyak berasal dari lulusan SMA/SMK, penyebabnya adalah kesenjangan keterampilan dengan kebutuhan industri. Bukan hanya jumlah pekerjaan yang terbatas, tetapi kualitas SDM lokal belum sepenuhnya sesuai kebutuhan pasar kerja modern. Ada kesenjangan pendidikan dan keterampilan pasar kerja lebih banyak menyerap tenaga kerja siap pakai.
Fenomena ini juga tidak terlepas dari faktor pendidikan dan kesiapan sumber daya manusia. Data menunjukkan bahwa lulusan SMA/SMK masih mendominasi angka pengangguran, yang mengindikasikan adanya kesenjangan antara output pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Kurangnya akses pelatihan vokasi yang relevan serta terbatasnya penguasaan keterampilan digital dan teknis membuat sebagian masyarakat lokal belum sepenuhnya mampu bersaing di pasar kerja yang semakin modern dan terbuka.
Untuk mengurangi kesenjangan daya saing antara warga lokal dan pendatang di Serang, diperlukan kebijakan yang relevan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah perlu memperkuat program pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri melalui pendidikan vokasi, kursus keterampilan digital, serta pelatihan kewirausahaan. Kerja sama antara sekolah, kampus, dan dunia industri harus diperkuat agar lulusan lokal lebih siap memasuki pasar kerja.
Selain itu, Perbaikan attitude dan gengsi pada Generasi Z menjadi hal penting dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan sosial yang semakin kompetitif. Sikap attitude yang baik ditandai dengan tanggung jawab, etos kerja, dan kemampuan beradaptasi di berbagai situasi. Gen Z perlu memahami bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan digital atau pendidikan, tetapi juga oleh sikap profesional dalam bekerja, seperti tepat waktu, mampu bekerja sama, dan terbuka terhadap kritik.
Sementara itu, gengsi yang berlebihan sering menjadi penghambat utama. Banyak anak muda enggan mengambil peluang kecil karena merasa tidak sesuai dengan ekspektasi sosial atau citra diri. Padahal, memulai dari bawah justru menjadi fondasi penting untuk membangun pengalaman dan kemampuan yang lebih kuat di masa depan.
Dengan demikian, kondisi ini tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan “kalah bersaing” semata antara warga lokal dan pendatang. Hal ini merupakan refleksi dari struktur ekonomi dan kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya mampu menciptakan pemerataan kualitas sumber daya manusia. Tanpa intervensi serius melalui peningkatan pendidikan, pelatihan kerja, dan penguatan link and match antara dunia pendidikan dan industri, ketimpangan ini berpotensi terus berlanjut. Jika masyarakat lokal mampu meningkatkan kompetensi dan pemerintah hadir dengan kebijakan yang tepat, maka warga Serang tidak akan lagi menjadi “penonton” di kotanya sendiri.
Menurut saya, perubahan mindset juga diperlukan agar Gen Z tidak hanya fokus pada hasil instan, tetapi juga bisa menghargai proses menuju keberhasilan. Dengan memperbaiki attitude dan mengurangi gengsi, Generasi Z dapat menjadi generasi yang lebih siap bersaing, adaptif, dan mampu berkontribusi secara nyata dalam dunia kerja maupun kehidupan sosial.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
