Demiliterisasi: Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza
Politik | 2026-04-20 11:30:35Demiliterisasi: Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza
Oleh: Dhevy Hakim
Situasi di Palestina makin hari makin terlihat jelas siapa lawan dan siapa kawan. Baru-baru ini, Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang digawangi oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat mendesak Hamas supaya segera merampungkan rencana "demiliterisasi" atau pelucutan senjata di Jalur Gaza. Mereka menekan supaya Hamas menyerahkan hampir seluruh persenjataannya dan membuka peta jaringan terowongan.
Tapi tanggapan Hamas sangat tegas dan jelas: TOLAK. Gerakan perlawanan ini menegaskan bahwa apa yang dipaksakan itu sangat berbahaya dan mengancam eksistensi mereka. Abu Ubaida, juru bicara Brigade Al-Qassam, bilang gamblang: "Apa yang tidak bisa direbut dengan kekuatan, tidak akan bisa didapat lewat meja perundingan."
Sikap Hamas ini memang sangat masuk akal. Soalnya, meskipun sudah ada perjanjian gencatan senjata, kenyataannya apa? Zionis Israel nggak berhenti menebar maut. Baru bulan ini saja, serangan udara terus terjadi. Di dekat sekolah yang jadi tempat pengungsian, di kamp pengungsi Bureij, di mana-mana ada korban jiwa. Warga sipil tewas, anak-anak terluka, padahal katanya sudah ada kesepakatan damai. Hamas pun terus mendesak dunia internasional supaya bertindak, karena perjanjian di atas kertas nggak ada artinya kalau pelanggaran terus terjadi dan Zionis dibiarkan berbuat sesuka hati.
BoP Itu Bukan Penengah, Tapi Jebakan!
Kalau kita lihat lebih dalam, BoP ini sebenarnya bukan mediator yang netral dan adil lho. Itu cuma alat baru dari kapitalisme global yang jelas-jelas membela kepentingan Barat dan rezim Zionis. Selama ini kan sudah terbukti, AS dan sekutunya selalu cari cara buat melemahkan perlawanan rakyat Palestina.
Permintaan pelucutan senjata itu sebenarnya adalah upaya licik buat membungkam jihad dan perlawanan. Mereka mau menghentikan semangat juang umat Islam yang berani melawan penjajah. Ini bukan soal perdamaian, tapi soal bagaimana membuat Gaza jadi lemah, tak berdaya, dan gampang ditindas kapan saja mereka mau.
Yang lebih bahaya lagi, ini juga bagian dari serangan pemikiran atau brainwashing. Mereka mau mengubah cara pandang kita supaya berpikir bahwa: "Perlawanan itu jahat, perlawanan itu ancaman, dan menyerah itu jalan damai." Padahal logikanya aja aneh, masa penjahat yang menduduki tanah orang dibiarkan bawa senjata lengkap, tapi yang membela tanah airnya sendiri disuruh buang senjata? Itu namanya bukan damai, itu namanya menyerahkan leher ke talimu.
Solusinya Bukan Diplomasi Palsu, Tapi Khilafah!
Masalah Gaza dan Palestina ini nggak akan pernah selesai kalau kita masih main-main dengan meja perundingan yang penuh tipu daya dan dikendalikan oleh musuh. Diplomasi yang dijajakan Barat itu ujung-ujungnya cuma bikin umat makin rugi, tanah makin sempit, dan hak makin hilang.
Solusi yang benar dan satu-satunya jalan keluar adalah tegaknya kembali Khilafah Islamiyah.
Kenapa Khilafah? Karena Palestina adalah wilayah Islam yang wajib dibebaskan, bukan tanah sengketa yang bisa ditawar-tawar. Pembebasannya bukan lewat negosiasi manis, tapi lewat kekuatan militer yang nyata.
Kalau Khilafah sudah berdiri, negara Islam ini akan menggerakkan kekuatan militer dari seluruh negeri-negeri Muslim bersatu. Tidak lagi berjuang sendiri-sendiri seperti sekarang, tapi satu komando, satu tujuan: mengusir habis penjajah Zionis dari setiap jengkal bumi Palestina.
Di bawah naungan Khilafah, Khalifah akan berperan sebagai Raa'in (pemimpin yang mengatur) dan Junnah (perisai atau pelindung) yang sesungguhnya. Nyawa, harta, dan kehormatan kaum Muslim akan dilindungi sepenuhnya. Tidak akan ada lagi warga yang dibunuh di depan mata sendiri tanpa pertolongan, tidak akan ada lagi blokade yang menyengsarakan, karena negara akan hadir penuh kekuatan untuk membela rakyatnya.
Umat Wajib Sadar dan Bergerak!
Maka dari itu, tugas kita sekarang bukan cuma sekadar ikut berkomentar atau marah-marah di media sosial. Kita punya kewajiban besar untuk menyadarkan sesama umat lewat dakwah ideologis. Kita harus jelaskan bahwa solusi masalah ini bukan ada di tangan PBB, bukan di tangan AS, dan bukan di tangan BoP, tapi ada di tangan kita sendiri dengan menegakkan kembali sistem Islam, yaitu Khilafah.
Selama kita masih berharap pada sistem buatan manusia yang anti-Islam, selama itu pula penderitaan di Gaza akan terus berlanjut. Saatnya berhenti percaya pada janji manis perdamaian palsu, dan mulai berjuang untuk sistem yang benar-benar bisa membawa kemenangan dan keadilan untuk seluruh umat Islam.
Wallahu a'lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
